Jalan Udin
Pertama kali bertemu dengan investor besar usia saya 45 tahun. Saya tidak bisa bergaya seperti salesman buku ensiklopadia. Karena investor besar pasti kaya literasi. Engga bisa seperti Capres saat kampanye jualan mimpi. Karena investor besar engga bego dan pasti engga bighot. Saya tidak membanggakan proyek mimpi saya. Karena orang kaya udah bangun tidur lama. Saya yang masih bermimpi.
Saya tawarkan kenyamanan. “ Saya akan pastikan asset anda bertambah bahkan saat anda tidur dan karena itu tidak perlu asset anda keluar dari brangkas anda. “ Sontak dia tertarik mendengar. Karena satu satunya yang mahal bagi investor besar adalah kenyaman berinvestasi. Setiap hari dia berhadapan dengan ketidak pastian. Dan saya menawarkan kepastian.
Skemanya? Dana investor tersebut tidak pernah berpindah ke rekening saya. Saya juga tidak meminta asetnya sebagai collateral. Yang saya lakukan adalah mengaitkan (linkage) penerbitan instrumen utang saya dengan kualitas portofolio finansial miliknya, tanpa pemindahan kepemilikan. Dalam praktiknya, ini berfungsi sebagai credit enhancement by association.
Terus bagaimana saya jual surat utang agar uang duit masuk? Saya tidak jual ke publik. Karena siapa yang mau percaya dengan udin pedagang sempak? Di negerinya saja lapaknya kena gusur pak satpol PP dan memaksa dia hijrah ke negeri orang. Ya saya jual lewat OTC. Investor pembeli surat utang adalah teman dari investor yang dukung penerbitan surat utang saya. Tentu tidak banyak tanya. Mengapa ?
Investor tidak membeli karena nama Udin. Mereka membeli karena memahami siapa yang berada di belakang struktur pendukungnya. Sederhana aja. Engga rumit amat. Ya modal padang, numpang bergaya berphoto depan mercy orang lain. Dan setelah dapat duit dari jual surat utang. Uang itu memang digunakan untuk agenda bisnis ( M&A) yang sudah disepakati dan dilaksanakan dengan disiplin tinggi. Tak ada satu sen pun ke rekening pribadi Udin.
**
Sukses Langkah pertama membuka mata lebar saya. Aha..ini kuncinya. Orang kaya ogah tampil ke publik dan ogah resiko “ Maka saya ciptakan rumah aman (safehouse ) bagi investor. Apa itu ? holding structure menggunakan nominee arrangement melalui yurisdiksi trustee di London dan Hong Kong. Tujuannya bukan menyembunyikan kepemilikan dari regulator karena uang haram, melainkan menjaga kerahasiaan klien besar, menghindari market signaling, memastikan fleksibilitas transaksi privat, memungkinkan struktur pembiayaan berbasis leverage.
Mengapa memilih strukturi ini ?
Saya bukan berasal dari keluarga konglomerat. Saya datang tanpa jaringan sosial, tanpa nama besar, dan tanpa rekam jejak. Dalam kondisi seperti itu, yang dapat saya tawarkan bukan permintaan investasi, melainkan efisiensi struktur.
Saya tidak meminta orang kaya mempercayai saya. Memang terlalu naif percaya kepada Udin yang bukan keluarga konglo dan tidak pula sarjana. Justru saya merancang struktur agar mereka tidak perlu mempercayai saya. Saya hanya menyediakan instrumen yang meningkatkan yield dan utilisasi portofolio. Bukan berbasis jaminan fisik (collateral-based lending), melainkan berbasis desain struktur (structure-based risk mitigation).
Dan bagi saya, yang tidak punya apa-apa selain cara berpikir, struktur ini adalah cara bertahan selama 25 tahun dalam membangun holding. Walau ada ratusan anak usaha terhubung langsung dengan holding dan diantara mereka sudah jadi perusahaan publik, itu bukan kebanggaan dan tidak perlu validasi agar orang banyak percaya. Saya tahu diri. Yang harus saya jaga kepercayaan investor dibalik itu semua. Kepercayaan bahwa mereka ada ditempat yang aman dari publikasi. Saya jaga itu dengan disiplin.
Semua eksekutif holding tahu esensi bisnis saya. Dan mereka adalah para sahabat saya. Setelah saya pensiun, mereka kembangkan bisnis itu dengan mengikuti platform yang sudah saya bangun dan network yang sudah saya kuasai. Holding berkembang 10 kali lebih cepat daripada yang awal saya bangun. Mengapa ? karena mereka terpelajar dan lulusan universitas terbaik dan lewat proses training yang hebat.
Saya tetap udin pedagang sempak, yang hanya tamatan SMA. Saya tahu diri siapa saya. Yang dapat saya berikan kepada orang banyak hanyalah pengetahuan menuju mata air, bukan cara mudah.