Trump lewat aku sosial media nya mengkritik the Fed yang tidak menurunkan suku bunga. Memang janji kampanye Trumps adalah akan menurunkan suku bunga bagi peminjam. Chairman the Fed Jerome Powell bisa menerima sikap Trumps namun tetap focus kepada data. Tidak akan terpengaruh dengan politik Trumps. Mengapa?
Pertama. The Fed belum melihat rencana konkrit kebijakan Trumps yang terkait dengan proteksionisme market domestic lewat kenaikan tarif. Saat sekarang the Fed masih menunggu rencana tersebut akan dilaksanakan. Sementara pada saat sekarang tingkat inflasi sedang mengarah kepada target the fed yaitu 2%. Sudah mencapai titik keseimbangan sebenarnya.
Kedua. Aktivitas ekonomi AS terus berkembang dengan pesat. Tingkat pengangguran telah stabil pada level rendah dalam beberapa bulan terakhir, dan kondisi pasar tenaga kerja tetap solid. Sehingga target mencapai inflasi 2 % akan mudah dicapai. Tentu the Fed tidak ingin mengambil resiko dengan buru buru menurunkan suku bunga. Momentum perbaikan itu harus dijaga.
***
Ada tiga hal mendasar yang menggrogoti ekonomi AS selama beberapa tahun belakangan ini. Yaitu, Inflasi, monopoli, dan utang. Tiga hal itu terjadi karena mind corruption akibat begitu besarnya ketergantungan AS kepada korporat. Inflasi terjadi karena AS menyelesaikan krisis moneter tahun 2008 lewat pelonggaran quantitative. Sementara Krisis itu sendiri terjadi akibat lemahnya pengawasan pasar uang. Monopoli terjadi karena financialisasi PDB. Utang membesar karena politik populisme.
Melihat keadaan ekonomi AS sekarang tidak bisa dengan kacamata ekonomi semata. Ini soal idiologi kapitalisme VS populisme. Dari free market ke market regulated. Tidak ada solusi yang cepat mengatasinya. Karena bangun system kapitalisme di AS sudah berakar. Nah Trump membaca keadaan ini dengan baik. Dia tidak perlu ahli ekonomi duduk di ring 1 kekuasaannya. Yang dia perlukan adalah orang yang jago membangun persepsi pasar lewat berbagai issue, seperti Elon Musk dan yang punya Trust tinggi seperti Timothy Mellon*)
Issue proteksionisme pasar domestic oleh Trumps, yang langsung disambut rakyat dengan terpilihnya dia sebagai presiden. Sebenarnya mengarah kepada penolakan terhadap kesepakatan global yang merugikan korporat AS. Seperti Paris Agreement, ESG, Pajak global minimum bagi MNC. Maklum dengan adanya Paris agreement dan ESG terkait emisi karbon nol telah mengguncang korporat oil and gas, thermal coal. Belum lagi dengan adanya Pajak Global minimum sebagai mitigasi resiko imbalance economic gloIbal yang jelas merugikan MNC.
Kemudian issue sentiment anti China yang diawali dengan ancaman larangan Trumps terhadap platform social media China, kini berubah. Dari larangan menjadi aliansi. Tiktok platform milik China, justru ditawari bermitra dengan raksasa IT seperti Microsoft dan lainnya. Dan Trumps pura pura tidak tahu keok nya industry EV Amerika oleh China. Terakhir, tumbangnya saham tekhnologi di Wallstreet akibat hadirnya AI DeepSeek dari China. Secara tidak langsung Trumps sedang membuang toxin dari perekenomian AS yang selama ini menyerap begitu besar likuiditas keuangan, yang nilai tradable nya rendah.
Apabila issue ini sukses mengembalikan kedigdayaan korporat, berikutnya adalah memaksa The Fed untuk menurunkan suku bunga agar moneter longgar. Sekuritisasi sumber daya korporat punya jalan lebar untuk masuk ke pasar leverage lewat Bursa dan perbankan. Arus modal akan mengalir ke AS berkat dukungan likuiditas dari the Fed. Maklum kekuatan mesin ekonomi AS ada pada TNC dan TNC berkembang berkat inklusif keuangan.
