By. Chotib bisri
Cummulative vs year on year atau month on month inflation.
Satu pelajaran penting buat pembuat kebijakan dimanapun dari pemilu di AS:
daya beli matters!
Saya elaborasi sedikit artikel saya di Kompas minggu lalu.
Saya bukan, dan tak berpretensi, untuk menjadi ahli politik. Tentu banyak faktor yang menyebabkan kemenangan Trump. Namun satu faktor yang amat penting -menurut saya sebagai ekonom- adalah inflasi di Amerika Serikat yang amat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Milton Friedman, pemenang nobel ekonomi dari University of Chicago, bicara: “Inflasi adalah penyakit yang berbahaya bagi masyarakat. Penyakit yang jika dibiarkan dan tidak terkendali dapat menghancurkan Masyarakat”. Dan Friedman benar.
Inflasi di AS terus meningkat sejak tahun 2021 –dan bahkan pernah mencapai 8% tahun 2023. Sejak tahun 2021 masyarakat di AS telah mengalamai beban kenaikan harga secara kumulatif sebesar 16.8%.
Ekonom cenderung untuk melihat inflasi year on year atau month on month. Dalam jangka pendek year on year atau month on month inflation memang langsung memukul daya beli.
Namun bagi masyarakat awam, yang berpengaruh adalah inflasi kumulatif, terutama dalam jangka panjang.
Mudahnya: harga naik dari 100 menjadi 110, inflasi naik 10%. Setelah itu katakanlah inflasi menurun dari 10% menjadi 0%.
Tapi ini bukan berarti harga turun. Karena yang terjadi harga tetap di 110. Inflation rate turun, tapi harga tidak turun. Inflasi memang berhasil dikendalikan. Tapi tidak berarti harga turun. Daya beli sudah terlanjur tergerus.
Trump berhasil mengartikulasikan ketidakpuasan soal inflasi ini. Mungkin itu sebabnya, Trump memperoleh dukungan yang cukup kuat.