Bulan lalu, saya sedang nongkrong di sebuah kafe. Di meja sebelah, seorang perempuan sibuk memperhatikan pergerakan saham melalui aplikasi di iPad-nya. Beberapa grafik dan laporan keuangan terbuka bergantian di layar.
“Beli saham itu,” kata saya sambil menunjuk salah satu emiten.
Ia menoleh, terkejut. Mungkin tidak menyangka orang asing ikut memperhatikan layar tabletnya.
“Kenapa, Pak?”
“Perusahaan itu mampu menjaga laba.”
“Tapi emiten lain dalam industri yang sama sedang jatuh karena gejolak harga komoditas.”
“Coba periksa laba tiga tahun terakhir.”
Ia membuka data fundamental perusahaan tersebut, lalu memperbesar tabel pendapatan dan laba bersih.
“Benar, labanya terus tumbuh,” katanya. “Padahal tahun lalu harga komoditas turun.”
“Berarti keunggulannya bukan semata-mata siklus harga. Periksa arus kas operasional, utang, dan marginnya. Kalau tetap sehat, perusahaan itu mempunyai efisiensi atau kontrak penjualan yang tidak dimiliki pesaing.”
Ia mengangguk, kemudian memperlihatkan daftar saham lainnya.
“Kalau yang ini bagaimana?”
Saya menunjuk tiga saham. “Pertahankan yang tiga itu. Yang lainnya lepas.”
“Kenapa?”
“Sebagian fundamentalnya tidak cukup kuat. Pergerakan harganya lebih banyak ditopang likuiditas dari kelompok yang saling terhubung. Selama mereka masih menjaga harga, grafiknya terlihat tenang. Tetapi ketika likuiditas internal berhenti, kamu bisa terlambat keluar.”
Perempuan itu menatap saya lama, seolah berusaha menebak siapa saya. Saya tetap santai sambil mengisap rokok. Akhirnya ia mengangguk. Kembali ke mejanya.
***
Kemarin saya kembali datang ke kafe yang sama. Baru saja duduk, seorang perempuan menghampiri meja saya.
“Apa kabar, Pak?”
Saya memandangnya beberapa saat. “Siapa, ya?”
“Tempo hari Bapak membantu saya memilih saham. Analisis Bapak membuat saya untung.”
“Oh, begitu.”
Saya hanya tersenyum, lalu kembali membaca menu. Shasha yang duduk di hadapan saya memperhatikan perempuan itu. Karena ia masih berdiri di samping meja, Shasha bertanya, “Ada keperluan apa?”
Perempuan itu terlihat kikuk. “Boleh saya mengganggu sebentar?”
Shasha mengibaskan tangan dengan tenang. “Nanti akan dipanggil kalau Bapak ingin berbicara denganmu.”
Perempuan itu terdiam. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Saya menutup menu, lalu memandang Shasha.
“Jangan begitu.”
Shasha menoleh kepada saya.
“Dia datang dengan sopan. Persilakan duduk.”
Perempuan itu menarik kursi dengan ragu. Shasha tidak berkata apa-apa lagi.
“Saya bukan selalu benar,” kata saya kepada perempuan itu. “Kamu kebetulan untung karena analisismu sendiri juga benar. Jangan membeli saham hanya karena mengikuti ucapan orang asing di kafe.”
“Tapi pilihan Bapak semuanya naik.”
“Kenaikan harga tidak otomatis membuktikan sebuah keputusan benar. Bisa saja kita memperoleh keuntungan dari alasan yang keliru. Itu justru lebih berbahaya karena membuat kita percaya diri tanpa pengetahuan.”
Ia mengangguk.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?”
“Pelajari alasan mengapa kamu masuk, tentukan risiko yang sanggup ditanggung, dan putuskan kapan harus keluar. Pasar tidak pernah berutang keuntungan kepada siapa pun.”
Ia tersenyum. Kali ini bukan karena merasa menemukan orang yang dapat memberinya tebakan saham, melainkan karena mulai memahami bahwa keputusan tetap harus menjadi miliknya sendiri. Dia pamit kembali ke table -nya.
" Kapan kamu resmi direktur anak usaha GI? Tanya saya kepada shasha.
" Surat resmi dari Yuan akan keluar setelah laporan kwartal 3." jawab Shasha. " Saya sedih nanti kalau udah jadi direktur Gi, shasha engga bisa lagi ketemu bapak, temanin bapak makan, ke KTV dan ke cafe.."
Saya senyum aja.