AS bukanlah negara totalitarian. AS adalah negara demokrasi. Cara melakukan perubahan tidak dengan komando satu tangan seperti layaknya totalitarian. Tetapi lewat issue. Membangun persepsi baru agar mendapat dukungan dari publik. Issue ini di viralkan lewat social media. Menjadi kebenaran baru. Artinya, disaat cara konvensional mengatasi ekonomi tidak efektif ya lakukan lewat jargon proteksionisme. Rakyat banyak mudah terbuai dengan romantisme nasiolisme. Dan tidak peduli kalau yang membuainya adalah predator. ***
*). Nama Bank Of New York atau BONY tentu familiar bagi semua orang. Ya BONY adalah operator the Fed dalam mengendalikan moneter AS dan pergerakan pasar uang. Nah pemilik dari BONY adalah Bank Melon. Siapa itu? Bank Melon didirikan oleh Andrew Mellon. Dia adalah banker Yahudi yang legendaris. Nah cucunya adalah Timotius Mellon.
Saat Trumps mencalonkan diri sebagai Presiden AS, Timotius Mellon. menyatakan diri sebagai penyandang dana kampanye Trumps. Sumbangan dananya lebih besar daripada yang dikeluarkan oleh Elon Musk. Dalam catatan perjalanan bisnisnya. Mellon memang banyak tersangkut kasus perdata. Maklum dia pemain hedge fund yang piawai dan selalu lolos dari jeratan hukum. Nah kini Trumps jadi presiden. Tentu Timoti Mellon menjadi orang kepercayaannya.
-----
**Predator dibalik Trump**
9 April 2025
Secara ekonomi dan politik jelas sulit memahami sikap Donald Trump terhadap kebijakan Tarif resiprokal kepada negara mitra dagang AS. Mengapa? Secara ekonomi, kenaikan Tarif resiprokal itu merusak asset kemitraan yang sudah dibangun oleh AS sekian decade lewat dibentuknya WTO. Itu proses yang tidak mudah. Tanpa keterlibatan soft power kelembagaan seperti IMF dan world bank, hampir tidak mungkin AS bisa menggiring hampir semua negara tunduk dalam konsesus Washinton
Sekian decade AS menikmati pertumbuhan dan kemakmuran. Ekonomi AS efisien kala bertransformasi dari Industri low tech ke industry high-tech. Negara lain seperti Korea, Jepang, China, Taiwan dan lain lain, memanfaatkan transformasi ekonomi AS. Secara system kemitraan global terjadi. AS mengekspor produk high tech sementara mengimpor consumer goods dengan harga murah. Perbedaan nilai tambah produk High-tech dibandingkan consumer goods tentu jauh sekali.
Secara politik USD menjadi mata uang dunia. Pemerintah AS menggunakan USD sebagai alat geopolitik dan geostrategisnya untuk menentukan arah bandul ekonomi dunia. Ada istilah, kalau the fed batuk negara lain demam. Kalau the fed demam, negara lain stroke. Begitu perkasanya hegemoni AS secara politik dengan hanya menggunakan kekuasan system financialnya. Itu fakta yang tak terbantahkan. Tentu bukan berarti kesetiaan negara lain itu tanpa syarat. Itu karena system AS memang menjaga fairness dan transparan.
Nah pertanyaannya adalah mengapa Trump merendahkan martabat AS sebagai negara super power, pemenang perang dunia kedua dan negara tempat universitas terbaik di dunia? Dan mengapa banyak orang pintar dan anggota kongres Partai Republik mendukung agendanya, Make American great again. Apakah mereka kehilangan logika akademis dan politis untuk menghentikan kekonyolan Trump. Terakhir mengapa mereka mau saja diajak berjudi di meja rolet!
