Sehabis sholat subuh, oma bertanya kepada saya.” Pah, oligarki itu apa ?
“ Oligarki akar kata dari Bahasa Yunani kuno, yang terdiri oligos dan arkho. Oligos berarti sedikit atau elite. Arkho, memerintah atau pemerintahan. Jadi kalau diartinya secara harpiah, oligarki itu semacam pemerintahan yang dijalankan oleh elite “ kata saya.
“ Elite itu apa ? tanya oma lagi.
“ Elite itu ya mereka yang punya akses kepada pengetahuan, informasi, harta dan kekuasaan. Di Indonesia, jumlah mereka sekitar 1000 orang saja. “ kata saya.
“ Siapa aja elite itu ? duh pertanyaan nya terstruktur sekali. Kalau Oma tidak merasa jadi ratu di rumah, mana mungkin bisa bertanya begini.
“ Pertama, orang yang punya pengetahuan tapi menguasai informasi penting. Jadi walau dosen S3 atau professor tetapi tidak punya akses informasi A1 , ya bukan elite. Kedua, para pimpinan partai, yang mengendalikan Anggora DPR/D, dan kadernya yang jadi walikota, Gubernur, Bupati, Menteri, bahkan presiden, termasuk para pimpinan Lembaga negara seperti MA, BPK, MA dan lain lain.. Ketiga, pengusaha yang mengendalikan bisnis konglomerasi. "
“ Terus kenapa kalau nonton TV, sepertinya oligarkhi itu kesannya buruk?
“ Karena mereka mengatur arah kebijakan politik yang membuat lembaga demokrasi jadi rapuh. Sehingga fungsi trias politika untuk check and balance engga jalan. Dan kalau ada masyarakat sipil yang kritik, itu sangat mudah di kriminalisasi lewat UU dan aturan. “ Kata saya.
“ Menurut papa bagus atau buruk itu ?
“ Ya tergantung elite nya lah. Kalau elite nya berniat baik, bagus. Seperti di China. Itu contoh yang vulgar tentang oligarki, dimana partai, cendekiawan, korporat bergandengan tangan. Tapi bukan memperkaya diri sendiri tetapi memakmurkan rakyat. Sama halnya dengan Arab Saudi. Itu kan monarki absolut. Lebih oligarki. Tetapi rakyatnya Makmur.
Beda dengan Venezuela walau SDA minyaknya lebih besar dari Arab atau China, namun karena oligarki membuat rakyatnya miskin. Itu buruk laku namanya. “ kata saya.
“ Kalau Indonesia gimana ? bagus atau buruk?
“ Ya engga tahu mah.”
“ Aneh, negara lain papa bisa nilai. Negara sendiri engga bisa.”
“ Mana ada orang bisa melihat dirinya sendiri. Kecuali orang lain yang bisa lihat. Kalaupun ada cermin atau photo, kan engga objectif. Hanya satu sisi saja.” Kata saya. “ jadi jangan tanya papa, tanya sama orang asing.” Sambung saya.
" Apa kata orang asing terhadap Indonesia. Baik atau buruk" tanya oma lagi.
" Ya engga tahu. Tapi lihat aja kurs kita terus melemah. Itu artinya trust kepada pemerintah semakin rendah.Semakin tinggi trust terhadap mata uang semakin baik pemerintah itu. Kalau trust rendah ya artinya buruk pemerintahan itu. " kata saya sekenanya. Oma diam aja. Dia malah ke dapur jadi supervisor ART siapkan sarapan pagi.