KEMBALI
Dashboard.
Indonesia emas 2045
Arsip Terupdate
Saya sering tidak mengerti mengapa elite kita begitu senang berbicara tentang Indonesia Emas 2045 dan kemarin Presiden mengatakan tahun 2050 Indonesia akan jadi kekuatan ekonomi nomor 4 dunia. Seolah-olah kebesaran adalah kereta api. Kita cukup membeli tiket, duduk, lalu pada tahun 2050 kondektur akan berteriak “ Selamat, kita sudah tiba di negara maju.” Padahal sejarah tidak bekerja seperti itu. Ketika China berbicara mengenai masa depan rare earth, mereka tidak sedang berdiri di podium sambil menunjuk tahun tertentu. Sejak 1980-an mereka sudah membangun industrinya. Pada 1992 Deng Xiaoping mengatakan bahwa Timur Tengah mempunyai minyak, sedangkan China mempunyai rare earth. Itu bukan ramalan. Itu pernyataan seseorang yang mengetahui apa yang sedang dikerjakan negaranya hari itu. China kemudian menghabiskan puluhan tahun membangun pertambangan, pemisahan dan pemurnian, metalurgi, material maju, magnet permanen, tenaga ahli, industri pengguna dan supply chain. Hari ini China menguasai sekitar 90% pemrosesan rare earth dan lebih dari 90% produksi magnet permanen berbasis rare earth. Dunia baru tersadar ketika ketergantungannya sudah terbentuk. Itulah perbedaan antara mempunyai masa depan dan membicarakan masa depan. Teknologi membutuhkan waktu. Dari riset dasar menjadi paten membutuhkan tahun. Dari paten menjadi prototipe membutuhkan modal. Dari prototipe menjadi produk membutuhkan engineering. Dari produk menjadi industri membutuhkan supply chain. Dari industri menjadi standar global membutuhkan pasar, reputasi dan puluhan ribu manusia terampil. Maka kalau Indonesia ingin menjadi negara besar pada 2050, pertanyaan yang relevan sebenarnya sederhana “ Apa yang sedang kita kerjakan pada 2026 yang dunia akan butuhkan pada 2036–2050? Karena tidak mungkin pada 2049 kita baru mengadakan rapat koordinasi, lalu tahun berikutnya menjadi negara maju. Sumber daya alam juga tidak otomatis membuat negara besar. SDA yang masih bergantung pada teknologi asing bukan kekuatan teknologi. Tambang yang menghasilkan devisa memang bernilai ekonomi, tetapi menggali sesuatu dari tanah berbeda dengan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Begitu pula bonus demografi. Penduduk 280 juta mayoritas tidak tamat SLA. Mayoritas hidup di sektor informal. Negara besar bukan negara yang mempunyai banyak manusia. Negara besar mempunyai banyak manusia yang mampu menghasilkan sesuatu yang sulit dibuat negara lain. Jepang tidak besar karena minyak. Korea Selatan tidak besar karena tambang. Taiwan tidak besar karena wilayahnya. Mereka membangun kemampuan yang membuat negara lain berkata “ Kami membutuhkan apa yang kalian bisa buat.” Itulah bargaining power sesungguhnya yang pantas menerima masa depan gemilang. Mengapa ? SDA akhirnya habis. Upah murah akhirnya naik. Bonus demografi akhirnya menua. Tetapi knowledge compounds. Seorang ilmuwan mendidik ilmuwan berikutnya. Sebuah laboratorium melahirkan paten. Paten melahirkan perusahaan. Perusahaan membangun supply chain. Supply chain menciptakan keterampilan. Keterampilan melahirkan teknologi generasi berikutnya. Itulah compound interest sebuah peradaban. Maka saya tidak terlalu tertarik mendengar Indonesia akan menjadi negara besar pada 2050. Saya malu kepada dunia luar yang anggap elit kita badut.