Saya bertemu Dewi kemarin. “
Kamu kan sudah ikut pelatihan di Yuan Trading. Coba analisamu tentang rupiah,” tanya saya.
Dewi berpikir sejenak. “Kalau dari sudut trader, sederhana. Ini soal demand–supply valas. Dan saat ini, permintaan dolar terhadap rupiah lebih besar daripada pasokannya. Itu bukan opini, tapi tercermin dari struktur neraca eksternal.”
Ia membuka layar dan mulai menjelaskan.
“Per akhir 2025, aset luar negeri Indonesia sekitar USD558 miliar, sementara kewajiban mencapai USD831 miliar. Artinya PII kita negatif sekitar USD272 miliar. Dengan kata lain, kewajiban kita 1,5 kali lebih besar dari aset.”
Saya mengangguk.
“Dalam kondisi normal, itu tidak terasa,” lanjutnya. “Selama dana asing masuk, rupiah terlihat stabil. Tapi saat risk-off, struktur ini langsung jadi titik lemah. Karena kebutuhan dolar melonjak lebih cepat daripada kemampuan buffer kita.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan.
“Yang paling sensitif itu portofolio. Sekitar USD293 miliar. Ini hot money—bisa keluar cepat.”
“Buffer kita?” tanya saya.
“ Cadangan devisa sekitar USD152 miliar engga ada arti. Tidak Cukup untuk stabilisasi “
Ia lalu membuat simulasi sederhana.
“Kalau 10% saja dana portofolio keluar, itu sekitar USD29 miliar—hampir 20% cadangan devisa. Bahkan 5% saja sudah cukup terasa. Cukup embuât IDR jatuh ke Rp. 20.000/USD.
Saya mulai melihat arahnya.
“Dan jangan lupa,” lanjutnya, “utang luar negeri kita sekitar USD434 miliar. Memang mayoritas jangka panjang, tapi tetap menciptakan kebutuhan dolar. Karena sebagian besar dalam bentut surat utang. Marketable “
Ia menatap saya.
“Jadi pertanyaan nya bukan apakah ekonomi Indonesia kuat. Tapi sederhana: saat DXY naik, yield US naik, dan dana keluar dari emerging—apakah permintaan dolar di dalam negeri akan lebih besar dari supply?”
Saya diam.
Dewi menutup dengan kalimat yang singkat, tapi tajam, “ Rupiah stabil saat inflow datang. Tapi saat flow berbalik, dia jatuh lebih cepat. Selama PII masih negatif dan hot money besar, IDR itu sangat sensitif terhadap gejolak regional.”
Ia tersenyum tipis.
“Dan kalau ada shock global, waktunya tidak lama. Pasar bisa bergerak lebih cepat dari yang kita kira.” Katanya