8 persen

Arsip Terupdate
Tadi usai ajak teman pejabat makan siang di resto Jepang di Hotel Kawasan Thamrin. Saya ketemu dengan Wulan di lobi “ Ale, apakah pertumbuhan ekonomi 8% itu realistis atau illusi ? tanyanya. “ Teori nya, mesin pertumbuhan itu kan investasi. Kalau dari pemerintah ya lewat APBN. Tapi dengan ruang fiscal yang tergerus bayar utang hampir 1/3 APBN, engga mungkin ada ekspansi yang significant. Nah satu satunya harapan adalah dari FDI atau Foreign Direct investment. “ Kata saya. “ Berapa diperlukan dana investasi untuk mencapai Growth 8% itu.? “ Hanya USD 60 miliar FDI. Itu udah bisa leverage 10 kali lipat dari sumber dalam negeri. Kan baru 35% dari PDB kredit perbankan dalam negeri. Jadi cukup lah. “ “ Apa ada potensi FDI. ? tanya Wulan/ “ Besar banget potensinya. Ambil contoh ASEAN aja. Total FDI yang masuk ke ASEAN tahun 2023 sebesar lebih USD 200 miliar. Indonesia hanya dapat USD 21 milliar. Sementara Singapore mencapai USD 160 miliar. “ kata saya. “ Kan tinggal naikan dari USD 21 miliar jadi USD 60 miliar. Apalagi SDA kita besar.” Kata Wulan. “ Orang invest itu pertimbangan pertama adalah tingkat korupsi. Selagi index korupsi buruk ya mereka ogah invest. Tuh lihat Singapore. Mana punya mereka SDA. Tapi FDI di ASEAN, 8 kali dari Indonesia. Itu karena trust Singapore tinggi. Index Korupsi sangat bagus. “ Kata saya. “ Padahal soal perbaiki index korupsi kan mudah. Tinggal suruh tukang survey buat laporan survery seperti tingkat kepuasan kepada pemerintah yang 80%. “ Kata Wulan tersenyum dengan nada satire. “ Index korupsi atau ICP itu dibuat oleh Lembaga international. Menjadi acuan investor kelas dunia. Bukan kelas survey local yang bisa dibayar gopek tiaw. “ Kata saya. “ Ya kalau bicara memperbaiki index korupsi dalam arti sesungguhnya, itulah yang sulit. Apalagi sebagian besar cabinet Ex Jokowi yang katam gimana korup engga ketahuan. Tuh lihat aja. Masalah pagar bamboo berhari hari engga tahu siapa yang magar. Nah setelah presiden bertindak tegas, baru ketahuan. Itupun sangsinya hanya denda dan pemecatan pejabat BPN tingkat kabupaten.” Kata Wulan. “ Eh Dewi jadi Dirut Asset Management punya Koh Awi ya? “ Ya. Lu masih di Pabrik Kimia ? “ Masih. “ “ Ya udah ya. Saya jalan dulu. “ Karena afin sudah jemput di depan lobi. “ Ale, lue masih utang ke gua. Kapan udang dinner. ? teriak nya saat saya masuk kendaraan. Saya senyum aja. Mana ada janji pria gaek undang makan malam bisa tunai. Malu sama cucu yang sudah ABG. ----- Pertumbuhan 8%? Prabowo berambisi meningkatkan pertumbuhan jadi 8%. Nah untuk tahu apakah target nya itu realistis atau tidak. Atau worth it engga dengan keadaan rakyat yang mayoritas tidak sarjana seperti Udin pedagang sempak. Mari kita pahami dulu rumus PDB. PDB = C + I + G + (X - M). Dari rumus tersebut, kita bisa tahu PDB itu cermin dari total konsumsi (C) rumah tangga, investasi (I), pengeluaran pemerintah (G) dan surplus/minus ekspor impor ( X-M). Karena kita di Indonesia, hasil nya dalam satuan rupiah. Paham ya. Apa jadinya kalau konsumsi rumah tangga drop, karena PHK dan usaha informal lesu? Tentu harus ditingkatkan investasi. Apa jadi kalau investasi domestic melemah, karena likuiditas kering dan kredit bank seret?. Dan orang asing tidak mau invest karena ekonomi global sedang suram? Sulit kan untuk growth?. Oh kan ada Danantara!. Rencana Danantara mau sekuritisasi asset BUMN untuk biayai investasi pada PSN. Lah SBN aja net asset hanya Rp. 1000 triliun, Itupun udah disekuritisasi untuk SBN Syariah. Outstanding sekitar Rp. 1500 triliun. Engga ada lagi yang tersisa. Jadi Danantara itu hanya omong kosong bisa biayai PSN. Abaikan saja. Ok,lah, tapi masih ada ruang angkat pertumbuhan. Yaitu naikan belanja APBN. Lah belanja APBN dipotong, dialihkan ke Danantara. Engga ada jalan kan untuk growth. ? Terus gimana ? Ok genjot Ekspor. Malah tranksasi berjalan terus defisit akibat jasa dan bunga. Kan suram jadinya. Nah kalau pemerintah begitu yakin akan tumbuh 8%, itu hanya narasi. Mereka lupa pemilu udah usai, tetapi engga yakin sebagai pemenang. Makanya terus aja pakai narasi Pilpres. Capek engga dengarnya?