KEMBALI
Dashboard.
Membaca Rupiah
Arsip Terupdate
Belum lama memesan kopi hitam, seorang anak muda datang menghampiri. Usianya mungkin belum tiga puluh. Kemejanya rapi, laptop tipis terselip di bawah lengan. Ia memperkenalkan diri dengan sopan lalu duduk di depan saya. “Pak, saya mengikuti tulisan-tulisan Bapak,” katanya. Saya hanya tersenyum kecil. Ia membuka laptopnya. Di layar muncul grafik pergerakan Rupiah terhadap dolar AS. Garis-garis hijau dan merah bergerak seperti detak jantung yang gelisah. “Menurut saya Rupiah akan kembali ke Rp16.000 per dolar,” katanya penuh keyakinan. “Secara teknikal sudah **oversold**. Polanya mirip beberapa tahun lalu.” Saya memperhatikan wajahnya. Antusias. Percaya diri. Seperti banyak analis muda yang tumbuh di era ketika chart dianggap mampu menjelaskan masa depan. “Kenapa yakin?” tanya saya pelan. Ia menunjuk grafik di layar. “Karena support dan resistance-nya kuat. Dari historis pergerakan, biasanya akan rebound.” Saya terdiam sejenak sambil mengaduk kopi. “Dulu,” kata saya perlahan, “orang-orang juga menebak nomor porkas memakai pola itu.” Ia tertawa kecil. “Maksud Bapak?” “Semua sama-sama percaya masa depan bisa ditebak dari angka masa lalu.” Anak muda itu diam. Saya melanjutkan. “Masalahnya, sejak lama uang bukan lagi sekadar alat tukar. Uang sudah menjadi bagian dari *sistem finansial global*. Sejak sekitar 2010, ekonomi kita semakin masuk ke era monetisasi dan financialisasi. Pasar uang berubah menjadi free market raksasa yang bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan negara mengendalikannya.” Ia mulai memperhatikan lebih serius. “Bank Indonesia masih bisa intervensi,” katanya. “Bisa,” jawab saya. “Tapi pasar juga menghitung kemampuan intervensi itu. Bahkan dampaknya bisa diprediksi.” Saya menunjuk layar laptopnya. “Chart itu hanya memotret bayangan masa lalu. Padahal nilai tukar hari ini lebih banyak ditentukan oleh arus modal, persepsi risiko, dan kebutuhan dolar dalam sistem global.” Ia terlihat berpikir. Saya mengambil tisu lalu menulis singkat, *PII = Aset luar negeri – kewajiban luar negeri*. “Itu apa, Pak?” “Posisi Investasi Internasional.” Saya menjelaskan pelan. “Kalau kewajiban kita kepada dunia luar lebih besar dibanding aset luar negeri yang kita punya, maka negara berada dalam posisi net debitor. Artinya kita masih bergantung pada arus modal asing untuk menjaga stabilitas sistem.” Ia mengangguk perlahan. “Jadi kurs Rupiah bukan cuma soal ekspor-impor?” “Bukan lagi.” Saya menyesap kopi yang mulai dingin. “Sekarang trader global melihat banyak hal sekaligus. Mereka menghitung pergerakan PII, arus modal keluar masuk, yield obligasi, risiko geopolitik, posisi suku bunga The Fed, sampai persepsi terhadap stabilitas fiskal.” “Makanya setiap ada gejolak global, Rupiah ikut goyang?” katanya spontan “Nah, sekarang kamu mulai mengerti.” Kata saya tersenyum. Di meja sebelah, beberapa pegawai muda tertawa sambil membicarakan saham teknologi. Di layar televisi café, berita ekonomi berjalan tanpa suara. “Pak,” katanya lagi, “berarti analisa teknikal tidak penting?” “Bukan begitu.” Saya menggeleng pelan. *“Teknikal itu seperti membaca ombak di permukaan laut. Kadang berguna untuk melihat arah arus sesaat. Tapi kalau ingin memahami mengapa laut bergerak, kamu harus melihat angin, tekanan udara, bahkan gravitasi bulan.”* Ia diam lama. “Maka membaca Rupiah hari ini tidak cukup hanya dari grafik historis,” lanjut saya. “Karena nilai mata uang modern lebih banyak ditentukan oleh trust terhadap sistem ekonomi. Dan trust itu bergerak mengikuti arus modal dunia.” Kata saya dan berdiri karena jemputan sudah datang. “ Semoga sukses selalu..” kata saya berlalu.