Logistik
( smart financial).
Indonesia berada di peringkat ke-14 sebagai negara penghasil gas alam terbesar di dunia. Indonesia juga masuk dalam 10 besar negara pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Pada tahun 2022, Indonesia mengimpor gas sebanyak 6,8 juta ton. Negara asal impor gas terbesar Indonesia adalah Amerika Serikat dengan volume sekitar 2,8 juta ton, sedangkan Uni Emirat Arab menjadi pemasok terbesar kedua dengan volume sekitar 1,9 juta ton.
Mengapa kita eksportir dan juga importir gas ? karena semua ladang gas kita sudah di offtake oleh buyer international. Mengapa kita tidak bisa jadi offtaker ? karena untuk bisa jadi offtaker, harus punya kemampuan logistic. Maklum Gas itu mudah terbakar. Tanpa ketersediaan tekhnologi logistic sangat riskan dalam pengangkutan dan penyimpanan. Itu satu contoh betapa penguasaan bisnis bisa mengontrol pemilik sumber daya.
Kalau anda lihat berpuluh juta ton batubara, nikel di ekspor ke luar negeri. Sebagian besar ekspor itu melalui Singapore. Mengapa ? cargo batubara dan nikel itu sangat besar. Di Indonesia tidak ada BUMN/Swasta yang punya kapasitas logistic berkelasa dunia itu. Jadi masih tergantung kepada asing. Makanya jangan kaget, walau kita surplus neraca perdagangan. Tetapi neraca jasa tetap aja defisit. Tentu DHE masuk ke Singapore lebih besar.
Jadi pengelola logistic international itu bagian dari ekosistem financial global. Sngapore adalah hub financial global. Hampir semua pemilik raksasa logistic terhubung dengan Lembaga hedge fund yang mengelola portfolio supply chain global. Mereka mengontrol sumber daya oil and gas, mining, industry dan manufaktur, komoditas pangan.
Dan sampai kini kita tidak pernah memahami lanskap ekonomi dunia. Makanya kita terlalu puritan sebagai bangsa di hadapan kekuatan financial global. Besar tetapi bagi mereka lilliput. Karena kepemimpinan yang low class.