Dalam dunia bisnis khusus pada M&A, ada istilah holy pig. Istilah ini hanya hidup di kalangan pemain hedge fund. Anda semua tahu. Babi itu kalau diternak. Makanya rakus. Dan cepat sekali gemuk. Manfaatnya engga ada kecuali untuk disantap. Kalau di hutan. Juga sama. Makan rakus. Dia tidak bisa lincah walau larinya kencang. Mudah dimangsa oleh predator. Karena males berjuang mempertahankan diri. Jadi paham ap aitu holy pig
Kalau dalam konteks korporat. Itu di istilahkan kepada perusahaan yang leverage tinggi tapi laba rendah. Kok lucu? Kenapa mudah dapatkan pinjaman. Padahal laba rendah. Investor atau kreditur tidak melihat kepada laba. Tetapi melihat dari cash flow. Secara bisnis perusahaan itu bagus. Market bagus. Resource bagus. Yang engga bagus hanya management dan SDM. Kalau diberi utang, ia akan terus menciptakan arus kas. Nah arus kas ini menguntungkan bagi bank.
Ya namanya holy pig, kan bego dan rakus. Dia tidak akan pernah menyadari kebodohannya. Bahwa kemudahan berhutang itu ada batasnya. Karena lambat laun akan sampai kepada ketergantungan. Kalau engga ngutang engga bisa bayar utang. Engga bisa pesta dan bergaya seperti lenggok pinggul babi yang gemesin.
Nah kalau leverage semakin tinggi. Oleh pemain hedge fund, para banker dan kreditur di lobi agar mengurangi arus utang. Otomatis Holy pig akan kelimpungan. Saat itulah pemain hedge fund menawarkan too good to be true lewat shark loan. Biasanya holy pig tidak pernah mikir Panjang. Maklum dalam benak holy pig pesta never ending. Uang bisa menyelesaikan masalah.
Lambat laun ketergantungan kepada shark loan berubah jadi proses hostile TO. Biasanya pemain hede fund tidak akuisisi dengan uang cash. Tetapi lewat LBO. Pihak bank dan kreditur yang pegang collateral di beri swap asset oleh pemain hedge fund. Aset pun bukan real tetapi sintetik ( structure fund).
Setelah selesai dia akuisisi, asset real berupa collateral itu di jual untuk dapatkan uang tunai. Ini disebut rasionalisasi. Nah dengan neraca ramping, otomatis biaya tetap berkurang.. Baya operasi jadi efisien. Tentu mudah dapatkan laba tinggi. Memang secara bisnis tidak ada yang salah. Yang salah adalah mindset dan management. Sehingga mudah masuk debt trap.
Dalam konteks negara juga sama. Ada negara yang punya potensi besar. SDA melimpah. SDM besar. Namun leverage nya tinggi sekali. Padahal rasio pendapatan pajak rendah terhadap PDB. Secara makro ekonomi tidak ada masalah. Makanya mudah aja ngutang. Yang masalah adalah mindset pemimpin dan elite nya brengsek dan bego. Biasanya kreditur atau investor strategis ada dibalik underwriter surat utang dan foreign loan. Mereka itu dengan mindset hedge fund player, memberikan syarat untuk kepentingan afiliasinya.
Para elite kekuasaan di pressure secara mental. Kalian buka IUP tambang. IUP yang sudah rusak serahkan ke ormas agar secara politik bisa redam kemarahan masyarakat. Jangan belanjakan uang untuk riset pertanian tetapi buka kran impor pangan. Kalian pakai uang utang untuk perkuat Cadev agar kurs menguat sehingga kalian bisa bayar utang. Jangan cabut insentif pajak bagi program hilirisasi, tetapi naikan PPN. Jangn masuk ke Indusri, cukup hilirisasi aja. Kalau harga harga naik jangan intervensi pasar. Tetapi beri bansos.
Negara tidak bisa berbuat banyak. Karena dia udah jadi holy pig. Hanya yakin kekuasaan bisa bertahan karena uang. Dan sumber uang adalah hutang. Kelak sampai pada batas tidak bisa lagi berhutang. Ya tinggalkan. Ekonomi akan chaos.
Setelah itu barulah aksi Srigala. Todong lewat skema SAP, special adjustment program. Semua aturan menguras sumber daya dibuat mudah dan di privatasi, agar bisa bayar utang. Itulah yang terjadi pada Venezuela. Negara penghasil migas terbesar dunia dan pernah berjaya sekian decade, kini jadi negara gagal tanpa hope. Bagitu juga dengan negara berkembang lainnya.
Terakhir dan pesan dari saya. Orang kuat bisa mengalahkan lawannya. Orang perkasa, menghancurkan lawannya. Sementara orang hipokrit mengekor kepada orang kuat dan perkasa. Namun orang cerdik menaklukan orang kuat dan perkasa , mempecundangi orang hipokrit. Nah, orang yang tercerahkan, ia menaklukan dirinya sendiri sehingga selalu menang berhadapan dengan orang kuat, perkasa, hipokrit maupun orang cerdik. Jadilah orang yang tercerahkan. Perkaya spiritual. Jangan rakus. Hormati sains dan keraslah kepada diri sendiri selama melewati proses " Demikian wajangan saya. Lebih kepada pencerahan.