KEMBALI
Dashboard.
Geopolitik atas ideologi
Arsip Terupdate
Esther, Chairman SIDC, dan James, CEO SIDC, datang ke Jakarta pagi itu. Saya menemui mereka di kantor perwakilan SIDC di lantai atas sebuah gedung kaca di kawasan bisnis. Di luar jendela, Jakarta terlihat sibuk seperti biasa. Tetapi percakapan kami pagi itu jauh dari urusan bisnis biasa. Esther memandang saya dengan rasa ingin tahu. “ *Kenapa orang Arab begitu membenci Syiah?*” tanyanya. “ Padahal mereka sama-sama Muslim.” Saya meletakkan pena di meja. “ Narasi kebencian itu sudah lama dibangun oleh Arab Saudi,” kata saya pelan.” Argumennya sebenarnya sederhana. Dalam pandangan Wahabi–Salafi, legitimasi politik Islam modern banyak bertumpu pada konsep kekhalifahan sebagai otoritas keagamaan.” Saya berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “*Dalam doktrin Syiah, konsep itu tidak dianggap sebagai kewajiban teologis yang sah. Kepemimpinan agama berasal dari garis imamah, bukan dari konsensus politik kekhalifahan*.” Esther mengangguk pelan. “Karena itu bagi sebagian kalangan di Riyadh,” saya melanjutkan, “Syiah bukan sekadar perbedaan mazhab. Ia dipandang sebagai ancaman politik terhadap legitimasi otoritas keagamaan mereka.” James bersandar di kursinya. “Namun selama beberapa dekade rivalitas itu tetap terkendali,” katanya menambahkan. “Negara-negara Arab merasa cukup aman.” Ia tersenyum tipis. “ Karena ada satu pengawal jawara yang berdiri di belakang mereka.” Esther menatapnya. “ Amerika Serikat.” James mengangguk. “ Selama Amerika menjadi payung keamanan kawasan, stabilitas dinasti-dinasti Teluk terasa terjamin.” Ia berhenti sejenak. “Tetapi kenyamanan itu runtuh pada 14 September 2019.” Esther menoleh. James melanjutkan dengan nada lebih serius. “ Hari itu fasilitas minyak Saudi Aramco diserang drone dan rudal presisi. Abqaiq oil processing facility dan Khurais oil field dihantam secara simultan.” Ia mengangkat tangannya sedikit. “ Serangan itu diklaim oleh Houthi dari Yaman. Tetapi yang membuat Riyadh tersentak bukan hanya soal siapa pelakunya.” James menatap Esther. “ Yang membuat mereka marah adalah satu fakta sederhana.” Ia berhenti sejenak. “Drone murah mampu menembus sistem pertahanan udara yang dibangun puluhan tahun dengan teknologi Amerika yang sangat mahal.” Esther mengerutkan kening. “Lalu di mana payung keamanan yang selama ini dijanjikan Amerika?” James mengangkat bahu. “ Sejak peristiwa itu, Arab Saudi mulai membaca realitas geopolitik dengan lebih pragmatis.” Ia menatap saya sebentar sebelum melanjutkan. “ Mereka tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada Amerika untuk menjaga stabilitas kawasan.” James kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “ Momentum itu ditangkap dengan cepat oleh China. Pada 2023, Beijing berhasil mempertemukan Arab Saudi dan Iran dalam kesepakatan diplomatik yang memulihkan hubungan kedua negara.” Ia merinci dengan tenang. “Kedutaan besar dibuka kembali. Dialog keamanan regional dimulai. Ketegangan sektarian Sunni–Syiah yang selama puluhan tahun menjadi narasi konflik mulai mereda.” Esther menatap kami berdua. “Artinya rivalitas ideologis mulai diabaikan?” James mengangguk. “**Geopolitik jauh lebih penting daripada teologi**.” Ia menambahkan dengan tenang, “ Apalagi setelah serangan Amerika dan