Bisnis ekonomi digital
Aling bertanya kepada saya. “ Ale, kenapa Yuan berinvestasi pada ecommerce logistic di China. Ikut dalam konsorsium F/O asia pacific bersama BT dan HW. Di Indonesia malah engga ada. Padahal pasar Indonesia besar” Saya senyum aja.
Ling, dalam bisnis konvensional, biaya terbesar biasanya berasal dari toko, gudang, atau tenaga kerja. Pada bisnis e-commerce, biaya terbesar justru berada pada infrastruktur digital yang tidak terlihat oleh konsumen. Server, cloud computing, payment gateway, keamanan siber, sistem anti-fraud, pusat data, integrasi API, data analytics, itu merupakan biaya yang terus meningkat seiring bertambahnya pengguna dan transaksi.
Indonesia memandang platform digital layaknya perusahaan perdagangan biasa. Visi pemerintah terbelakang. Akibatnya lahir berbagai kewajiban administratif, pelaporan berlapis, perizinan yang tumpang tindih, sertifikasi, hingga berbagai biaya kepatuhan yang tidak menghasilkan nilai tambah bagi konsumen maupun pelaku usaha. Regulasi sering kali fokus pada transaksi yang terlihat di permukaan, tetapi kurang memahami kompleksitas arsitektur teknologi yang menopang transaksi tersebut.
Padahal platform digital bukan sekadar toko online. Ia adalah kombinasi antara perusahaan teknologi, perusahaan data, perusahaan pembayaran, perusahaan logistik, dan perusahaan jaringan yang harus bekerja secara bersamaan selama 24 jam tanpa henti. Sedikit gangguan pada salah satu komponen dapat mengganggu keseluruhan ekosistem.
Saat pemerintah membuka izin platform digital, tidak ada rencana serius membangun infrastruktur digital. Sangat bergantung kepada Singapore. Belakangan terbukti memang benar. Banyak platform digital yang beroperasi di Indonesia menjalankan sebagian fungsi strategisnya dari Singapura, mulai dari pusat data regional, cloud services, payment processing, treasury management, hingga holding company yang mengendalikan operasi kawasan ASEAN. Akibatnya sebagian besar OPEX platform tidak berputar di dalam negeri, melainkan mengalir ke luar negeri.Artinya nilai tambah ada di luar negeri. Capital outflow terus terjadi.
Makanya kamu lihat Ling. Awalnya ecommerce di Indonesia tumbuh seperti cendawan di musi hujan. Namun akhirnya berguguran satu persatu. Mengapa ? semakin besar platform, biaya tidak selalu turun seperti yang dibayangkan banyak orang. Trafik yang meningkat membutuhkan kapasitas server yang lebih besar. Ancaman fraud meningkat. Kebutuhan keamanan siber meningkat. Data yang harus disimpan semakin besar. Tim engineering harus diperluas. Banyak biaya yang awalnya dianggap biaya tetap berubah menjadi biaya semi-variabel yang terus naik seiring pertumbuhan. Makanya sulit mendatangkan laba.
Rumit ya Ale, kata Aling.
Engga juga rumit. Ini hanya soal literasi. Buktinya China sukses. Yang harus dipahami, ekonomi digital tidak tumbuh karena slogan transformasi digital. Ia tumbuh ketika regulator memahami bagaimana bisnis digital menghasilkan uang, ketika infrastruktur menurunkan biaya transaksi, dan ketika lebih banyak nilai tambah dapat dipertahankan di dalam negeri.
Jika tidak, yang terjadi adalah paradoks. Negara memiliki pasar digital yang besar. Namun sebagian besar keuntungan ekonomi mengalir ke luar negeri, sementara platform lokal terus berjuang menghadapi biaya yang tinggi, regulasi yang kompleks, dan profitabilitas yang sulit dicapai. Dalam kondisi seperti itu, yang tumbang bukan hanya perusahaan e-commerce. Yang hilang adalah kesempatan membangun kedaulatan ekonomi digital yang sesungguhnya.