Value kita

Arsip Terupdate
Bulan lalu saya mengikuti diskusi terbatas bersama beberapa kalangan akademisi dan teman-teman yang selama ini banyak menaruh perhatian pada arah pembangunan Indonesia. Dalam diskusi itu saya menyampaikan bahwa memahami ekonomi negara tidak bisa hanya dilihat dari angka pertumbuhan, APBN, investasi, atau statistik PDB semata. Karena ekonomi pada dasarnya adalah refleksi dari struktur sosial, budaya, politik, dan cara sebuah bangsa membangun peradabannya. Saya mengatakan kepada mereka bahwa banyak negara berkembang gagal memahami pembangunan karena terlalu melihat ekonomi secara teknokratis. Padahal membangun negara tidak cukup hanya memahami teori ekonomi. Negara harus dipahami sebagai sistem sosial yang kompleks. Karena itu, untuk memahami mengapa suatu bangsa bisa maju atau gagal, kita harus melihat secara lebih luas dalam ilmu sociology untuk memahami struktur masyarakat. Ilmu public policy untuk memahami desain kelembagaan. Ilmu Filsafat untuk memahami orientasi peradaban. Ilmu development studies untuk memahami transformasi ekonomi, dan Ilmu social engineering untuk memahami bagaimana negara membangun perilaku kolektif masyarakatnya. Saya lengkapi dengan contoh di China. Karena ini pengalaman praktis. Maklum saya pernah jadi anggota team consultant China western Development Program, yang kini mulai melesat dari ketertinggalannya dari wilayah lain di China. China menjadi menarik bukan hanya karena pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi karena mereka membangun modernisasi dengan pendekatan multidisiplin. Mereka tidak hanya membangun industri dan teknologi, tetapi juga membangun komunitas, membangun disiplin sosial, membangun meritokrasi birokrasi, membangun modal sosial, dan membangun keterhubungan antara negara, masyarakat, dan industri. Saya mengatakan dalam diskusi itu, “Sains melahirkan pengetahuan, tetapi kebudayaanlah yang mengajarkan bagaimana pengetahuan itu dipakai untuk memanusiakan manusia. Demikian pula agama. Agama bukan sekadar ritual dan identitas, melainkan cahaya etika yang seharusnya menerangi kebudayaan agar tidak kehilangan arah kemanusiaannya. Itu ada pada Pancasila. Kalau kalian baca dengan teliti Pancasila dalam pemikiran Bung Karno. Kalian akan paham. Negara kita gagal melahirkan elite bangsa yang bisa memahami Pancasila dalam kehidupan sehari hari. Dari diskusi itu kemudian saya menulisnya dan upload ke blog, dalam tiga tema. Tiongkok Modern Berbasis Sains, Pertumbuhan Berkeadilan Cara China, dan Modal Sosial sebagai Kekuatan Bangsa. Moga teman DDB dapat membacanya.