Xiaulin duduk di sofa bersama Dewi, Saya menghadap mereka berdua. Xiau lin memperhatikan layar iPad-nya. Di layar itu terlihat grafik USD/IDR, yield SBN, SRBI, CDS Indonesia, dan arus dana asing yang bergerak seperti denyut nadi orang sakit. Dewi mengaduk kopi tanpa benar-benar meminumnya.
“Jadi menurut kamu, kenaikan suku bunga BI 50 basis poin itu cukup untuk menahan rupiah?” tanya Dewi dalam Bahasa inggris.
Xiaulin tidak langsung menjawab. Ia memperbesar grafik yield SBN tenor pendek.
“Cukup untuk memberi sinyal,” katanya pelan. “Tapi belum tentu cukup untuk membalikkan arus modal.”
Dewi mengernyit. “Maksudnya?”
“BI menaikkan bunga untuk membuat aset rupiah lebih menarik. Logikanya sederhana. Kalau yield rupiah naik, investor asing punya alasan untuk tetap memegang SRBI, SBN tenor pendek, atau instrumen rupiah lain. Tetapi investor asing tidak melihat yield nominal. Mereka melihat return bersih.”
Saya ambil Ipad dari tangan Xiaulin. Menulis di layar :
Return bersih = yield rupiah − pelemahan rupiah − biaya hedging − premi risiko
“Misalnya yield rupiah 6,5% setelah BI naikkan bunga. Tapi kalau investor memperkirakan rupiah melemah 5%, lalu biaya hedging 1,5%, maka return bersihnya nol.” Kata saya menjelaskan.
Dewi mengangguk pelan. “Jadi tambahan 50 basis poin itu bisa habis dimakan risiko kurs?”
“Persis,” jawab saya. “Kalau pasar percaya rupiah bisa stabil, 50 bps efektif. Tapi kalau pasar percaya rupiah masih akan melemah, tambahan bunga itu hanya seperti payung kecil di tengah badai.”
Dewi menatap grafik rupiah. “Tapi minimal bisa menahan capital outflow?”
“Bisa. Tapi sifatnya defensif. Misalnya tekanan valas jangka pendek sekitar US$5 miliar. Dalam skenario moderat, kenaikan 50 bps mungkin bisa menahan 20% sampai 30% tekanan. Itu sekitar US$1–1,5 miliar.” Kata Xiaulin.
“Lumayan besar,” kata Dewi.
“Ya, tapi kalau tekanan eksternal kuat—The Fed masih tinggi, yen funding makin mahal, dan investor global menunda masuk ke emerging markets—efeknya bisa turun menjadi hanya 10% sampai 15%. Artinya cuma US$500–750 juta.” Kata saya.
Dewi diam sejenak. “Jadi BI beli waktu?”
Xiaulin tersenyum tipis. “BI memang sedang membeli waktu. Tapi waktu itu harus dipakai pemerintah untuk memperbaiki fundamental. Kalau tidak, suku bunga hanya menjadi rem darurat, bukan solusi.”
Dewi mengambil napas panjang. “Tekanan The Fed masih besar?”
“Besar. Selama aset dolar masih memberi return menarik dengan risiko rendah, investor global akan bertanya: untuk apa masuk ke rupiah kalau tambahan yield tidak cukup menutup risiko kurs dan risiko fiskal?” Kata saya.
Xiaulin lalu membuka grafik yen. “Dan jangan lupa yen. Selama bertahun-tahun, yen murah menjadi bahan bakar carry trade global. Investor pinjam yen murah, masuk ke emerging markets, beli obligasi, saham, atau instrumen yield tinggi. Tapi kalau suku bunga Jepang naik, biaya carry trade naik. Mereka akan tutup posisi. Jual aset emerging markets. Beli kembali yen atau dolar. Kurangi leverage.”
“Jadi Indonesia ikut kena walau masalahnya global?”
“Betul. Indonesia masuk keranjang emerging markets. Kalau global fund mengurangi risiko, mereka tidak selalu melihat satu per satu negara secara detail. Mereka jual basket. SBN kena. IHSG kena. Rupiah kena.” Kata Xiaulin.
Dewi menunjuk grafik SBN. “Tapi kalau BI naikkan bunga, bukankah SBN jadi lebih menarik?”
“Untuk instrumen baru atau tenor pendek, iya. Tapi untuk SBN lama, terutama tenor panjang, harga bisa turun. Ingat, harga obligasi bergerak berlawanan dengan yield.” Kata saya.
Saya menulis angka lain di Ipad. Jika duration SBN 10 tahun = 7 tahun Yield naik 50 bps → harga bisa turun sekitar 3,5%.
“Jadi investor lama bisa rugi mark-to-market?” tanya dewi.
“Ya. Itulah dilema. BI ingin menarik inflow dengan yield lebih tinggi, tetapi kenaikan yield juga bisa menekan harga obligasi yang sudah beredar. Investor yang takut rugi harga bisa tetap menjual.” Kata saya.
