Sore itu di kawasan Plaza Senayan. Dari balik kaca kafe di lantai bawah, lampu-lampu kendaraan memantul seperti garis emas yang bergerak pelan di aspal basah. Saya duduk sendiri di sudut ruangan sambil membuka terminal market di tablet kecil.
Tak lama kemudian Tika datang. Dia memakai blazer abu gelap dengan rambut diikat sederhana. Dia selalu terlihat tenang, seperti tidak pernah panik oleh angka ataupun berita ekonomi.
“ Lama nunggu? ” tanyanya sambil duduk di depan saya.
Saya geleng kepala. Pelayan datang. Ika pesan americano tanpa gula. Saya tetap dengan kopi tubruk hitam.
“ Ale , gue mau tanya sesuatu,” katanya sambil membuka iPad.
“ Tanya aja.”
“ Ini SRBI sebenarnya apa sih?
Saya senyum kecil. “ Jadi sekarang lue main treasury juga?”
“ Bukan main,” katanya tertawa kecil. “ Ada teman gua yang kerja di bank ngomongi soal SRBI. Gua mau tanya, takut dibilang bego. Pria kan begitu senang banget merendahkan teman perempuannya. Kecuali Ale.”
Saya seruput kopi pelan.
“ SRBI itu sebenarnya instrumen moneter BI. Underlying-nya SBN yang dibeli BI dari pasar sekunder.” kata saya.
Ika mengerutkan kening. “ Maksudnya?” Wajah seperti ini yang kadang membuat pria tidak sabar terhadap wanita.
Saya tarik tablet mendekat. Tapi dia lebih mendekat. Duh susu empuk nempel di bahu gua.
“ Nih gampangnya. “ kata saya gunakan aplikasi coretan pensil pada Ipad “ Pemerintah terbitkan SBN. Sebagian dibeli market. Sebagian nanti bisa dibeli lagi sama BI di pasar sekunder. Nah SBN yang dipegang BI itu dijadikan underlying untuk menerbitkan SRBI.”
“ Jadi bukan obligasi pemerintah baru?”
“ Bukan. Ini instrumen BI.”
Ika mengangguk pelan. “ Tapi kenapa asing suka?”
Saya tersenyum tipis. “ Karena yield-nya menarik.”
“ Lebih tinggi dari SBN?” Tanya ika lagi.
“ Untuk tenor tertentu, iya. Ditambah settlement-nya sudah nyaman buat foreign institution.” Jawab saya.
“ Maksudnya?”
“ Custody dan settlement global.” jawab saya. “ Mereka bisa masuk lewat custodian internasional seperti BNY Mellon. Walau denominasi rupiah, infrastrukturnya dibuat familiar buat offshore investor.”
Ika diam beberapa detik. “ Jadi ini sebenarnya carry trade?”
Saya tunjuk ke arahnya sambil tertawa kecil. “ Nah. Akhirnya otak lu nyala juga.”
Dia ikut tertawa tabok lembut bahu saya. “ Ale, …” malu dia saya bilang otaknya nyala.
“ Jadi asing masuk, beli SRBI, dapat yield tinggi, sambil berharap rupiah stabil?” Kataya menyimpulkan.
“ Exactly.”
“ Kalau rupiah menguat?”
“ Dapat double. Yield dapat. FX gain juga dapat.”
“ Kalau rupiah jeblok?”
“ Ya kabur.” Jawab saya terseyum.
Ika langsung diam..
“ Jadi sebenarnya ini bagus atau bahaya?” tanyanya pelan.
Saya bersandar di kursi. “ Dua-duanya.”
“ Kok bisa?”
“ Dalam jangka pendek bagus buat stabilisasi kurs. BI bisa tarik inflow dolar tanpa naikkan suku bunga terlalu agresif.” kata saya “ Tapi kalau terlalu bergantung sama hot money, struktur market jadi rapuh.” Sambung saya.
“ Karena uangnya bisa keluar cepat?”
Saya mengangguk. “ Dan makin tinggi yield SRBI, makin berat efek sampingnya.”
“ Seperti?”
“ Perbankan lebih suka parkir dana di instrumen BI dibanding kredit ke sektor riil.”
“ Crowding out…”
“ Yup.”
Ika memandang saya cukup lama. “ Jadi sebenarnya negara lagi beli waktu seperti orang bokek berusaha tampak kaya?
Saya tersenyum kecil sambil melihat layar market yang terus bergerak.
“ Dan kalau market berhenti percaya?” tanyanya lirih.
Saya seruput kopi yang mulai dingin. Ogah jawab. Karena dia udah pakai perasaan dan paranoid. Gua malah senang begini Biar bisa cuan terus. Rezim engga akan jatuh . Ada 200 juta orang pasrah jadi blangsat, bahkan mati dalam kelaparan. Yang penting dapat sorga. Ada banyak yang hidup dari ekosistem kekuasaan rente. Tidak lebih 100 orang seperti Rocky Gerung dan Roy Suryo. Abaikan saja.