cetak uang

Arsip Terupdate
“ Pak gimana konglomerat itu bisa kaya raya. Padahal bisnis mereka engga ada yang untung gede“ Kata anak muda saat ketemu di ruang tunggu kantor Asset Management punya Awi. Saya juga sedang tunggu awi untuk meeting dengan Dewi dirut AM. “ mereka cetak uang” kata saya. “ Maksud nya? “ Contoh. Ada salah satu konglo. Dia akuisisi m perusahaan yang terkena masalah kasus dan NPL di bank. Umunya perusahaan tambang. Tentu dia tidak beli dengan duit cash. Dia beli lewat skema. Bayarnya nanti. Nah beberapa perusahaan tambang itu sahamnya dipindahkan ke SPAC atau special porpose acquisition company atau perusahaan khusus untuk tujuan akuisisi. Kemudian SPAC itu jual saham di bursa parallel Nasdaq. Nah agar punya value dan persepsi bagus. Dia gandeng SWF dari Arab atau Singapore. Kan SWF itu credit rating nya AA rate. Jadi reliable untuk sebagai trigger dapatkan uang di bursa dengan harga berlipat. Mudah kan. Kalau terjadi apa apa yang korban investor bursa. “ Oh itu seperti Diamond bridge punya Salim. “ Kata anak muda itu. “ dalam kasus lain, kan bisa aja pakai Lembaga Dana pensiun. Engga perlu SWF. Walau bukan sebagai standby buyer tapi lewat convertible bond. Tetap aja bisa naikan rating kan, seperti kasus Goto yang dapat duit dari Dapen Telkom sebelum IPO. Ya pak. “ katanya. Duh ini anak cepat banget belajarnya. “ Contoh lain..tanyanya lagi. “ Konglo beli perusahaan emiten yang sudah dead duck lewat backdoor. Terus dia gandeng perusahaan property lewat skema project financing. Tidak ada akuisisi tetapi merger. Dari merger ini dia jual gambar dan landbank. Walau tanahnya diatas laut. Yang penting ada patok. Itu asset bisa revaluasi sesuai propektus bisnis. Bisa aja nilainya 100 kali. Nah gimana caranya agar revaluasi asset itu acceptable bursa saham ? ya dia gunakan dana on call di luar negeri sebagai standby buyer. Jadi setiap dia tentukan harga saham, orang ragu, pasti dieksekusi oleh standby buyer. Lama lama persepsi market terbentuk. Orang engga lagi ragu. Selanjutnya akan mudah dorong harga terus naik sampai tercapai 100 kali. Nah perhatikan. Dia lepas saham di bursa engga besar. Hanya 2%. Tetapi dengan value saham yang ada, Marcap terbentuk atas saham yang belum dijual. Nah dengan Marcap diatas 100 kali itu, dia tarik uang dari bank lewat credit dengan jaminan saham itu. Dia juga lakukan Repo ambil uang di pasar uang. Kalau terjadi apa apa atau default yang resiko adalah bank dan pasar uang. Dia sendiri aman saja. Biasanya nanti negara bailout.” Kata saya. “ OH itu sama dengan kasus PANI, yang punya Salim dan Aguan” Kata anak muda itu. “ wah saya bisa tiru untuk bangun kebun duren. Beli perusahaan emiten lewat backdoor dan terus gandeng PTPN yang punya lahan nganggur untuk tanam duren. Terus gandeng dana koperasi untuk jadi standby buyer. 2% aja lepas saham. Kan engga gede. Marcap terbentuk, lakukan aksi korporat seperti PANI.” Katanya lagi. “ Kamu kemari ada urusan apa? Tanya saya mengerutkan kening. “ Saya dapat panggilan untuk wawancaran kerja bagian analis.”katanya. “ Kamu lulusan apa ? tanya saya. “ Finance “ katanya menyebut nama universitas nya. Duh nambah orang mantiko di kantor gua eh kantor Awi.