Pemerintah kembali berbicara tentang membangun International Financial Center. Mendengarnya, saya teringat seorang pemuda yang baru belajar mengayuh sepeda tetapi sudah sibuk memesan helm balap Formula 1. Masalahnya bukan pada mimpinya. Bermimpi memang gratis. Yang mahal adalah membangun prasyarat agar mimpi itu dipercaya.
Financial center internasional bukan sekadar kawasan dengan gedung tinggi, logo bank asing, atau papan nama berbahasa Inggris. Ia adalah ekosistem kepercayaan (ecosystem of trust). Modal utamanya bukan beton, melainkan kredibilitas. Bukan insentif pajak, melainkan kepastian hukum. Bukan kemegahan kawasan, melainkan integritas institusi.
Mengapa Singapura, Hong Kong, Zurich, atau Dubai berhasil? Karena investor global menitipkan uangnya kepada negara yang mereka yakini mampu menjaga hak kepemilikan, menegakkan kontrak, memberantas korupsi, dan menjaga stabilitas kebijakan. Dalam industri keuangan, uang selalu mencari tempat yang paling dipercaya, bukan tempat yang paling banyak berjanji.
Di sinilah persoalannya. Ketika indeks persepsi korupsi masih tertinggal dibanding banyak negara tetangga, daya saing global justru menurun, kepastian regulasi sering dipertanyakan, dan mata uang masih rentan terhadap gejolak eksternal, lalu kita berbicara menjadi pusat keuangan dunia. Rasanya seperti membangun menara dari atap, bukan dari fondasi.
Financial center bukan proyek administrasi. Ia adalah hasil akhir dari reformasi institusi yang panjang. Ia lahir setelah negara membangun reputasi selama puluhan tahun, bukan setelah menerbitkan satu peraturan. Paham ya sayang. Wake up !