monetarism

Arsip Terupdate
Monetarism Nunggu panggilan untuk general Check up di Rumah Sakit, di sebelah saya ada wanita duduk sambil baca buku “ monetarism”. Saya tahu buku itu ditulis oleh Tim, teman saya di London. Saya tersenyum kepada wanita itu. “ Buku itu menarik untuk dibaca setidaknya kita paham esensi dari moneter.” Kata saya. Dia melirik ke saya dan balas senyum. “ Saya engga ngerti. Kenapa orang sebut Indonesia gelap. Padahal inflasi kita rendah sekitar 3% pertahun. “ Katanya. Saya senyum aja. “ Dalam teori moneter kan seharusnya tingkat suku bunga bank senteral itu sama dengan tingkat inflasi. Mengapa suku bunga BI diatas 5%. Tanyanya. “ Ya karena BI menetapkan suku bunga didepan kurva. Dengan spread antara inflasi dengan suku bunga sekitar 3%. “ kata saya. “ Mengapa ?. “Karena tugas BI bukan hanya menjaga inflasi tetapi juga menjaga stabilitas kurs. “ kata saya sekenanya. “ Mengapa ? “ Stabilitas kurs kan terkait dengan tingkat suku bunga eksternal seperti The Fed Rate. Kalau suku bunga BI dibawah suku bunga the Fed Rate, ya akan terjadi capital outflow. Orang kaya akan jual Rupiah dan Beli USD. Akibatnya kurs rupiah terdepresiasi” kata saya. “ Makanya BI harus tetapkan suku bunga diatas inflasi dan diatas suku bunga the fed. “ katanya. “ Mengapa ? “ Karena keseimbangan neraca eksternal kita memang negative. Itu tercermin dari data Posisi Investasi International. Setelah memasukan Cadangan devisa sebesar kurang lebih USD 150 miliar, kita masih mencatat defisit lebih dari USD 200 miliar. Jadi mudah sekali kurs rupiah terpengaruh kalau terjadi capital outflow.”Kata saya. “ Oh gitu. Dengan begitu besarnya defisit posisi investasi international . Apa yang dilakukan oleh BI menjaga cash flow ? “ BI kan punyat alat menjaga cash flow yaitu SRBI. Kalau terjadi capital out flow, ya BI jual SRBI. Biasanya semakin besar capital outflow, semakin besar Yield SRBI. Resiko makin besar. Itu juga mengindikasikan kepercayaan kepada Rupiah memburuk. Kata saya. “ Berapa yield SRBI sekarang? “ Diatas 6 - 7%. “ kata saya. “Oh paham saya. “ Katanya mengangguk. “ Artinya ini loh yang dimaksud Indonesia gelap” sambungnya. Saya diam saja. “ Pantas harga emas dalam negeri jauh diatas harga international. Ya wajar kalau orang berburu emas. “ Katanya lagi. Tak berapa lama suster mendekati saya. “ Pak Eri, mari pak..” kata suster dengan ramah. Saya ikut suster itu untuk general check up. Saya engga kaget kalau biaya general check up dari tahun ketahun terus naik, Sekarang udah diatas Rp. 10 juta. Bayangin setiap 3 bulan saya harus check up. Kalau engga bini marah. Bukan salah RS, tetapi kurs yang melemah, apalagi alat RS semua impor.