Saya temui tamu dari Singapore di Café hotel tempat dia nginap di bilangan Senayan. Yulia membuka percakapan dengan nada ragu. Ia sahabat saya yang mengajar pada kampus di luar negeri. Dia Singaporean.
“Hampir semua studi regresi linier di keuangan investasi terasa tidak menjawab realitas. Kalau hanya mengikuti itu, untuk apa saya mengajar S3?” katanya.
Saya tersenyum. “Saya sudah di sini. Tanyakan saja.”
Ia langsung ke inti. “Apa yang Bapak tahu tentang Ray Dalio?”
Saya jawab singkat—pendiri Bridgewater, pelopor pendekatan makro-kuantitatif, terutama lewat strategi risk parity.
“Kenapa investor percaya?” tanyanya.
“Karena dibungkus pendekatan akademis—seolah return bisa diproyeksikan dengan error kecil. Padahal, itu sangat tergantung asumsi,” jawab saya.
Ia mengangguk. “Bisa jelaskan teknisnya?”
Saya letakkan cangkir kopi. “Dalam teori portofolio modern baca dech Markowitz , risiko diukur dengan varians atau volatilitas. Portofolio tradisional 60/40 memang terlihat seimbang secara nominal, tapi tidak secara risiko. Secara empiris, sekitar 85–90% risk contribution berasal dari ekuitas karena volatilitasnya jauh lebih tinggi dibanding obligasi.”
Dia menyimak.
Saya lanjutkan “Risk parity mencoba memperbaiki ini. Prinsipnya bukan membagi modal, tapi membagi kontribusi risiko. Secara sederhana gini, risiko portofolio dihitung dari matriks kovarians antar asset. Lalu tiap aset diatur bobotnya agar kontribusi terhadap total volatilitas sama besar. Nah karena obligasi volatilitasnya rendah, maka bobotnya biasanya diperbesar, sering dengan leverage, agar setara dengan saham”
Yulia langsung menyela. “Jadi leverage itu kunci?”
“Betul,” jawab saya. “Tanpa leverage, risk parity tidak akan ‘balance’. Dalam praktik, mereka pakai futures atau repo untuk memperbesar eksposur obligasi.”
Ia berpikir sejenak. “Risikonya di mana?”
Saya jawab pelan. “Ada tiga titik lemah utama. Pertama. Dependensi pada korelasi negatif saham–obligasi. Model ini asumsi bahwa saat saham turun, obligasi naik. Tapi saat inflasi tinggi atau suku bunga naik, keduanya bisa jatuh bersamaan.. Kedua. Interest rate risk, Karena overweight di obligasi, sering duration panjang, kenaikan yield bisa menghantam portofolio cukup dalam. “ Kata saya.
“ Terus, ketiga?
“ Leverage risk. Saat volatilitas naik, terjadi margin call ya forced deleveraging itu akan memperparah drawdown.” Kata saya tersenyum. “Secara matematis, mereka mengandalkan stabilitas kovarians matrix. Padahal itu tidak stasioner. Dalam krisis, korelasi mendekati 1. Semua jatuh bersama.”tambah saya.
Yulia mengangguk pelan. “Kalau begitu, kenapa tetap dipercaya?”
Saya tersenyum. “Karena ‘magic word’.”
Ia tertarik.
“Strategi ini di-endorse jurnal akademis, didukung konsultan seperti EY, PwC, KPMG, dan dijalankan oleh institusi besar seperti BlackRock dan JPMorgan.” Kata saya dan berhenti sebentar memberi ruang dia mencerna.
“Dalam behavioral finance, ini disebut authority bias dan social proof. Investor cenderung percaya karena ada legitimasi institusional, bukan semata karena memahami modelnya.” Lanjut saya.
Yulia menatap saya. “Jadi ini bukan sekadar model matematis?”
“Bukan,” jawab saya. “Ini ekosistem kepercayaan.”
Saya lanjutkan dengan analogi sederhana “Seperti pemilu—ada lembaga survei, regulator, dan hasil resmi. Secara teknis mungkin kompleks, tapi secara sosial, legitimasi membuat hasilnya diterima sebagai ‘kebenaran’.”
Yulia tersenyum tipis. “Berarti kebenaran di pasar itu… dikonstruksi?”
Saya angkat cangkir kopi. “Sebagian oleh data. Sebagian oleh asumsi. Dan sebagian besar… oleh siapa yang dipercaya.” Kata saya tersenyum.
“ B, berkat rekomenndasi kamu. Yuan tetap beri dana CSR untuk riset kampus kami. Terimakasih “ Kata Yulia. Saya senyum aja. Saya bayar bill dengan menyerakan CC Palladium. Dia sempat melirik dan tersenyum.