Saham jatuh

Arsip Terupdate
“Le, kenapa saham bank Himbara sama BCA pada jatuh?” tanya Deni saat ketemu di loby kantor bank asing “Terutama kenapa asing pada keluar?” Saya tersenyum tipis. “Karena investor asing mulai melihat risiko ke depan, bukan sekadar kinerja sekarang.” “Risiko apa?” “Mereka melihat potensi intervensi pemerintah ke bank Himbara. Mulai dari penugasan kredit bernuansa populism. Itu berarti ada tekanan ke Net Interest Margin dan potensi penurunan kualitas aset ke depan, atau NPL bisa naik.” Kata saya. Deni menyimak. “ Kalau itu terjadi, otomatis equity risk premium Indonesia naik. Investor minta return lebih tinggi. Nah, supaya return itu ‘masuk’, harga saham harus turun.” Deni mengernyit. “Maksudnya?” “Sederhana. Pakai pendekatan Gordon Growth Model. Harga saham itu kira-kira hasil dari earning dibagi selisih antara required return dan growth. Jadi kalau required return naik, sementara growth tidak naik sebanding… ya harga saham pasti turun.” Deni mengangguk pelan. “Oke… tapi kenapa turunnya cepat dan konsisten sejak tahun lalu?” “Karena struktur pasar kita,” jawab saya. “Pasar Indonesia itu sangat tergantung pada foreign flow. Free float bank-bank besar didominasi asing. Jadi begitu asing keluar, terjadi forced selling.” Saya tegaskan, “Supply saham jadi lebih besar dari demand lokal. Harga pasti jatuh. Itu yang terjadi di BBCA dimana net sell Rp24 triliun, harga turun sekitar 25%. Bukan karena labanya turun, tapi karena liquidity shock.” Deni mulai serius. “Tapi negara lain juga kena koreksi, kenapa Indonesia lebih dalam?” “Itu faktor global,” saya jawab. “Sekarang yield US Treasury naik, USD menguat. Dalam kondisi seperti itu, emerging market dianggap lebih berisiko. Itu udah berlangung sejak awal tahun” Deni mengangguk. Saya lanjut. “ Akibatnya terjadi yang namanya risk-off rotation. Investor global rebalancing, dana ditarik balik ke US. Itu bukan hanya Indonesia, tapi kita kena lebih dalam karena faktor domestik.” “Faktor domestik apa?” “Policy uncertainty,” saya jawab tegas. “Ini yang paling ditakuti pasar. Market uncertainty itu biasa, ada modelnya, bisa dihitung. Tapi kalau kebijakan berubah-ubah, tidak konsisten, itu tidak bisa dipricing.” Saya menatap Deni. “Kalau policy sudah tidak jelas, bagi investor itu simple, better walk away.” Deni diam. Saya lanjut, “Belum lagi isu kelembagaan. Ketika bank yang sebagian besar asetnya adalah dana publik dikaitkan dengan entitas seperti Danantara yang juga bermain di portfolio management global, itu menimbulkan konflik persepsi risiko.” Saya tarik napas. “Market langsung membaca, ini bukan lagi purely commercial banking. Ada potensi tekanan non-market.” Kata saya . “ Kalau dilihat dari sisi hedge fund?” Tanya Deni tersenyum. Saya tersenyum tipis. “Mereka tidak tanya, Bank ini untung berapa? Tapi, apakah sistem ini masih bisa dipercaya 3–5 tahun ke depan?’” Saya berhenti sejenak. “Dan begitu indicator mendukung jawabannya mulai abu-abu…Mereka keluar dulu. Pikir belakangan. Engga ada urusan lobi kita kencang ke Trump atau ke boss Black Rock. Deni mengangguk pelan.Saya tutup dengan nada datar, “Sejak isu pengelolaan bank Himbara berubah arah, kepercayaan asing mulai goyah. Kalau BCA ikut kena… itu bukan karena dia lemah, tapi karena pasar tidak lagi melihat sistemnya sebagai sepenuhnya aman. Dia berada di tempat yang salah!