“ Gimana sih memahami ilmu ekonomi?
Kenapa ada negara maju dan ada negara terbelakang. Kan pasti mereka pakai ilmu ekonomi“ Tanya Ira saat temanin saya makan sate kambing di kaki lima.
“ Ekonomi itu kan sains. Selalu rumus sains itu adalah rumus keseimbangan. MIsal rumus I = C+S. I itu income. C, Consumsi dan S, Saving. Kan kalau I=10 maka C+S juga 10. Mau dibolak balik gimana aja. Tetap aja harus seimbang.” kata saya.
“ Kalau engga seimbang?
“ Ya salah. Bego namanya.”
“ Kalau income Rp.17 juta per bulan, seperti Pejabat eselon 3. Tapi consumsi nya Rp. 100 juta. Saving nya miliaran. Gimana ? hayoo” Kata Ira tertawa. “ Itu fakta loh. Engga ada masalah. Terjadi massive. Gimana teori menjelaskannya? “ Sambung ira.
“ Itu realitas. Beda dengan fakta. Realita bukan sains. Tetapi seni sana seperti politik, Dunia persepsi.. “ Kata saya.
“ Mulai dech kamu seperti Rocky. Berfilsafat. Bikin orang bingung” kata ira.
“ Induk sains itu adalah filsafat. Kita harus pahami fisalfat. Agar kita bisa jernih melihat kehidupan ini tanpa terjebak dengan ilusi. Focus kepada akal sehat.” Kata saya.
“ Tapi realitas itu menterawakan sains. “ kata Ira lagi.
“ Yang mentertawakan orang dungu. Biarin saja. Kan perlu diladenin. Kalau diladenin kita sama dungu nya” Kata saya. Ira tertawa..