KEMBALI
Dashboard.
MUNICIPAL BOND
Arsip Terupdate
(Suasana ruang kelas yang tadinya riuh perlahan hening. Sang Dosen, seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi, meletakkan tasnya di meja. Ia menyalakan proyektor yang menampilkan slide kosong, lalu berjalan ke tengah podium, menatap para mahasiswanya) "Selamat pagi, semuanya. Hari ini, mari kita mundur sejenak. Jauh sebelum kalian sibuk membahas otonomi daerah di media sosial." (Dosen itu melipat tangannya di dada, tersenyum kecil) "Tahun 1998. Di era Presiden Habibie, saya pernah diminta berbicara di hadapan para kepala daerah. Tempatnya di Hotel Indonesia. Waktu itu, gagasan otonomi daerah sedang hangat-hangatnya disosialisasikan. Angin segar perubahan besar setelah runtuhnya Orde Baru." (Ia berbalik, mengambil spidol, dan menulis dua kata besar di papan tulis: MUNICIPAL BOND) "Saat itu, saya bicara tentang sesuatu yang di telinga mereka masih terdengar sangat asing: Municipal bond, atau obligasi daerah. Saya tegaskan ke mereka... Saudara-saudara, kemandirian daerah itu bukan sekadar duduk manis menunggu transfer anggaran yang lebih besar dari Jakarta. Bukan!" (Dosen itu mengetuk papan tulis dengan spidolnya, menatap tajam ke arah mahasiswa di barisan depan) "Kemandirian adalah kemampuan pemerintah daerah mengembangkan potensi ekonominya. Bagaimana mereka bisa membuat masyarakat dan pasar ikut membiayai pembangunan secara sukarela. Saya beri contoh Tiongkok waktu itu, di mana Pemdanya boleh menerbitkan surat utang lewat instrumen local government financing vehicle. Poin saya sederhana: daerah harus punya kapasitas pembiayaan sendiri. Jangan terus-terusan menyusu pada pusat!" (Ia berjalan perlahan menyusuri lorong di antara meja mahasiswa) "Kenapa obligasi ini penting? Karena obligasi daerah punya satu hal yang sering tidak dimiliki oleh anggaran politik biasa... Ada yang tahu? Disiplin." "Coba bayangkan Anda seorang kepala daerah." (Ia menunjuk salah satu mahasiswa) "Anda tidak bisa sekadar naik ke podium, pidato berapi-api, dan bilang, 'Saudara-saudara, percayalah kepada saya!' lalu uang turun dari langit. Tidak bisa!" "Kalau Anda mau menerbitkan obligasi, Anda harus bawa proyek itu ke underwriter profesional. Feasibility-nya dibedah. Arus kasnya dihitung detail. Risiko fiskalnya ditelanjangi. Investor akan membaca information memorandum Anda dengan mikroskop, lalu datanglah pertanyaan-pertanyaan yang membuat telinga panas: Uangnya untuk apa? Proyeknya menghasilkan apa? Siapa kontraktornya? Sanggup bayar utang tidak? Bagaimana kalau tiba-tiba PAD (Pendapatan Asli Daerah) turun?" (Dosen itu tersenyum simpul, mengangkat bahu) "Dan ingat, investor tidak punya kewajiban konstitusional untuk mengangguk pada kepala daerah. Kalau jawaban Anda tidak meyakinkan, mereka akan melakukan sesuatu yang sangat demokratis: Mereka tidak akan membeli obligasi Anda. Selesai." (Ia kembali berjalan ke depan kelas, bersandar di meja dosen) "Apakah pengawasan berhenti setelah obligasinya laku? Oh, tentu tidak. Setelah obligasi itu diperdagangkan di pasar sekunder, Pemda diharuskan menjaga transparansi, menjaga disiplin fiskal, dan kredibilitas. Kenapa? Karena begitu ada kebijakan yang ngawur, pasar akan langsung menghukum! Harga obligasinya anjlok, yield-nya melambung. Itulah yang dulu saya pahami sebagai salah satu esensi dari Reformasi." (Ruang kelas sangat sunyi, semua mahasiswa fokus mendengarkan. Sang Dosen merendahkan nada suaranya menjadi lebih serius) "Jadi, catat baik-baik. Desentralisasi itu bukan cuma memindahkan stempel kekuasaan dari Jakarta ke tangan bupati atau wali kota. Desentralisasi adalah membuat kekuasaan daerah berani diuji. Diuji oleh masyarakat, oleh kaum profesional, oleh investor, dan oleh pasar." "Demokrasi pada akhirnya bukan sekadar hak kalian mencoblos pemimpin setiap lima tahun sekali. Demokrasi berarti kekuasaan harus bersedia membuka buku catatannya, menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit, dan menerima konsekuensi saat publik tidak lagi percaya." (Dosen itu terdiam sejenak, lalu membereskan catatannya dengan helaan napas pendek dan senyum kecut) "Ironisnya... itulah yang sebenarnya sudah dipahami oleh Gubernur DKI Jakarta. Sayangnya, seperti yang kita tahu bersama, rencana DKI untuk menerbitkan obligasi daerah akhirnya mentah karena ditolak oleh Poorbaya. Mimpi reformasi pembiayaan daerah itu, untuk sementara, kembali masuk ke dalam laci." (Ia menatap seluruh kelas) "Ada pertanyaan sebelum kita lanjut ke bab berikutnya?"