Visi dan riset
Aling datang ke kantor saya di Hong Kong tahun 2010. Sebelum rapat, Aling lihat saya sholat di ruang khusus solat yang ada di kamar kerja saya. Jam 7 malam usai rapat saya kembali ke kamar kerja saya. Aling tersenyum. “ Kamu rapatnya hanya 15 menit. Efisien sekali.” Katanya. “ Engga penting ya rapatnya?
“ Mana ada rapat yang tidak penting. Apalagi dihadiri oleh CEO” Kata saya.
“ Kenapa cepat rapatnya ?
“ Setiap hari Devisi Business Development mengirim laporan penelitian lewat email dan databased ke seluruh unit usaha dan direksi. Memungkinkan direksi dan staf mendapatkan data dan informasi paling mutakhir. Jadi kalau ada rapat antar anak perusahaan, internal unit business, antar anak perusahaan dengan induk perusahaan, itu bisa berlangsung cepat. Karena data dan informasi terupdate, membuat kita lebih siap untuk mendiskusikan suatu topik untuk mendapatkan solusi, dan membangun ide bersama.
“ Ya juga sih. “ ALing mengangguk. “ Yang bikin debat kusir dan rapat bertele tele, itu karena lack knowledge and poor literate. Itupun karena kurangnya informasi ter update. “ Sambung Aling.
“ Bisnis soal akal sehat. Bisnis gagal pada tingkat mendekati 90% jika perasaan dominan. Tidak dapat dilakukan tanpa bukti kuat dan riset pasar. Apalagi sekedar follower. Ini soal mindset. Nah akal sehat itu harus didukung dengan literasi yang cukup dan penguasaan informasi yang luas. “ kata saya.
“Wah paham sekali.” Kata Aling tersenyum. “ Terus gimana kamu sampai terpikir perlunya penelitian, dan berani lagi berinvestasi pada Business Development. ?
“ Ya karena saya tidak terpelajar. Saya hanya tamatan SMA. Saya percaya sarjana itu sangat penting dan hebat untuk perubahan peradaban yang lebih baik. Engga mudah jadi sarjana. Lah saya aja gagal jadi sarjana. Makanya saya bangun Business Development divisi. Mereka para peneliti adalah lulusan terbaik universitas. Saya juga kontrak dengan pusat penelitian di kampus kampus kelas dunia. Mereka secara rutin mengirim laporan ke pada Divisi Business Development.”�
“ Berani banget kamu. Kan engga kecil investasinya?
�“ Business kan harus berani. Tetapi tentu didasarkan oleh visi yang kuat. Kalau tampa visi ya mana berani keluar uang besar untuk hasilnya hanya kertas berisi informasi dan data. “
“ Artinya kalau pemerintah tidak berani investasi dibidang riset, itu artinya memang pemerintah membangun tidak punya visi. Makanya gampang sekali kena Frank, Elon Musk, Masayoshi Son, US- IDFC, SWF Abudabi. Gampang dikerjain Singapore, China, Eropa. Semua rencana tidak berbasis penelitian dan tentu pelaksanaanya tidak efektif dan pasti korup. “ Kata Aling. Saya senyum aja.