“ Pah, katanya kampus dan NU, Muhammadiah dapat konsesi tambang batubara. “ Kata Oma sore tadi saat makan malam.
“ Mama tahu darimana ?
“ Dari TV. “
“ Oh ya.”
“ Bisa langsung kaya mereka ya pah” Kata Oma.
“ Engga juga. Kan konsesi itu baru bisa diolah kalau sudah menyerahkan dana jaminan reklamasi. Tanpa ada jaminan ya engga bisa diolah” Kata saya.
“ Gede uangnya ?
“ Ya sekitar Rp. 150 juta per hektar. Rata mereka punya konsesi diatas 1000 hektar. "
“ Wah gede itu. Kalau 1000 hektar, itu udah Rp. 150 miliar..”
“ Ya mah.”
“Terus kalau mereka engga ada uang, gimana caranya biar bisa diolah ?
“ Caranya ada dua. Pertama, main sama Pemda dan ESDM. Kedua, jual hak Kelola lewat Participant interest atau ijon ke rentenir. “ Kata saya.
“ Rentenir siapa ?
“ Ya pedagang yang punya kontrak dengan pembeli di luar negeri. Biasanya mereka bandari uang jamina reklamasi itu. Dengan syarat nilai kontrak diatas biaya jaminan itu. “
" Participant interest itu apa ?
" Mereka yang dapat hak mengolah tambang itu untuk produksi dan menjualnya. " Kata saya.
“ Terus mereka yang punya konsesi dapat untung gede dong?
“ Dapat fee doang. Kan mereka engga kerja. Engga keluar modal” Kata saya.
“ Berapa fee nya ?
“ ya sekitar USD 5 per ton. “ kata saya.
" Harga jual batubara berapa ?
" Seitar USD 100 /ton.
Oma terdiam. Kemudian dia tatap saya lama. “ Kok papa ngerti? Tanya oma.
“ Tahu dari koran aja mah.”
“ Kata Aling. Awi main tambang tapi engga ada konsesi.” Kata Oma.
“ Engga tahu papa mah. Papa engga ikutan."
“ Benar engga tahu ? oma mengerutkan kening.
“ Ya mah."