Dewi menatap layar IHSG. “Dampaknya ke saham?”
“Jelas ada. Kalau yield SBN mendekati 7%, sementara earnings yield saham hanya sekitar 5,5% sampai 6,3%, investor akan bertanya, mengapa mengambil risiko saham kalau obligasi negara memberi yield lebih tinggi?” Kata Xiaulin.
“Makanya IHSG bisa mengalami repricing?” kata dewi.
“Betul. Saham yang valuasinya mahal dan labanya tidak tumbuh kuat akan paling dulu ditekan. Pasar menghitung ulang required return.” Jawab Xiaulin.
Dewi menyesap kopinya. “Lalu dampaknya ke kredit?”
Xiaulin menggeser layar ke grafik perbankan. “Nah, ini sisi gelapnya. Kenaikan BI Rate akan masuk ke cost of fund bank. Tidak langsung penuh, tapi bertahap. Kalau pass-through ke bunga kredit sekitar 40% sampai 70%, kenaikan BI Rate 50 bps bisa menaikkan bunga kredit sekitar 20 sampai 35 bps.”
“Kelihatannya kecil.”
“Kecil bagi yang melihat angka. Tapi tidak kecil bagi pelaku usaha yang marginnya tipis.” Kata Xiaulin. Kemudian membuat simulasi:
Tambahan bunga 30 bps: Kredit Rp1 triliun → tambahan beban Rp3 miliar per tahun Kredit Rp10 triliun → tambahan beban Rp30 miliar per tahun Kredit Rp100 triliun, itu. Artinya tambahan beban Rp300 miliar per tahun
Dewi langsung terdiam.
“Untuk korporasi besar, itu menggerus laba. Untuk UMKM, itu bisa menjadi tekanan arus kas. Apalagi kalau omzet turun dan biaya impor naik karena rupiah melemah.” Kata xiaulin.
“Berarti kredit bisa melambat?” Tanya Dewi.
“Bisa. Secara elastisitas, kalau bunga kredit naik 30 bps, pertumbuhan kredit bisa turun sekitar 0,15 sampai 0,45 poin persentase dalam kondisi normal. Kalau awalnya pertumbuhan kredit 10%, bisa turun ke sekitar 9,55% sampai 9,85%.”
“Tidak terlalu besar.” Kata dewi.
“Dalam kondisi normal, tidak. Tapi kalau bank mulai defensif karena NPL naik, rupiah melemah, dan sektor riil lesu, dampaknya bisa lebih besar. Bank akan pilih beli SBN atau SRBI daripada salurkan kredit ke UMKM yang risikonya naik.”
Dewi menyandarkan tubuhnya. “Jadi BI menghadapi dilema klasik.”
“Ya. Kalau bunga tidak dinaikkan, rupiah bisa jatuh lebih dalam. Kalau bunga dinaikkan, kredit melambat. Kalau dinaikkan terlalu agresif, sektor riil tertekan. Kalau tidak cukup agresif, pasar menganggap BI lemah.”
“Lalu apa yang seharusnya dilakukan pemerintah?”
Xiaulin menatap Dewi, lalu berkata pelan.
“Jangan biarkan BI bekerja sendirian. BI hanya bisa membeli waktu. Pemerintah harus memperbaiki sisi fiskal, menahan yield SBN, memperkuat devisa hasil ekspor, memperdalam DNDF dan swap, memperbaiki kepercayaan pasar, dan menunjukkan disiplin anggaran.”
Dewi mengangguk. “Jadi 50 bps itu bukan solusi akhir.”
“Bukan. Itu sinyal bahwa bank sentral masih punya kompas stabilitas. Tapi capital inflow tidak akan kembali hanya karena bunga naik. Investor akan kembali kalau mereka percaya rupiah bisa dijaga, APBN kredibel, SBN tidak menjadi beban fiskal, dan pertumbuhan ekonomi lahir dari fundamental yang sehat.”
Dewi tersenyum tipis. “Dengan kata lain, 50 bps bisa menahan arus keluar. Tapi hanya fundamental yang bisa mengundang arus masuk.”
Xiaulin menutup iPad-nya. “Persis. Suku bunga adalah pagar darurat. Fundamental adalah rumahnya. Kalau rumahnya rapuh, pagar setinggi apa pun hanya menunda orang pergi.”
“ Lin, kata Dewi. Dia Kepala rep Yuan di Indonesia. “ Apa perlu private jet untuk pulang? Saya bisa atur.”
“Engga, terimakasih. Pagi ini private jet Ale Capital masuk di Soeta untuk jemput saya. “ kata Lin tersenyum.
“ Baru kenal sudah terkesan dengan anda. “ Kata dewi kepada Xiaulin. “ Cantik dan cerdas. “ sambung dewi melirik saya.