Harga beras naik.
Dulu kalau BULOG lakukan operasi pasar, harga langsung jatuh. Bahkan baru diancam saja oleh pemerintah, udah terkoreksi harga di pasar. Bulog dulu benar benar ditakuti pedagang. Sangat sakral perannya menjaga stabilitas harga pangan. Tetapi sekarang beda. Walau sekian juta ton beras di pasok Bulog ke pasar tetap saja harga tidak turun.
Lantas apa penyebabnya ? Tanya Florence.
“ Biang persolannya karena BuLog menerapkan sistem supply chain terstruktur. Yaitu lewat program stabilisasi pasokan dan harga pangan atau SPHP. Nah Bulog menyalurkan beras cadangan pemerintah atau CBP tidak lagnsung ke konsumen tetapi lewat berbagai rantai pasok, seperti pedagang di Pasar Induk, ritel modern, pasar tradisional, dan mitra Bulog. “ Kata saya.
“ Padahal dulu sistem ini dianggap korupsi. Karena melanggar idealisme BULOG dalam operasi pasar. Serangan BuLOG ke konsumen akhir itu bersifat Psywar kepada pedagang dan efektif menurunkan harga. “ Kata Florence. Dia cerita itu era Soeharto.
“ Ok lanjut ..”
“ Lewat skema SPHP jelas pedagang diuntungkan. Karena disparitas harga impor beras dengan harga lokal jauh sekali. Sekarang harga impor beras Putih pecah A1 super sekitar USD 489/ton atau Rp. 8000/kg di gudang. Sedikitnya pedagang bisa untung Rp. 2000 per kg dari harga eceran tertinggi (HET). Makanya harga retall diatas Rp. 15.000 untuk beras premium. “ Kata saya.
“ Dengan skema bisnis seperti itu tidak mungkin harga akan turun. Motif pedagang kan untung sebesar besarnya. Dan Tidak akan menguntungkan petani. Karena HPP Gabah dipatok pemerintah jauh lebih mahal dari impor “ kata florence. Saya senyum aja.
“ Jangan jangan krisis pangan dan El Nino itu hanya underlying untuk memungkinkan pemerintah bisa impor beras. Dan tentu para pedagang yang dekat presiden dan menteri pesta dari cuan dagang beras ini”Kata Florence. Saya diam saja..” Dan petani dikorbankan demi toke beras. “ Lanjut FLorence.
Saya tidak bisa menyalahkan sikap paranoid Florence. Tetapi tidak bisa juga menyalahkan pengusaha. Karena siapapun pengusaha yang punya akses kepada kekuasaan pasti akan bermain untuk dapatkan cuan sebanyak banyaknya. Dan lagi kalau rakyat engga mampu beli beras, ya makan tiwul. Kenapa harus makan beras. Dulu orang makan tiwul hidup juga kok.