Mobil kami menyusuri pusat kota, melewati gedung-gedung yang berdiri seperti monumen ambisi, sementara di kejauhan suara sirine masih terdengar sesekali—seperti gema dari bencana yang belum tuntas.
Di samping saya, Aling memegang tablet berisi data deforestasi Sumut dan Aceh.
Ia menatap angka-angka itu bukan seperti membaca laporan finansial, tetapi seperti melihat daftar nama orang yang wafat dalam diam.
“Ale… dalam tiga dekade 1,2 juta hektare di Sumut hilang. 600 ribu hektare di Aceh lenyap.
Totalnya 1,8 juta hektare, itu setara 180 juta pohon.”
Saya tidak segera menjawab. Di luar kaca, kehidupan kota seperti tidak peduli: restoran penuh, mal terang, orang-orang sibuk mengejar diskon. Dunia terasa baik-baik saja, kecuali bagi mereka yang tinggal di tanah yang sudah hanyut terbawa arus.
“Ling… itu bukan hanya angka. Itu jejak ketamakan manusia yang memakai istilah pembangunan untuk membenarkan perampasan.”
Aling menatap saya tajam, lalu berkata lirih,
“Tapi kita… kita menikmati financial freedom.
Apa kita berbeda, Ale?”
Pertanyaan itu menggantung. Berat. Nyaring dalam diamnya.
Saya menelan napas perlahan.
“ Ling, kita bukan dari rente, bukan dari menjarah kayu atau merusak ekologi. Kita bukan bagian dari jaringan yang mengubah hutan menjadi angka dan air mata. Bisnis kita lahir dari kreativitas, dari kompetisi, dari mengubah ketidakpastian menjadi peluang, dari mengambil risiko yang orang lain tidak berani ambil. “”
Saya melihat pantulan lampu kota di kaca jendela, seperti simbol dua dunia yang bertabrakan: dunia yang membangun dan dunia yang merusak.
“Tapi sayangnya, Ling… tidak semua rakyat Indonesia punya kesempatan itu. Mereka tidak diberi alat untuk naik kelas. Mereka dimiskinkan literasi, dibutakan oleh harapan politik yang menipu. Dijanjikan kesejahteraan, tapi dibekali kebodohan yang sistematis.”
Aling mengangguk perlahan.
“Rakyat disuruh percaya pada slogan, bukan pada logika.”
“Betul, Ling. Dan pemimpin yang membodohkan rakyat selalu akan mengulang dosa yang sama: menukar masa depan bangsa dengan suara jangka pendek.”
Aling menutup tabletnya.
“Ale… aneh ya, negara lain 100 korban saja sudah darurat nasional, Thailand 160 korban langsung mengibarkan bendera darurat,
Sri Lanka juga. Indonesia? 600 orang meninggal, tiga provinsi hancur… tetap biasa saja.”
Saya tersenyum pahit.
“ Karena mengumumkan darurat berarti harus mengakui kesalahan. Dan mengakui kesalahan berarti harus menantang orang-orang yang memegang izin, saham, dan rente. Mereka lebih takut kehilangan kepentingan daripada kehilangan rakyat. “
“ Ale, rakyat yang tidak diberi literasi, akan selalu menjadi korban, bahkan ketika bencana datang dari ulah elit. Dan elit yang kehilangan moral, akan selalu menganggap bencana sebagai statistik, bukan tragedi manusia. “
Aling memejamkan mata sejenak, seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
“Ale… kalau begini terus, siapa yang akan memperbaiki negeri ini?”
Saya memandang ke luar “ Mungkin bukan kita, Ling. Tapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari mereka yang merusaknya.
Kadang itu sudah cukup untuk memulai perubahan kecil.”
Kami terdiam seakan kehilangan kata kata.
“ Awi sudah terbang ke medan sejak hari minggu sore. Tenang aja. Dia tahu apa yang harus dikerjakan. Saya akan pantau terus “ kata aling. Saya mengangguk.