paradox inflasi

Arsip Terupdate
Pada Annual International Forum of Economic Development and Public Policy (AIFED) Senin, 2 Desember 2024, SMI berpidato “Inflasi di Indonesia relatif lebih rendah bahkan dibandingkan dengan banyak negara dengan pendapatan tinggi. “ Menurut saya itu bukan perspektif tetapi persepsi. Apalagi SMI mengatakan itu jika diukur dari tingkat pertumbuhan. Ok lah inflasi kita rendah. Lantas apakah kebaikan dari rendahnya inflasi itu dirasakan oleh rakyat ? kan engga. Hanya segelintir doang yang menikmati financial freedom karena rendahnya inflasi. Sebagian besar suffering. Terbuktinya melemahnya daya beli masyarakat. 10 juta kelas menengah jatuh blangsat. Jadi kalau daya beli turun membuat inflasi rendah dibanggakan, itu mantiko namanya. Ok lah, pertumbuhan tinggi. Pertumbuhan 5% yang kita capai tidak sebanding dengan jumlah utang yang kita tarik. Memang rasio Debt to GNP masih rendah. Tetapi dampaknya tidak seperti negara maju. Debt service ratio kita sudah mengurangi daya dukung sosial APBN. Makanya disaat daya beli drop, kita terpaksa naik kan tarif Pajak PPN, naikan iuran BPJS. Dan karena debt service ratio, kurs rupiah volatile. Membuat dunia usaha males ekspansi. Akibatnya Index PMI kontraksi. So, dalam perspektif ekonomi. Inflasi bukan momok yang menakutkan atau haram. Karena inflasi itu bagian dari beled negara meningkatkan pertumbuhan dan kemakmuran. Inflasi juga berperan sebagai Viagra bagi dunia usaha untuk berproduksi. Namun tentu inflasi harus dikendalikan. Engga boleh terlalu tinggi. Nah yang dimainkan dalam mengendalikan inflasi, ya suku bunga. Kalau uang beredar tinggi tentu inflasi tinggi, ya BI sedot lewat instrument pasar uang. Jadi stabil lagi. Nah Indonesia inflasi rendah, tapi suku bunga tinggi. Kan paradox. Mengapa engga jujur saja. Seperti kata Prabowo di Lima. “ Ekonomi Indonesia tumbuh tetapi kemiskinan dalam skala besar.” Artinya konsep pertumbuhan dan inflasi itu SALAH. Persepsi yang misleading.