Ekonomi Indonesia April 2026

Arsip Terupdate
Di bawah langit Bandung yang basah oleh gerimis senja, tiga pasang mata bertemu di sudut kafe lawas Jalan Braga. Hawa dingin kota kembang menyusup lewat jendela kayu jati yang retak, tetapi hawa di dalam ruangan jauh lebih panas—bukan oleh kopi robusta yang mengepul, melainkan oleh perang angka yang baru saja meletup dari layar ponsel mereka. Raka—ekonom pasar yang lidahnya setajam pecahan kaca—menjatuhkan ponselnya ke meja marmer. Layarnya masih berpendar menampilkan kurs tengah BI: Rp17.104 per dolar AS. “Gila,” desisnya, separuh pada dirinya sendiri. “Kalian lihat? Darah dolar mengucur deras dari pembuluh negeri ini, dan kita cuma bisa duduk manis di kafe sambil menyesap latte.” Dewi—analis senior yang urat sarafnya menyatu dengan detak Bloomberg Terminal—mengangkat wajah. Matanya merah, bekas bergadang membaca pergerakan imbal hasil obligasi AS. “Jangan dramatis, Raka. Pasar selalu lebih cepat dari mulutmu. Dan kau tahu sendiri, posisi kita memang sedang limbung. PII negatif dua ratus tujuh puluh dua miliar dolar itu bukan angka fiktif dari dongeng pengantar tidur.” Guntur—pejabat senior yang lidahnya terlatih mengunyah istilah teknis menjadi permen diplomasi—menyandarkan punggung ke kursi rotan. Ia menatap lukisan Art Deco di dinding, seakan mencari metafora yang tepat. “Kasar sekali bahasamu. Kau bicara seolah kami di gedung putih itu hanya diam menonton kapal karam. Cadangan devisa memang susut, seratus empat puluh delapan koma dua miliar sekarang, tapi itu bukti kami bertarung, bukan berpangku tangan!” Raka tertawa pendek, sinis. Bunyinya seperti gesekan amplas di kayu lapuk. “Bertarung? Menghamburkan peluru di tengah badai? Guntur, kau hitung sendiri. Portofolio asing di pasar kita hampir dua ratus sembilan puluh tiga miliar. Kalau sepuluh persen saja hengkang—sekadar dua puluh sembilan miliar—itu sudah merenggut dua puluh persen bantal tipis cadanganmu. Dan mereka memang sedang hengkang. Net sell tiga koma lima enam triliun rupiah seminggu kemarin. Itu bukan bisikan, itu teriakan kepanikan!” Gelas kopi di tangan Dewi bergetar pelan. Bukan karena dingin, melainkan karena getaran halus yang ia rasakan di pasar uang setiap kali data non-farm payroll AS melesat. “Raka benar soal luka neraca,” Dewi menyela, suaranya rendah namun menusuk. “Tapi kau, Raka, lupa bahwa luka ini warisan pesta utang. Utang luar negeri kita empat ratus tiga puluh empat miliar dolar. Pemerintah bahkan menambah porsinya lima koma enam persen tahun lalu. Di saat dunia sedang kering likuiditas, kita malah menambah cangkir untuk menadah hujan yang tak kunjung turun. Kewajiban kita satu setengah kali lipat aset luar negeri. Itu ibarat berdiri dengan satu kaki di tepi Tebing Keraton.” Hening sejenak. Hanya suara mesin espresso dan rintik hujan yang terdengar. Lalu Guntur membalas, kali ini suaranya pecah, kehilangan lapisan diplomasinya. “Lantas kalian maunya apa? Kami harus biarkan rupiah jatuh ke dua puluh ribu seperti simulasi naif para pedagang ketakutan itu? Kalian pikir menjaga nilai tukar itu seperti menggembalakan domba di Padang Rumput Pangalengan? Setiap kali Dollar Index menguat, setiap kali tensi regional memanas, dana-dana panas itu lari tunggang langgang. Hot money. Itu bukan darah daging kita, itu parasit yang sewaktu-waktu bisa pergi!” Raka berdiri, menunjuk layar ponselnya dengan jari telunjuk gemetar. “Parasit? Lalu kenapa kita biarkan parasit itu menguasai hampir tiga ratus miliar dolar portofolio kita? Karena kau dan kolegamu di gedung itu gemar sekali memajang angka pertumbuhan semu yang dibiayai aliran dana jangka pendek! Sekarang, ketika yield obligasi negeri Paman Sam naik, mereka terbang pulang, dan kita ditinggali debu dan puing neraca!” Dewi memejamkan mata, memijit pelipisnya. Di kepalanya, grafik-grafik lilin Jepang menari-nari liar. “Sudah. Kalian berdua seperti dua sisi mata uang yang sama-sama kusam. Raka, kau benar: kerentanan kita telanjang. Struktur PII negatif itu ibarat rumah megah di Lembang yang dibangun di atas patahan gempa. Tapi Guntur juga tidak salah: cadangan devisa yang terkuras adalah bukti perjuangan terakhir menjaga agar atap rumah tidak ambruk menimpa rakyat.” Ia menatap keduanya bergantian. “Masalahnya, pasar bergerak lebih cepat dari perdebatan kita. Gejolak global tidak menunggu kita berdamai. Selama kita masih punya kewajiban neto dua ratus tujuh puluh dua miliar dolar, selama utang jangka panjang kita harus dibayar dengan dolar yang semakin mahal, selama itu pula rupiah akan terus gemetar setiap kali sentimen risk-off menyapu dunia.” Suasana kembali hening. Gerimis di luar mengaburkan lampu-lampu jalan Braga yang mulai menyala. Di atas meja, ponsel Raka kembali bergetar: notifikasi berita terbaru. “Cadangan Devisa Maret: USD148,2 Miliar. Rupiah Diproyeksi Bergerak di 17.040-17.200.” Raka duduk kembali, menghela napas panjang. “Dua belas tahun lalu, kita bertiga duduk di kampus yang sama, mimpi membangun ekonomi yang gagah. Sekarang, kita hanya bisa saling membentak di depan angka yang mencekik.” Guntur menatap keluar jendela, ke arah Gedung Merdeka yang samar-samar di kejauhan. “Kita seperti kota ini, Raka. Cantik dari luar, penuh sejarah dan budaya. Tapi di balik fasad art deco-nya, fondasi kita retak. Dan retakan itu bernama neraca pembayaran.” Dewi menyelesaikan sisa kopinya yang telah dingin. Pahitnya terasa pas di lidah. “Kita tidak perlu kesepakatan malam ini. Kita hanya perlu jujur: luka ini tidak akan sembuh dengan plester intervensi. Ia butuh operasi struktural. Atau kita akan terus menari di atas puing, menunggu outflow sepuluh persen berikutnya benar-benar menghantam kita ke jurang dua puluh ribu.” Malam di Bandung semakin tua. Ketiga sahabat itu pulang dengan arah yang berbeda—satu ke selatan, satu ke pusat kota, satu ke utara menuju perbukitan. Di belakang mereka, layar-layar digital di sudut-sudut kota masih berpendar dengan angka yang sama: rupiah yang limbung, cadangan yang susut, dan ketidakpastian yang beranak-pinak di setiap embusan napas ekonomi. Di kejauhan, hujan kembali turun, membasuh trotoar Braga yang basah oleh tapak sepatu para pelaku pasar yang selalu lebih cepat berlari daripada waktu.