pahami moneter

Arsip Terupdate
Memahami moneter “ Ale, yang masih tanda tanya besar gua adalah kenapa tahun 2020 malah Gi lunasi utang Bank. Padahal kan kondisi GI sangat sehat dan tidak punya masalah dengan cash flow. “ Kata Aling. Saya diam saja. “ tetapi sekarang baru gua paham. Sejak tahun 2021 sampai sekarang bunga pinjaman terus merangkak naik.” Sambung ALing. Yang jadi pertanyaan besar gua adalah bagaimana lue bisa prediksi sangat tepat masa depan ekonomi Indonesaia, terutama sector perbankan.? Tanya aling. “ Ling, “ Seru saya. “ Tahun 2020 itu pemerintah kan mengeluarkan stimulus berdasarkan PERPPU No.1/2020. Itu duitnya dari cetak uang. Sebenarnya itu biasa saja. Ada basic teorinya. Tapi setelah saya hitung. Nilainya diatas 5% dari uang beredar. Itu bahaya. Akan menjadi ancaman cash flow bagi BI dalam mengelola keseimbangan demand and supply uang. Walau sudah dimitigasi lewat burden sharing, namun tidak ada yang bisa jamin tidak terjadi moral hazard. Nah atas dasar itu, saya putuskan agar Yuan Holding ambil alih GI dan hutang bank dilunasi. Karena ongkos stimulus itu akan dibebankan ke rakyat lewat kenaikan tarif pajak. Dan itu akan berdampak melemahnya daya beli domestic. Akan dibebankan pada kenaikan suku bunga. Itu akan berdampak mahalnya cost of fund. Mengurangi daya saing. Dan terakhir akan memaksa BI menarik capital dari market lewat SRBI. Itu akan mendongkrak suku bunga real. Daripada GI menjadi bagian dari masalah negara. Karena hutang. Ya lebih baik GI lunasi utang kepada bank dalam negeri dan focus kepada export oriented. Bantu negara mendatangkan devisa. Sementara modal bersumber dari FDI Yuan di Singapore” Kata saya. “ Oh gitu. Gimana bisa paham arah kebijakan moneter.? “Sebenarnya moneter itu tidak sulit dipahami. Namun pertanyaan itu datang karena lue termasuk dari 99.9% rakyat Indonesia yang tidak memahami moneter. Media massa juga tidak banyak membahas moneter dari sudut literasi. Karena memang tidak diminati orang banyak. Orang Indonesia itu hanya paham soal mikro. Tapi tidak tahu bagaimana sebenarnya kebijakan moneter yang berdampak luas terhadap fiscal. “ Kata saya. “ Ok, Bisa engga beri satu contoh aja kebijakan moneter berdampak kepada bisnis ? “ Kamu tahu Pabrik kendaraan dan property.? Tanya saya. Aling mengangguk’ Nah bisnis otomotif dan property itu berkembang karena kebijakan kredit longgar dari BI seperti rendahnya Loan To Value. Sehingga tercipta inklusif keuangan untuk meningkatkan penjualan kendaraan dan rumah.” Kata saya. “ Nah kan paham gua. Dari tadi masih bingung gua.” Kata aling. “ Jadi sebenarnya kalau kita paham moneter dengan baik, kita engga gampang kejebak saham goreng di Bursa. Seharusnya IPO GoTo setelah COVID engga menarik. Karena stimulus burden sharing akan menekan daya beli dan tentu akan mengurangi market GoTo dan begitu juga dengan Emiten lainnya” Sambung aling. Saya senyum aja. “ Ale, waktu ada pertemuan di Singapore dengan seluruh unit bisnis Yuan di ASEAN. Gua ngobrol dengan mereka. Ternyata sama saja ya. Yuan tidak pernah keluarkan anggaran lebih 10% dari nilai proyek. 90% lebih anggaran dari skema non recourse loan yang linked dengan SWAP thematic bond. Jadi sebenarnya, pemegang saham Yuan hanya modal SDM doang. Asset perusahaan terus meningkat namun tidak ada resiko langsung terhadap neraca perusahaan, apalagi personal pemegang saham” Kata aling. “ Pantas aja gaji direksi unit bisnis diatas rata rata industry. Bonus besar.“ Lanjut ALing. “ Mereka semua kena skema cadiak ale” Aling tersenyum. “ Ya itu biasa saja. Menegement restoran padang kan begitu. Induk semang dapat duit dari kerja keras pekerja. Sementara Induk semang engga pegang uang. Dan pekerja engga merasa jadi jongos karena mereka terlibat langsung mengelola cash flow. Jadi semua serba terbuka. Nanti kalau akhir tahun dihitung. Kalau ada untung dibagi secara proporsional. 10% untuk pekerja dan 90% untuk induk semang.“ Kata saya. Aling tersenyum.