Titipan

Arsip Terupdate
Malam itu Shanghai berkilau seperti permadani cahaya. Di sebuah kafe yang setengah penuh, aku duduk sendirian — menikmati bir menenangkan, sambil mengamati dunia yang sibuk mencari dirinya sendiri. “Are you Filipino?” tanyanya wanita mendekati table saya seraya membawa botol minuman dan gelas, suara jernih namun ragu-ragu. Aku tersenyum. “No, Indonesia.” Wajahnya berubah sedikit terkejut. “Indonesia? Really? You look… different.” Aku tertawa kecil. “In a good way, I hope.” Ia duduk tanpa diminta — seolah energi malam itu mendorongnya mendekat. Botol itu ia letakkan di atas meja, lalu ia menuangkan minuman ke gelasnya. Ada sesuatu yang ingin ia lupakan, atau mungkin sesuatu yang ingin ia pahami. “Can I ask you something?” katanya. Aku mengangguk “ Mengapa saya selalu gagal dapatkan pria yang saya suka ? Tanyanya. Sepertinya setengah mabok atau lagi stress “ saya money broker pada perusahaan ekuitas “ lanjutannya “Kamu harus cerdas. Realistis. Lihat pria dari sisi primitifnya dulu. Jangan berharap pria seperti bayangan idealmu. Tidak ada pria sejati. Yang ada hanya manusia dengan insting bertahan, kadang lari, kadang menyerah. Pria itu kalau mau kabur, ia lebih licin dari monyet.” Ia terdiam, bibirnya mengecup bibir gelas. “So what should I do?” tanyanya, akhirnya jatuh juga dalam provokasiku. “Jika kamu ingin pria sejati, jangan rampas kebebasannya. Bebaskan dulu dirimu dari keinginan memiliki dia.” Ia mengangkat alis. “Why? Isn’t love about having each other?” Aku menggeleng pelan. “Tidak ada manusia bisa dimiliki. Yang berhak memiliki hanya Tuhan. Begitu kamu ingin memiliki seseorang, kamu mulai menderita. Karena yang kamu ingin miliki itu bukan milikmu. Itu milik Tuhan.” Ia memejamkan mata, mencoba memahami. “But then… does he even love me? Or just himself?” “Apa bedanya? Wanita yang ingin menguasai pria pun sedang mencintai diri sendiri juga.Ego selalu memakai nama cinta untuk menyembunyikan rasa takut kehilangan.” Ia menatapku intens. “Then can I be free too? Like men?” Aku menarik napas. “Itu hakmu. Tapi siap-siap kehilangan pria itu. Ketika wanita merasa bebas, pria merasa tidak dibutuhkan. Ketika pria merasa tidak dibutuhkan, dia akan terbang lebih tinggi. Bagi pria, wanita itu liabilities… bukan aset.” Ia tersenyum pahit. “That’s cruel.” “Itu realitas. Bukan moralitas.” Kemudian ia bertanya tanpa nada malu: “What about sex?” Aku terdiam sebentar. “Pria yang menghormati dirinya akan menjaga staminanya, sama seperti ia menjaga uangnya. Itu sebabnya pria seperti itu biasanya hebat — bukan untuk memuaskan siapa pun, tapi karena ia ingin dihargai.” Ia mengangguk, entah paham atau hanya pura-pura. “So… what’s the conclusion?” Aku tersenyum. “Kesimpulannya… Hidup bukan untuk memiliki. Hidup untuk memahami bahwa semua yang kita sayangi hanyalah titipan. Hubungan apa pun hanyalah best effort — kalau nyaman, syukuri. Kalau tidak, sabari. Tidak ada manusia sempurna. Yang ada hanya hati yang belajar menerima.” Ia memandangku lama. Matanya berubah — dari gelisah menjadi sedikit tenang. “Toss.” katanya sambil mengangkat gelas. Aku membalasnya. Dua jam kemudian, tepat saat filsafat mulai pudar dan alkohol mulai menang… Wanita itu mabuk berat. “ Take me to your room. “ katanya memelukku sambil berbisik Aku pun harus memapahnya keluar dari kafe Shanghai, menyusuri lorong hotel yang panjang, berharap resepsionis tidak salah paham. Aku tersenyum getir. Di dunia teori, kita bicara tentang kebebasan, spiritualitas, dan ego. Di dunia nyata… yang terjadi justru aku menggotong seorang money broker bertubuh langsing usia 30an dalam keadaan mabuk ke kamar. Begitulah hidup. Kadang orang datang mencarimu untuk mendapatkan jawaban dan pulang dengan dibopong.