“Ale,” seru Herman. “Kenapa ya… kalau suku bunga naik, orang kaya tetap kaya. Kalau suku bunga turun… mereka malah tambah kaya. Sementara kelas menengah semakin ngos-ngosan. Orang miskin tambah susah.”
Saya tersenyum.
Herman itu sebenarnya sangat kaya. Kekayaannya lahir dari bisnis yang bergantung pada konsesi dan kedekatan dengan kekuasaan. Soal membaca laporan keuangan atau memahami teori ekonomi, ia sering menyerah. Tetapi ada satu kebiasaannya yang saya suka. Ia tidak malu bertanya dan itu hanya kepada saya sahabatnya.
“Kalau suku bunga naik,” kata saya, “harga banyak aset biasanya terkoreksi. Investor yang punya kas besar justru membeli aset ketika banyak orang lain terpaksa menjual.”
“Lalu?”
“Ketika suku bunga turun lagi, biaya pinjaman menjadi lebih murah. Aktivitas ekonomi pulih, harga aset sering naik kembali. Mereka bisa menjual sebagian aset dengan keuntungan, atau menjadikannya agunan untuk memperoleh pembiayaan baru guna ekspansi bisnis.”
Herman masih terlihat bingung.
Saya melanjutkan. “ Artinya, bagi pemilik modal besar, perubahan suku bunga sering kali hanya mengubah strategi. Saat bunga tinggi mereka berburu aset murah. Saat bunga rendah mereka mengembangkan aset yang sudah dimiliki.”
“Lalu kelas menengah?”
“Mereka biasanya sibuk mengejar konsumsi. Ketika bunga rendah, mereka mengambil KPR, membeli mobil, menggunakan kartu kredit, atau fasilitas pay later. Ketika bunga naik, cicilan ikut naik, ruang keuangan menyempit, dan mereka mulai menunda belanja akhirnya jatuh ke kelas miskin .”
“Kalau orang miskin?”
“Mereka hampir tidak memiliki aset produktif. Mau bunga naik atau turun, kehidupan mereka lebih banyak ditentukan oleh kesempatan kerja dan harga kebutuhan pokok. Kalau bunga tinggi membuat ekonomi melambat, merekalah yang paling cepat merasakan dampaknya.”
Herman mengangguk.
“Paham gua.”
“Paham apa?”
“Yang lu jelaskan tadi.”
Saya menggeleng pelan. “ Belum.”
“Lho?”
“Yang seharusnya kamu pahami bukan sekadar bunga naik atau turun.”
“Terus?”
“Dalam sistem kapitalisme, mereka yang memiliki aset dan akses terhadap modal biasanya lebih mudah memanfaatkan setiap fase siklus ekonomi. Sebaliknya, mereka yang hanya mengandalkan pendapatan dari bekerja sering kali lebih rentan terhadap perubahan siklus itu.”
“Berarti tidak adil?”
“Tidak sesederhana itu.”
“Kenapa?”
“Karena siklus ekonomi tidak diciptakan hanya oleh satu kelompok. Ia dipengaruhi kebijakan bank sentral, inflasi, produktivitas, investasi, dan kondisi ekonomi global.”
Saya berhenti sejenak, lalu tersenyum.
“Yang sering tidak seimbang adalah kemampuan memanfaatkan siklus. Orang yang memiliki modal, informasi, dan akses pembiayaan biasanya lebih siap ketika peluang datang. Sementara yang hidup dari gaji bulanan sering kali hanya sibuk bertahan.”
Herman menatap kopinya. “ Jadi…yang harus dikejar bukan sekadar uang?”
Saya mengangguk. “ Bukan.”
“Lalu?”
“Literasi, aset produktif, dan kemampuan membaca siklus. Karena dalam ekonomi, yang paling mahal bukan uang.”
“Tapi?”
“Pengetahuan tentang kapan harus membeli, kapan harus menunggu, dan kapan harus mengambil risiko.”