Angel investor

Arsip Terupdate
Angel investor Ada anak muda yang sudah berkali kali kirim email ke saya untuk bertemu. Akhirnya setelah 3 bulan. Tadi sebelum ketemu teman, saya sempatkan ketemu dia. Dia salami saya dengan rasa hormat sebagai orang tua. Setelah ngobrol santai, dia sampai kepada tujuanya ketemu saya. “ Bapak udah baca proposal yang saya ajukan. “ “ Sudah.” kata saya singkat. “ Gimana ? Apa ada yang kurang atau memang tidak layak? “ Pertama, kamu sudah punya basic yang kuat sebagai importir casing dan cover hape berbagai merek. Kedua, kamu sudah kuasai produck knowledge. Ketiga. Kamu tidak punya pengalaman manufaktur khususnya moulding accessories hape. Ke4, timing tepat, karena accessories hape termasuk yang kena kenaikan tarif impor AS. Jadi peluang relokasi ke Indonesia sangat besar. Karena indonesia tidak kena kenaikan tarif masuk ke AS“ “ Jadi ..” “ Ya mau kamu apa ? tanya saya balik. Dia terdiam. Saya diamkan juga. “ Pak..” Serunya. Mulai ada keberanian bicara. “ Apakah bapak bisa jadi angel investor saya? Saya tersenyum. Udah ketebak arahnya. “ Ada syaratnya “ kata saya. “ Apa pak ? “ Cari pabrikan di China yang mau jadi mitra kamu soal tekhnologi. Saya bantu network teknologi dan market, tetapi saya tidak bisa menjamin kamu. Semua tergantung effort kamu yakinkan mereka. Saya tidak beri modal untuk bangun pabrik. Tetapi saya akan beri modal untuk business process sampai layak untuk investasi. Setelah itu kamu akan saya beri network financing untuk kamu fight yakinkan mereka. Gimana? Kata saya. “ terimaksih pak. Terimakasih” Katanya. Dia langsung ambil tangan saya dan jabat erat. “ ya udah. Selanjutnya buat action plan. Kirim email ke saya. Buat detail kebutuhan cost untuk melewati business process itu. “ Kata saya. Dia mengangguk dengan semangat. Hanya 10 menit saya harus pergi ketemu teman. Saya sering bertindak sebagai angel investor. Sebagai catatan saja. Dari 10 start up bisnis, 9 gagal. Kalau gagal yang jelas saya korban uang. Artinya tingkat sukses nya hanya 10%. Mengapa ? karena saya tidak tongkrongi dan bawelin dia. Saya dengar rencana dia dan saya arahkan sesuai dengan pengalaman saya. Umumnya kegagalan terjadi karena dia tidak focus. Lama lama hanya menikmati ongkos dari business process. Dia lupa. Saya ada limit budget untuk dia. Kalau lewat limit, progress nya hanya cerita, ya saya cut loss dan lupakan.