Sebagai orang yang akrab dengan dunia hedge fund. Menurut saya sikap Trump itu tidak aneh. Dia tidak penting salah atau benar. Tujuannya adalah create issue berskala global. Pusat perhatian orang banyak tertuju kepada tarif resiprokal. Padahal sebenarnya agenda Trump bukan soal tarif. Perhatikan, saat Trump umumkan tarif, Pasar modal di bursa utama di Eropa, AS dan Asia tumbang, dan kurs melemah. Kalau kurs melemah tentu surat utang negara jadi murah dan Yield naik.
Agenda Trump memang membuat murah surat utang. Dan memaksa the Fed menurunkan suku bunga. Nah kalau the fed turunkan suku bunga, itu sama saja dengan relaksasi moneter. Para trader akan pinjam uang untuk trading surat utang negara lain. Uang akan mengalir ke luar AS menjadi stimulus negara lain mengamankan cash flow nya. Kebayang, kan berapa besarnya profit yang didapat oleh Trader. Dan pada waktu bersaman ketergantungan negara lain kepada USD semakin besar. Ya American great again. Financial hegemony, artinya hegemoni dunia.
Sejak Trump mencalonkan diri sebagai Presiden dan terpilih 2017, Warren Buffett menjual portofolionya secara berlahan lahan. Sampai dengan tahun 2025 sudah mencapai US$334 miliar atau sekitar Rp5.529 triliun. Dia lebih memilih kumpulkan uang tunai daripada belanja saham. Mengapa ? dia sudah tahu siapa dibalik Donald Trump dan apa agenda mereka. Walau buffett tahu agenda itu tidak mudah. Namun dia tahu mereka serius dan mempersiapkannya sudah lama.
Tampilnya Trump di panggung US-1 berkat tiga orang billioner. Yaitu Ken Griffin dan Paul Singer, Timothy Mellon. Semua tahu bahwa Griffin dan Singer adalah pengelola hedge fund terkemuka di dunia. Kedua orang ini tidak sepi dari skandal. Sementara Mellon adalah pewaris dari Mellon Bank. Kita semua tahu bahwa Mellon Bank adalah pengelola The Fed khusus bank Custodian, tempat asset berupa surat utang negara manapun disimpan dan diperdagangkan lewat leverage.
Ken Griffin, Paul Singer dan Timothy Mellon adalah orang yang membesarkan Elon Musk. Walau kerajaan bisnis Musk tidak ada yang profitable, hanya future illusion namun berkat tiga orang itu, nilai sahamnya melambung di luar batas rasional. Keberadaan Elon Musk dalam kabinet Trump, hanya bertindak sebagai proxy dari tiga orang itu. Makanya sebelum tarif diumumkan Musk sudah mengatakan akan mundur setelah 130 hari menjabat. Saat itu misinya sudah selesai. Walau dalam pernyataannya Elon Musk berbeda pendapat soal kenaikan Tarif, itu hanya drama. Termasuk dia merasa dirugikan akibat Tesla jatuh di bursa.
Sudah 50 negara minta ketemu dengan Trump untuk berunding soal Tarif resiprokal, namun Trump meminta mereka menghapus non tariff barrier. Ini syarat yang tidak mudah diterima oleh negara lain. Karena menyangkut kedaulatan negara dalam mengelola kepentingan geostrategis dan geopolitiknya dalam perdagangan international. Kalau itu dihapus, ya sama saja dengan melucuti kedaulatan negara lain.
Artinya bagi Trump, tarif itu bukan big deal. Tujuanya memang melumpuhkan moneter negara dan pada waktu bersamaan mencengkramkan hegomoni dalam bidang ekonomi dan Politik. Kalau karena itu rakyat kelas menengah AS menjerit akibat harga consumer goods melambung. Produk petani menumpuk tidak dibeli China. Inflasi terkerek naik. Yield T-Bill naik. Apa peduli Trump. Dia bukan hanya ingin menguasai dunia, tetapi juga AS. Jauh diseberang benua ada Naga merah, China. Apa dikira China engga tahu agenda Trump? Apa semua elite AS bego semua. Kan engga. Entar liat aja, siapa yang jatuh. Trump atau China.