Kredibilitas Negara

Arsip Terupdate
“Ale, mau tanya,” kata Aling begitu saya masuk kantor pagi-pagi. Ia sudah duduk di ruang kerja. Seperti biasa, Aling selalu datang pukul delapan. Rapi, cepat, dan selalu lebih ingin tahu daripada yang ia akui. “Kata Awi, lu lagi main trading SBN. Gimana sih caranya?” Saya menaruh tas, mengambil iPad, lalu membuka aplikasi corat-coret. “Kalau dijelaskan pakai kata-kata, kamu bisa salah paham. Kita gambar saja.” Saya mengambil Apple Pencil dan menulis di layar: Short SBN Rp20 triliun Yield awal kontrak Maret: 6,54%Tutup kontrak Juni: 7,44% Kenaikan yield: 90 bps Aling memperhatikan layar. Saya menggambar panah ke atas di samping kata yield. “Kalau yield naik, harga obligasi turun,” kata saya. Saya tulis rumusnya: Harga turun ≈ duration × kenaikan yield Lalu saya hitung perlahan. 7 × 0,90% = 6,30% Saya lingkari angka itu. “Artinya, harga SBN turun sekitar 6,3 persen.” Aling mengangguk. “Karena trader short, harga turun berarti profit?” “Benar.” Saya lanjut menulis: 6,30% × Rp20 triliun = Rp1,26 triliun Aling menatap angka itu beberapa detik. “Profit kotor Rp1,26 triliun?” “Ya. Itu sebelum biaya.” Ia tersenyum kecil. “Pantas banyak trader tergoda short.” Saya menatapnya. “Banyak trader tergoda bukan karena bodoh. Mereka tergoda karena leverage membuat angka kecil terlihat seperti keajaiban.” Saya membuka halaman baru di iPad. Lalu menggambar tiga kotak. Kotak pertama saya tulis: Bank Jepang / funding yen Kotak kedua: Trader Kotak ketiga: Pasar SBN Indonesia Saya hubungkan ketiganya dengan panah. “Sekarang kita masukkan carry trade yen.” Aling mendekat. Saya menulis: Collateral 30% dari Rp20 triliun = Rp6 triliun “Trader tidak perlu menyediakan Rp20 triliun penuh. Untuk membangun posisi short Rp20 triliun, dia hanya butuh collateral. Misalnya tiga puluh persen.” “Rp6 triliun.” “Ya.” Saya menulis lagi: Pinjam yen murah → konversi ke rupiah → menjadi collateral Aling mengangguk pelan. “Jadi yen dipakai sebagai daya tembak.” “Tepat. Yen itu peluru murah. Tapi peluru murah tetap bisa meledak di tangan sendiri kalau salah pegang.” Saya menulis asumsi berikut: Kurs masuk: Rp110/JPY, Pinjaman yen = Rp6 triliun / 110= ¥54,55 miliar “Jadi trader pinjam sekitar 54,55 miliar yen,” kata Aling. “Betul.” Saya lanjutkan: Biaya funding yen: 1% per tahun. Periode: 102 hari Saya hitung di iPad: 1% × 102/365 × Rp6 triliun = Rp16,8 miliar Saya lingkari angka itu. “Biaya bunganya kecil.” “Karena yen murah?” “Ya. Itulah daya tarik carry trade. Kamu meminjam dari dunia yang bunganya rendah, lalu masuk ke aset di dunia yang yield-nya tinggi atau volatilitasnya besar.” Aling diam. Saya tahu ia sedang membayangkan bagaimana dana global bergerak: dari Tokyo ke Singapore, dari Singapore ke Jakarta, dari meja prime broker ke pasar SBN, dari perubahan kecil pada yield menjadi profit triliunan. “Tapi ada masalah,” kata saya. Aling menoleh. “Yen bisa menguat.” Saya membuka halaman baru. Lalu menulis: JPY/IDR naik dari 110 ke 112,42 “Kalau trader punya utang yen, lalu yen menguat terhadap rupiah, apa yang terjadi?” “Utangnya dalam rupiah jadi lebih mahal,” jawab Aling. “Benar.” Saya hitung: 112,42 / 110 - 1 = 2,20% Lalu: 2,20% × Rp6 triliun = Rp132 miliar Aling menarik napas pelan. “Jadi rugi kurs yen Rp132 miliar.” “Ya. Carry trade selalu tampak indah selama mata uang funding tidak berbalik arah. Begitu yen menguat, trader mulai sadar bahwa uang murah tidak pernah benar-benar gratis.” Saya kembali ke halaman utama dan membuat ringkasan besar. Profit short SBN: Rp1,26 triliun Biaya bunga yen: Rp16,8 miliar. Rugi kurs yen: Rp132 miliar Lalu saya tulis hasil akhirnya: Net profit = Rp1,26 triliun - Rp16,8 miliar - Rp132 miliar = Rp1,111 triliun Aling menatap angka itu lama. “Masih besar.” “Masih besar, karena pergerakan yield-nya besar. Dari 6,54 ke 7,44 persen itu bukan 50 bps. Itu 90 bps. Dalam obligasi berdurasi panjang, itu gempa.” Saya menulis satu lagi: Net margin atas notional Rp20 triliun: Rp1,111 triliun / Rp20 triliun = 5,56% Lalu: Return atas collateral Rp6 triliun: Rp1,111 triliun / Rp6 triliun = 18,52% Aling membaca pelan. “Jadi dalam sekitar tiga bulan, return