Memahami management recovery.
Tadi saya diminta oleh teman bicara dalam seminar terbatas. Teman ini minta saya bicara tentang menegement recovery. Karena saya ditodong untuk bicara, saya tidak ada pilihan kecuali menerima saja. Karena menjaga reputasi teman di hadapan koleganya. Nah karena sejam lalu saya nulis di DDB tentang anggaran. Itulah yang saya jadikan topik bahasan. Akan mudah dibapahami. Karena sedang tranding topik.
Menegement itu adalah Ilmu seni. Bukan ilmu pasti. Namun karena ia adalah seni maka diperlukan talenta untuk mempelajarinya sehingga bisa dipraktekan. Mengapa ? kekuatan seni itu ada pada improvisasi. Anda bisa saja menguasai prinsip dasar menegement dan semua hal tentang teori menegement, namun kalau anda tidak punya talenta sebagai pemimpin, tetap aja ilmu menegement itu tidak bisa diterapkan.
Nah terkait dengan menegement recovery. Saya ambil contoh masalah financial negara Indonesia. Kita tahu, problem utama kita adalah defisit anggaran dan besarnya mandatory spending yang didominasi oleh bayar bunga dan cicilan yang lebih 1/3 dari pendapatan pajak. Keadaan ini memerlukan seni mengement dari TOP leader dalam proses recovery. Gimana langkahnya ?
Tentukan dengan jelas target yang hendak dicapai. Setelah itu komunikasikan. Pemimpin harus mampu pengkomunikasikan programnya kepada semua stake holder. Misal Presiden, jujur aja katakan kepada DPR, Menteri dan rakyat bahwa kita sedang krisis anggaran karena hutang masalalu. Mengapa ? Agar rasionalisasi yang terkait efisiensi anggaran mendapat dukungan dari organisasi. Agar tercipta kesadaran bersama pentingnya langkah recovery dilakukan lewat restruktur anggaran.
Kemudian proses pemulihan harus dilakukan oleh team yang qualified. Seorang leader harus berani membuka diri. Tidak harus team itu dari dalam organisasi, atau dari mereka yang loyal. Bisa saja dari luar atau mereka yang paling kritis sekalipun. Ya, siapapun itu, selagi standar kompetensi memenuhi qualifkasi sebagai team. Nah team cabinet kita tidak qualified untuk itu. Karena unsur politik lebih dominan daripada kompetensi.
Setelah itu buat keputusan strategis agar team bisa bekerja efektif. Misal, team punya otoritas melakukan pemulihan walau harus mengubah system dan procedure yang ada. Bahkan mengubah orientasi statusquo menjadi transformative. Misal kita tadinnya bersandar kepada pertumbuhan ekonomi lewat PDB, ya ubah menjadi pertumbuhan inklusif.
Walau dalam jangka pendek membuat mati konglomerat rente, ya engga apa apa. Toh dalam jangka Panjang kita punya hope, dimana semua orang punya akses kepada sumber daya sesuai dengan effort dan kreatifitasnya. Bukankah prinsip demokrasi adalah kesempatan bagi semua, bukan kepada segelintir orang.
Nah dalam konteks perusahaan tidak jauh beda dengan negara. Kata kunci kalau ingin melakukan pemulihan adalah keinginan untuk berubah. 10 dari 10 perusahaan bangkrut karena top leader tidak siap berubah dan cenderung terjebak dengan retorika statusquo. Ingat, apapun itu kalau lambat membuat keputusan berubah, tetap saja salah saat dilakukan perubahan. Jadi time is essential!
Demikian dan terimakasih.
Saya langsung jalan ke SCBD untuk makan malam dengan relasi dari Singapore. Engga tahu apakah mereka paham atau tidak. Saya sendiri tidak tahu apa ada referensi akademis yang saya paparkan. Karena saya bicara atas dasar pengalaman praktis aja.