Nilai tambah

Arsip Terupdate
“Ale, saya heran.” Kata Herman saat ketemu kemarin. “Apa lagi, Herman?” “Kok pemilik pabrik cat bisa jadi orang terkaya di Indonesia. Orang cuma jualan cat doang “ “ Dia hanya mencampur berbagai bahan kimia, yang semuanya impor “ kata saya. “ Cat bisa menempel kuat, tahan hujan, tidak mudah pudar, bahkan mengilap puluhan tahun karena ada bahan pelapis atau coating yang salah satu bahan pentingnya menggunakan pigmen titanium dioxide atau nama unsur kimianya TiO₂ “ “Itu dari apa?” “Dari mineral yang namanya ilmenite.” “Apa itu ilmenite?” “Itu mineral yang banyak ditemukan di pasir pantai bersama zircon, rutile, dan monazite.” “Lalu?” “Pasir itu tidak langsung jadi cat.” Saya mengambil tisu lalu menggambar. “ Pertama, pasir mineral dipisahkan berdasarkan jenis mineralnya. Itu pakai mesin separator “ “Setelah itu?” “Ilmenite dibawa ke refinery .” “Di sana diapakan?” “Ilmenite dimurnikan melalui proses kimia hingga menghasilkan Titanium Dioxide (TiO₂).. Bentuknya tepung warna putih ?” “Terus?” “Serbuk TiO₂ itu dicampur dengan resin, binder, pelarut, dan berbagai aditif menggunakan mesin berkecepatan tinggi sampai menjadi cat.” “Jadi yang bikin cat imengilap itu TiO₂?” “Bukan hanya mengkilat . TiO₂ punya kemampuan memantulkan cahaya sangat tinggi. Makanya cat terlihat cerah, mengilap, mampu menutup warna lama hanya dengan beberapa lapis, sekaligus lebih tahan terhadap sinar matahari.” Herman manggut-manggut. “ Pantas saja mahal.” “Yang mahal justru teknologi memurnikannya.” “Berapa harga ilmenite?” “Sekitar US$200–400 per ton, tergantung kadar titanium dan kualitasnya.” “Kalau sudah jadi TiO₂?” “Itu melonjak jauh.” “Berapa?” “Sekitar US$2.500–4.000 per ton untuk grade industri cat.” Herman membelalakkan mata. “ Hampir sepuluh kali lipat?” Saya tersenyum. “ Itu baru TiO₂.” “Kalau sudah menjadi cat premium?” “Nilai jualnya bisa mencapai US$3.000–8.000 per ton, tergantung formulasi, merek, dan segmen pasarnya.” Herman terdiam lama. “ Punya pabrik cat aja udak kaya apalagi produksi bahannya, mengubah pasir menjadi teknologi.” Saya mengangguk. “ Itulah industri. Nilai tambah tidak lahir karena menjual bahan mentah tapi karena IPTEK. Itulah sebabnya negara yang hanya mengekspor komoditas SDA tidak akan pernah sekaya negara yang menguasai teknologi pemurnian, bahan kimia, dan manufaktur turunannya.” Herman menyesap kopinya. “ Saya baru paham sekarang.” “Paham apa?” “Yang paling mahal di dunia ternyata bukan pasirnya. Tapi otak yang tahu bagaimana mengubah pasir menjadi sesuatu yang dibutuhkan seluruh dunia.” Kata Herman. “ kok lu ngerti amat ? Tanya Herman. Saya senyum aja. Tahun 2012, Yuan udah punya pabrik TiO2, di china untuk supply chain pabrik cat dan coating bathtub di seluruh dunia