tiga periode

Arsip Terupdate
“Papa setuju Jokowi tiga periode” tanya Oma saat saya minum kopi dan tahu goreng. “ Kalau ditanya pengusaha. Semua maunya Jokowi tiga periode. Kalau bisa engga usah diganti selama lamanya” Kata saya. “ Ya Jokowi ramah dengan rakyat, apalagi pengusaha.” Kata Oma. “ Benar mah. Disaat pemerintah sedang gencar gencarnya membangun ketertinggalan infrastruktur, otak pengusaha bergerak liar memanfaatkan peluang itu. Mereka tajir melintir karena itu. Pemerintah perlu bangun pelabuhan. Pengusaha datang menawarkan B2B. “ Saya punya mitra dari Jepang. Siap jadikan pelabuhan itu sebagai pusat logistik. Kami mohon diberi ijin sebagai pengelola pelabuhan itu” Katanya. Setelah lobi melelahkan. Pemerintah setuju bangun dan masuk program pembangunan strategis. “ Terus apa yang terjadi kemudian. “ “ Setelah pelabuhan rampung dibangun. Diresmikan dengan gebyar. Engga ada kapal yang datang. Apa pasal? kedalaman pelabuhan hanya 7 meter. Engga cukup untuk kapal mother vessel yang perlu kedalaman 16 meter. “ “ Ya keruk dong. “ “ Ok digeruk lagi itu pelabuhan agar bisa kapal sandar. Tetap aja kembali kepada kedalaman awal yaitu 7 meter. “ Kenapa ? “ karena tidak jauh dari pelabuhan itu ada muara. Muara itu membawa sendimen ke pelabuhan. Kan engga mungkin muara ditutup.” “ Jadi itu proyek selesai dan rampung. Tidak mangkrak. Tetapi sia sia. Terus siapa yang untung? “ Ya pengusaha. Karena B2B. Kan dia yang bebaskan tanah dan pemerintah yang bayar .Tanah seharga Rp. 50.000 /M2. Dibayar pemerintah Rp. 2 juta/M2. Jadi sebenarnya dari awal bangun pelabuhan itu hanya skema jualan tanah doang. hebat ya. Triliuan dana APBN menguap begitu saja. Tidak bisa disalahkan secara hukum. Karena proyek diback up dengan Perpres proyek starategis nasional. “ Kata saya tersenyum. “Terus… “ Pemerintah gencar gencarnya membangun proyek 4G. “ Kita harus masuk era 4G. “ Katanya. Dengan beragam fasilitas didorong agar business unicorn bangkit. Tapi apa yang terjadi? banyak start up yang bangkrut. “ Apa pasal. ? “ Oh ternyata kita engga punya gateway internet dan data center berskala super terrabite yang berada di Tier 1. Terpaksa dech pakai gateway singapore punya google. Tentu lebih mahal. Makanya yang modal tanggung tewas. Yang modal lumayan, bukannya bangun sendiri Datacenter malah bancakin investor pasar modal. Okelah. Kalau begitu bangun back bone sendiri. Eh anggarannya dibancaki oleh menkoinfo. “ Ampun dah…Terus ..” “ Pemerintah bangun KEK.” Ini penting untuk membuka pusat ekonomi baru” Kata Presiden. Semua mendukung. Setelah KEK dibangun dan tanah dibebaskan. Apa yang terjadi ? KEK jadi sepi penghuni. Apa pasal? “Engga ada jalan ke sana pak. Engga ada listrik pak.” Nah pemerintah bangun dah jalan toll untuk akses ke KEK. Tapi datang lagi usulan “ Pak kalau cuman bangun toll untuk KEK. Mending bangun tol biasa dan kita beri akses ke KEK. “ Kata pembisik. Ok lah. Bangun. “ “ Terus apa yang terjadi? “ Ya jalan toll jadi, akses ke KEK engga juga ada. Ya udah. Untung lagi bebaskan tanah untuk KEK dan Jalan Toll.“ “ Jadi yang jahat itu pengusaha ya pah. Kok tega amat boongin presiden gua. “ “ Ya engga juga jahat. Pengusaha dimana mana kan cari peluang. Engga ada peluang ya ciptakan. Kan begitu bisnis.” Kata saya seraya seruput kopi pagi. “ Jadi benar cerita Florence..” Kata oma. Duh kena gua. Tuhan selamatkan daku…bakalan panjang nih merepetnya. Benar kan. Habis gua dikuliti bini. Ya diam aja. “ Papa udah tua tapi kelakuan tetap mantiko. Engga malu apa dengan umur.” kata oma. “ Bukan papa mah. Itu awi sama teman temannya. Papa engga ada bisnis gituan. “ Kata saya senyum kecut.Makin kencang oma ngomelnya.