Dulu tahun 80an. Saya punya bisnis mempromosikan produk lewat tontonan film gratis di kampung kampung. Film itu saya sewa dari produser tanpa diedarkan di bioskop, karena udah habis hak edarnya. Banyak peminat yang gunakan media layar tancap itu untuk promosi. Bayaran juga lumayan.
Dari untung itu, saya berani beli hak distribusi film untuk beberapa kota. Jualnya ke pengusaha bioskop. Pembagian 1/3 pajak pemda, 1/3 saya dan 1/3 bioskop. Karena itu saya sangat kuasai proses produksi dan product knowledge. Agar engga tekor saat hak distribusi dilelang oleh produser sebelum film dibuat. Tapi tahun 86 saya berhenti dari bisnis itu. Namun saya terus belajar tentang bisnis film.
***
Tahun 2014 saya pensiun dari Holding selama 5 tahun. Saya ketemu dengan Teresia, team Analisa fund structure PE dari Yuan Holding. Saya minta dia akuisisi perusahaan start up kreatif studio. Startup ini memiliki pipeline digital editing berbasis GPU rendering, early adoption virtual production, dan SDM kreatif dan teknis berstandar global. Namun mereka berdiri sendiri. Tanpa konten besar. Tanpa distribusi. Tanpa leverage. Saya tidak membeli bisnisnya sebagai “studio”. Saya mengakuisisinya sebagai mesin produksi konten.
Kemudian saya minta Teresia masuk melalui instrument, Credit Linked Note (CLN) dengan underlying exposure pada ekosistem Disney.Secara teknis, CLN adalah structured note yang menggabungkan obligasi dan credit derivative (biasanya CDS). Investor menerima yield tambahan dengan mengambil risiko kredit dari reference entity. Namun dalam konteks ini, posisi saya bukan sekadar yield. Struktur ini memberi saya access layer terhadap ekosistem konten, visibility terhadap monetization chain, dan konektivitas ke jaringan distribusi global.
Dengan memiliki creative studio sebagai mesin produksi sekaligus basis konten, saya kemudian membangun sebuah produk hedge fund yang saya sebut “Movie Fund”, dan menjualnya melalui pasar OTC, Rule 144A Securities Act. Yang menarik—bahkan cenderung paradoks—prospektus yang kami tawarkan pada tahap awal belum berbasis pada bisnis yang sepenuhnya eksisting. Narasinya dibangun di atas fenomena teknologi digital: pertumbuhan startup, transformasi industri film, serta potensi disrupsi melalui teknologi streaming.
Fokusnya bukan hanya pada produksi film, tetapi pada integrasi teknologi produksi digital, distribusi berbasis streaming, dan monetisasi konten secara global. Investor tetap masuk. Bukan karena narasi semata, tetapi karena kami sudah memiliki dua fondasi penting berupa creative studio sebagai mesin produksi, serta akses ke ekosistem konten global.
Dengan dana yang terkumpul dari penerbitan Movie Fund, melalui struktur private equity dan jaringan finansial yang kami bangun, kami mulai masuk ke pengembangan teknologi film berbasis streaming. Ini mengubah struktur industri. Produksi film tidak lagi bergantung pada lokasi fisik atau on-site shooting dalam skala besar.
Dengan teknologi virtual production dan digital studio, proses produksi menjadi terstandarisasi, kru bekerja dalam sistem seperti lini produksi, dan efisiensi meningkat secara signifikan. Kami kemudian membiayai ratusan startup studio kreatif, rumah produksi (PH), hingga streaming network providers. Setiap entitas ini menjadi bagian dari satu ekosistem yang saling terhubung. Ketika mereka bertumbuh dan sebagian berhasil masuk ke pasar modal, nilai yang tercipta berlipat ganda.
Dari sisi angka, pertumbuhannya eksponensial. Penerbitan awal movie fund tahun 2014, USD 5 miliar. Tahun 2024, telah melampaui USD 100 miliar. Yang menarik, seed capital untuk membangun struktur ini relatif kecil. Cash out awal untuk struktur fund: sekitar USD 500.000. Akuisisi creative studio: sekitar USD 3 juta. Bahkan dana awal tersebut bukan berasal dari saya, melainkan dari seorang artis film Hong Kong yang mempercayai ide ini. Saya berkomitmen untuk mengembalikan USD 15 juta dalam waktu satu tahun, dan komitmen itu terpenuhi melalui keberhasilan penerbitan awal Movie Fund. Namun dia marah saat saya bayar. Dia pikir saya jatuh cinta dengan dia. kan lucu.
Di balik semua itu, ada satu sosok penting: Teresia. Ia yang mengeksekusi keseluruhan struktur—dari desain instrumen hingga implementasi di lapangan. Seorang talenta luar biasa, yang saya temukan dari panti asuhan dan kemudian saya fasilitasi pendidikannya hingga akhirnya bergabung dalam tim sebagai spesialis financial engineering.
Hikmah. Kekuatan pikiran berbasis pengalaman yang didukung pengetahuan adalah asset terbesar anda dan power yang menjadi bagian perubahan peradaban