Israel terhadap Iran memicu balasan Iran ke pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk.” James berhenti sejenak. “Peristiwa itu justru memperkuat persepsi baru di kawasan. AS nothing dengan janjinya. Negara-negara Teluk tidak lagi ingin menjadi garis depan perang mengikuti kehendak Washington.” Esther memutar gelas kopinya perlahan. “Dan mereka juga tidak ingin Iran runtuh,” katanya. James mengangguk. “Karena jika Iran runtuh, kekacauan regional bisa jauh lebih berbahaya daripada konflik yang ada sekarang.” Ia menatap Esther. “Bagi negara-negara Teluk, posisi paling rasional hari ini adalah menjaga keseimbangan.” Ia merinci dengan tenang. “ Tidak memusuhi Iran. Tetapi juga tidak memutus hubungan dengan Amerika.” Esther tersenyum kecil. “ Dengan kata lain,” katanya, “stabilitas kawasan lebih aman jika konflik diselesaikan melalui diplomasi.” Ia berhenti sejenak. “Tanpa menjadikan Iran sebagai negara yang kalah perang. Dan tanpa membuat Amerika kehilangan muka.” Ia menatap keluar jendela. > “Di dunia yang semakin multipolar, keseimbangan sering kali jauh lebih berharga daripada kemenangan.” Saya tidak ikut berbicara lagi. Saya hanya membaca dokumen di iPad. Tiba-tiba Esther menoleh kepada James. “Waktu B masih menjadi CEO,” tanyanya, “bagaimana suasana rapat direksi?” Saya tetap menatap layar. Tetapi saya tahu percakapan itu tentang saya. James tersenyum kecil. “B tidak pernah mendominasi pembicaraan dalam rapat.” Esther terlihat tertarik. “Dia biasanya hanya bertanya singkat,” lanjut James. “ Setelah itu dia lebih banyak mendengar.” Saya tetap diam. “Kalau jawaban mulai melebar,” kata James sambil tertawa pelan, “wajahnya langsung berubah masam.” Esther mengangkat alis. “ Dia memang tidak suka retorika?” James menggeleng. “Tidak sama sekali.” Ia menjelaskan singkat. “Pertanyaan harus dijawab langsung. Singkat. Dengan data.” Esther menyandarkan punggungnya di kursi. “Lalu rapatnya efektif?” “Justru sangat efektif,” jawab James. “ Karena penguasaan detail strateginya sangat kuat. Dia sudah tahu arah solusi sebelum rapat dimulai.” James berhenti sebentar. “Makanya rapat selalu singkat. Tapi selalu ada keputusan.” Esther mengangguk. “Oh, I see.” James tersenyum lagi. “Karena dia sangat fokus pada solusi, dia juga langsung tahu siapa direksi yang tidak siap.” Esther menatapnya. “Maksudnya?” “Kalau dalam rapat terlihat seseorang tidak memahami masalah atau tidak membawa solusi,” kata James, “dia akan langsung menegur.” James mengangkat bahu. “Setelah itu biasanya orang itu tidak lama di perusahaan.” Esther terlihat agak terkejut. “Keputusan yang keras.” James mengangguk “Yang lebih mengejutkan, dia melakukannya tanpa emosi.” Saya tetap membaca dokumen. " Dia pernah mengatakan sesuatu yang saya ingat sampai sekarang,” kata James. Esther menunggu. “Menurutnya, tanpa kompetensi perusahaan hanya akan menjadi tempat orang oportunis numpang makan.” James berhenti sejenak. “Dan bagi dia, itu sama saja dengan sampah.” Esther tertawa kecil. " Itu terdengar sangat kejam.” James menggeleng pelan. " Dia mengatakannya dengan wajah datar. Tanpa nada marah.” Saya akhirnya menutup iPad.Bagi saya, itu bukan soal keras atau lembut. Itu hanya soal satu hal sederhana. Perusahaan tidak dibangun oleh niat baik. Perusahaan dibangun oleh kompetensi.