Yen carry trade

Arsip Terupdate
Rebound? Hari ini IHSG maupun Rupiah kembali melorot. Banyak pengamat menyebut penyebabnya perang Timur Tengah dan kebijakan The Fed. Sebagai pelaku pasar, saya melihat persoalannya lebih mendasar: likuiditas. Karena pada akhirnya, yang menggerakkan pasar bukan sekadar berita, tetapi arus uang. Tidak ada trader besar yang benar-benar bermain menggunakan uang sendiri. Hampir seluruh aktivitas pasar modern dibangun di atas leverage yang tersedia dalam arsitektur moneter global. Ketika biaya leverage murah, pasar naik agresif. Tapi ketika skema pendanaan mulai mahal atau sulit diakses, mereka akan melepas posisi demi mendapatkan uang tunai dan mengurangi risiko. Apa pemicu utamanya sekarang? Yen. Yield obligasi Jepang kini naik ke sekitar 2,7%. Jika dihitung bersama biaya hedging, margin call, dan premi risiko derivatif, maka spread antara Yen dengan USD maupun mata uang utama lain mulai sangat tipis. Artinya, skema carry trade menjadi jauh lebih berisiko dibanding sebelumnya. Akibatnya, investor global mulai menjual obligasi, melepas saham, keluar dari komoditas dan menutup posisi leverage. Dan dana itu bukan pindah ke mata uang lokal emerging market, tetapi kembali ke Yen. Karena itu hari ini hampir seluruh indeks global mengalami tekanan. Jadi kalau masih ada yang berharap pasar saham Indonesia akan rebound “go to the moon” seperti era uang murah sebelumnya, atau Rupiah akan kembali menguat ke Rp16.000/USD dalam waktu dekat, menurut saya itu terlalu optimistis dan kemungkinan kena PHP. Mengapa? Karena mesin utama penggerak reli pasar selama satu dekade terakhir adalah likuiditas murah global. Dan sekarang uang sudah tidak murah lagi. Apalagi Indonesia memiliki Posisi Investasi Internasional (PII) yang masih negatif besar. Artinya stabilitas Rupiah sangat bergantung pada arus modal global. Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia terpaksa menjaga suku bunga tetap tinggi untuk mempertahankan stabilitas kurs. Tetapi di sisi lain, bunga tinggi justru memperlambat ekonomi domestik dan meningkatkan tekanan fiskal. Di situlah paradoksnya.