Mindset Konglo.
Buy low sell high and pay later. Itu prinsip pengusaha yang diajarkan oleh para ekonom. Kalau anda kelas UKM, utang harus bayar. Engga bayar ya collteral disita bank. Tapi kalau anda pengusaha kelas besar atau konglo. Sekali mereka tarik utang, dikepalanya terus berpikir nambah utang, bukan ngurangi utang. Mana ada mereka mikir bayar utang.
Kalaupun konglo itu bayar utang, itupun tidak dari kas perusahaan atau kantong pribadinya, tetapi lewat skema mengalihkan kepada kreditur dari bank ke investor obligasi lewat penerbitan obligasi atau refinancing. Kalau udah terlalu besar utang, ya mereka exit lewat pasar modal untuk bayar utang. Nanti utang lagi sama bank. Gitu aja terus sampai akhirnya utang itu bubble.
Yang keder bukan yang ngutang. Tetapi yang ngutangi. Mengapa ? upaya refinancing semakin sulit karena likuiditas ketat di pasar. Uang Dapen parkir di SBN. Bank mulai kesulitan likuiditas untuk melakukan ekspansi kepada dunia usaha. Walau bank dapat bunga lancar dari konglo tapi mereka engga pernah bayar saat jatuh tempo. Makanya anda baca berita belakangan ini beberapa bank terbitkan obligasi menarik uang di pasar. Ada juga terpaksa refinancing utang luar negeri.
Tetapi itu tetap tidak cukup menutupi kebutuhan likuiditas bank. Makanya agar perbankan tidak collapse. BI keluarkan insentif likuiditas dalam bentuk kebijakan macroprudential. Ini sebenarnya stimulus. Karena duit tidak berasal dari putaran uang di masyarakat tetapi dari negara. Mengapa ? Ya uang masyarakat udah kena trap sekolah di brangkas konglo.
Ada 4 skema BI dalam kebijakan makroproduntial itu. 1, Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), Dalam bentuk pelonggaran GWM. 2. Skema Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM), dalam bentuk pembiayaan program. 3. Penurunan Loan to Value. 4. Countercyclical Capital Buffer (CCyB). Ini BI injek uang cash langsung lewat fasilitas REPO. Asset bank ditukar dengan uang cash dari BI. Nah uang itu bisa dipakai untuk ekspansi bank. Total insentif macroprudential ini sampai tahun 2024 udah mencapai lebih Rp 400 triliun.
Yang jadi masalah adalah arus DPK ( dana pihak ketiga) semakin melambat. Karena kelas menengah makan tabungan, bahkan ada yang kena trap pinjol. Kelas atas simpan uang di luar negeri. Kan insentif BI ada batasnya. Nah tahun depan lihat aja. Bank akan sama seperti sebelum krismon 1998, dimana bank berlomba lomba menawarkan deposito dan tabungan dengan iming iming hadiah dan bunga menarik.
Itulah dampak dari mindset konglo. Bikin repot negara aja terus… Dalam keadaan ekonomi booming mereka dipuja dan membanggakan diri. Pas ekonomi lesu negara yang harus mikir dan mereka senyum aja.