terhadap collateral bisa 18,52 persen.” “Ya. Itulah mengapa hedge fund tidak berpikir seperti deposan. Mereka tidak hanya mencari bunga. Mereka mencari dislokasi.” “Dislokasi?” “Ketidakseimbangan harga. Yield yang bergerak terlalu cepat. Mata uang yang tertekan. Pemerintah yang lambat membaca pasar. Rating yang memberi sinyal. Bank sentral yang dipaksa bereaksi. Semua itu menciptakan ruang cuan.” Aling menyandarkan punggungnya ke kursi. " Jadi selama ini target hedge fund memang SBN ya? Bukan saham atau kurs?” “SBN itu pusat gravitasinya,” jawab saya. “Saham bisa jadi pintu masuk sentimen. Kurs bisa jadi alarm. Tapi SBN adalah tempat pasar menghitung harga kepercayaan negara.” “Maksudnya?” “Kalau pasar tidak percaya fiskal, yield naik. Kalau rupiah tertekan, yield naik. Kalau rating terancam, yield naik. Kalau BI terlambat, yield naik. Dan setiap yield naik, harga SBN turun.” “Jadi tekanan ke kurs dan saham itu trigger?” “Bisa begitu. Bukan selalu target utama. Kadang itu sinyal untuk memaksa repricing risiko. Kalau rupiah jatuh, BI tertekan menaikkan bunga. Kalau bunga naik, kurva yield ikut bergerak. Kalau yield naik, posisi short SBN menghasilkan uang.” Aling menatap saya lama. “Kan jahat, Ale.” Saya diam sebentar. “Pasar memang tidak dibangun untuk menjadi baik hati.” “Jawaban lu dingin amat.” “Karena pasar juga dingin. Dia tidak bertanya siapa yang menangis. Dia hanya bertanya siapa yang salah harga.” Aling memandang iPad lagi. Angka Rp1,111 triliun masih ada di layar. “Sekarang kurs menguat. IHSG rebound. Yield akan turun dong?” “Bisa.” “Kalau yield turun, trader short rugi?” “Kalau dia belum tutup posisi, ya rugi. Tapi trader besar biasanya tidak berpikir satu putaran. Mereka berpikir siklus.” “Siklus apa?” Saya menggambar gelombang di iPad. “Ini namanya zona floating. Pasar naik-turun dalam rentang tertentu. Euforia datang, investor masuk, rupiah menguat, IHSG rebound, yield turun. Lalu setelah euforia selesai, pasar menguji lagi: apakah fundamental benar-benar membaik, atau hanya sentimen sementara?” “Kalau ternyata cuma sentimen?” “Yield bisa naik lagi.” “Dan trader masuk lagi?” “Kalau struktur risikonya masih terbuka, iya.” Aling mengerutkan dahi. “Jadi dibuat naik-turun terus?” “Bukan sesederhana itu. Pasar bukan satu orang yang menekan tombol. Tapi banyak pelaku besar bisa membaca kelemahan yang sama. Kalau fiskal rapuh, ekspor terganggu, rupiah sensitif, rating terancam, dan BI harus menjaga kredibilitas, maka setiap euforia akan diuji lagi.” “Diuji sampai kapan?” “Sampai negara membuat biaya melawan pasar menjadi mahal.” “Maksudnya?” “Sampai fiskal disiplin. Sampai ekspor lancar. Sampai pasokan devisa kuat. Sampai BI punya bantalan. Sampai rating aman. Sampai investor percaya bahwa kebijakan bukan sekadar reaksi panik.” Aling diam. Saya menunjuk grafik di iPad. “Kalau negara tidak memperbaiki fundamental, pasar akan terus melakukan hal yang sama. Naikkan premi risiko. Tekan kurs. Uji yield. Lihat respons BI. Lihat respons fiskal. Lihat rating. Begitu terus.” “Sampai yield dua digit?” “Kalau kredibilitas runtuh, bisa saja. Tetapi kalau pemerintah cepat sadar dan memilih disiplin, tidak harus sampai ke sana.” “Jadi kuncinya bukan hedge fund?” “Bukan.” “Lalu?” “Kredibilitas negara.” Aling menatap saya. “Kalau negara kredibel, trader takut short?” “Trader tetap bisa short. Tapi risikonya mahal. Mereka bisa terbakar kalau pemerintah punya data kuat, cadangan cukup, fiskal disiplin, dan komunikasi yang dipercaya.” Saya menutup iPad. “Pasar tidak bisa dikalahkan dengan pidato. Pasar hanya bisa dihentikan dengan kredibilitas.” Aling masih diam. Ia seperti sedang mencerna sesuatu yang lebih besar daripada angka di layar. Saya berdiri, mengambil kopi, lalu berkata pelan. “Aling, dalam trading, yang terlihat hanya profit. Tapi di balik profit itu ada pesan. Kalau ada orang bisa untung Rp1,111 triliun dari short SBN, berarti ada celah besar dalam kredibilitas negara.” Ia menoleh. “Jadi itu bukan sekadar cuan trader?” “Bukan. Itu harga dari kelambatan negara membaca risiko.” Aling menarik napas panjang. “ Ale gua terlalu jauh gua pahami. Padahal dulu hanya sales jalanan. “