Satu waktu Esther datang ke Jakarta. Saat itu dia sudah chairman SIDC. Saya ajak makan malam bersama Aling. “ Bagaimana SIDC dan Yuan bisa berkembang cepat sekali. Saya hitung Ale bangun itu hanya 10 tahun. Kini berkembang menjadi holding dengan anak usaha lebih 400 tersebar di beberapa negara dan total asset lebih USD 1 triliun. “ tanya Aling. Saya senyum aja. Ogah jawab.
Esther menatap Aling. “ Saya kenal Ale, sejak tahun 90. Tentu bu ALing lebih dulu kenal Ale. Tetapi saya saksi selama Ale merintis bisnis di China yang berawal tahun 2002. “ kata Esther. Dia terdiam sebentar. Menatap Aling. Dan Aling menyimak.
“ Holding di bangunnya lewat M&A, dengan leverage rata rata 20 kali. Artinya setiap dia akuisisi senilai Rp. 100 juta. Dia keluar uang cash hanya 5%, sisanya 95 dari bank dan pasar uang. “
“ Wow ..” aling melolot. “ Kenapa bisa begitu ?
“ Karena dia berbisnis dengan membangun business model. Jadi akuisisi itu dilakukan untuk memperkuat bisnis model yang berbasis ekosistem. “
“ bagaimana sampai bank percaya dan pasar uang percaya membeli bond dia.?
“ Karena setiap program akuisisi didukung stake holder dan ekosistem financial. Contoh, SIDC punya industry Powder banana. Itu didukung industry makanan, dan pharmasi sebagai bagian dari ekosistem supply chain yang Ale bangun. Jadi market dia kunci, uang follow dia . “
“ Kenapa sampai stakeholder mau saja dukung?
“ Karena program aksi akuisisi itu tervalidasi, terutama product yang akan dihasilkan berkat riset, yang akan meningkatkan value perusahaan yang diakuisisi itu sehingga merger dengan industry pendukung sebagai stakeholder menjadi reliable.” Jawab Esther.
ALing terdiam seakan berpikir dan akhirnya dia menyimpulkan. “ Dan itu berlaku bagi semua unit business lain dibawah SIDC dan Yuan yang berbeda beda.” Aling mengangguk angguk.
“ tapi okelah..” kata Aling masih penasaran. “ Kenapa bisa terus tumbuh trust dari investor? Dan membuat SIDC dan Yuan berkembang pesat?
“ Itu karena dia menjamin transfaransi, system management yang berbasis meritokrasi, anti nepotisme. “ Jawab esther. “ sementara sejak tidak lagi aktif di manajemen, dia tidak pernah terima honor dari perusahaan. Bahkan tidak pernah gunakan fasilitas perusahaan untuk urusan personal nya “
“ Kok bisa ?
“ Kamu kenal Ale dalam imaginasi kamu sebagaimana seharusnya pengusaha, tapi kamu tidak pernah berpikir dari sisi Ale secara personal dari keluarga miskin dan tidak terpelajar. Dia orang kampung dan walau dia sudah berkeliling dunia, berteman dengan kalangan VVIP, namun dia tetap orang kampung yang tahu diri dan tahu berterimakasih. Makanya sampai kini hidupnya sederhana. Dan mamang dia nothing dibandingkan resource yang ada pada SIDC dan Yuan. “
“ Ya ..” aling berlinang airmata” Dari dulu gua pikir ale inferior karena sikap tahu dirinya itu. “ Suara aling lirih.
“ Bukan hanya kamu ling..” kata Esther. “ Saya juga berpikir sama terhadap Ale. Dan karena itu kita tidak bisa menepuk dada didepannya.”
Moral cerita :
Pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa besar kerajaan yang ia bangun, tetapi dari seberapa kecil egonya di hadapan kehidupan.
Leverage bisa membesarkan perusahaan. Uang bisa membeli kekuasaan. Tetapi hanya karakter yang membuat kepercayaan bertahan sangat lama. Karena orang yang benar-benar besar biasanya justru paling tahu diri, paling tahu berterima kasih, dan paling sadar bahwa semua yang ia pegang hanyalah titipan waktu.