keadaan perbankan

Arsip Terupdate
Keadaan perbankan sekarang. Saya mau menganalisasi keadaan perbankan kita. Tentu tidak secanggih Sarjana Ekonomi. Maklumi saja sebagai Analisa anak SMK ekonomi. Menurut OJK, system perbankan kita sangat kokoh. Karena capital adequacy ratio ( CAR) atau rasio kecukupan modal sebesar 26,69% ( agustus 2024. ). Artinya dari 100 asset , sebesar 26,69 merupakan modal disetor. Berdasarkan data ini memang tidak perlu sedikitpun ragu tentang kekuatan perbankan nasional. Namun ada data lain yang harus kita pertanyakan kekokohan modal perbankan itu, sebagai berikut. Data bunga kredit perbankan tahun 2024 ( modal kerja dan investasi ) ada pada (+/-) 9,5%/ tahun. Padahal bunga deposito hanya 4,7%. Selisih bunga kredit dan bunga deposito cukup lebar yaitu (+/-) 4,8%. Atau dua kali lipat dari bunga deposito. Artinya, cost of money dari bunga kredit yang ditetapkan bank kepada debitur itu sangat besar. Bandingkan bunga kredit bank di Singapore dan Malaysia hanya 5,2%. China, 3,2%. Pernyebabnya ada tiga, pertama, bisa karena biaya operation bank sangat besar. Misal, Gaji besar tetapi kinerja rendah. Kedua, bisa karena premium resiko juga besar. Karena beban kredit macet besar. Tidak sebesar yang dilaporkan. Ketiga, jangan jangan CAR itu hanya window dressing. Karena kalau benar CAR itu ada, kan engga semua berasal dari dana deposito. Ada juga berasal dari modal disetor. Tentu akan menekan penetapan bunga kredit. Nyatanya engga. Kalau yang saya pertanyakan itu benar. Maka perbankan kita memang sedang bermasalah. Karena sejak tahun 2022 sampai tahun 2024. Perbankan bersaing dengan pemerintah dan BI dalam menarik dana public. BI keluarkan SRBI dan pemerintah keluarkan SBN. Kalau suku bunga Acuan BI 6%, SRBI 7%, SBN 6%, sementara bunga deposito 4,7%, ya kena tebas perbankan. Data Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 25,40% pada septermber 2024, sekarang patut diperanyatakan. Jangan jangan window dressing juga. Mengapa pemerintah dan BI bersaing dengan perbankan di pasar untuk dapatkan dana public? Jawabannya ( mungkin loh), sudah terlalu besar surat utang diterbitkan sehingga terpaksa dana public yang tadinya masuk ke perbankan kesedot juga. Pemerintah perlu dana untuk mentupi defisit APBN. BI perlu dana untuk operasi moneter. Sementara perbankan painful kesulitan likuditas. Dalam kondisi likuiditas terjaga, walau cost of money mahal, perbankan engga ada masalah. Tetapi kalau cost of money tinggi karena factor likuiditas ketat. Nah ini akan jadi bola salju. Karena walau BI rate turun, tetap aja bunga kredit tidak akan turun. Dan ini akan memukul sector real. Lambat laun kredit macet akan terus bertambah sampai akhirnya perbankan runtuh, sistemik effect. Saran saya, hentikan jual SBN di market dan stop lelang SRBI. Pakai skema financial engineering tarik dana ke dalam sistem tampa mengganggu aliran dana ke sistem perbankan. Amankan sektor real..