Tahun 2019, saya bertanya kepada Direktur HRD SIDC. “Apakah peserta program pelatihan manajer yang hanya tamat SMA mengikuti metode pendidikan yang sama dengan peserta sarjana?”
“Sama,” jawabnya tegas.
“Berapa yang berhasil?”
“Semua gagal.”
Emosi saya langsung naik.
“Mereka lolos seleksi karena prestasi kerja, tetapi gagal setelah masuk pusat pelatihan? Berarti puluhan jutaan dolar yang saya investasikan di Pusdiklat justru dipakai untuk menebas orang-orang terbaik dari lapangan.”
Satu jam kemudian, saya mengadakan rapat bersama CEO, HRD, kepala pusat pelatihan, dan pimpinan operasional.
“Standar kelulusan harus sama, tetapi jalan mencapainya tidak boleh diseragamkan,” kata saya. Itu logika saya.
“Bagaimana menjalankannya?” tanya Direktur HRD dengan sinis.
“ Bisnis saya 80% di China. Dari 10 orang China yang sarjana hanya 1 orang. Terus saya harus bergantung kepada 1 orang itu? Bisa stuck bisnis saya. " Suara saya makin keras.
“ Kamu tidak sedang mencari cara. Kamu sedang mempertahankan sistem yang terbukti gagal,” lanjut saya. “Bereskan barangmu. Mulai hari ini kamu keluar.”
Saya menoleh kepada James. “Ganti Director HRD “ Kata saya.
Tahun 2019 juga saya mundur total dari SIDC. Hanya jadi mentor. Belakangan saya tahu pengganti director HRD adalah Risa. Tahun 2023. Saya bertemu dengan Risa. “ Gimana dengan diklat SIDC? Tanya saya ke risa.
“ Berkembang baik dan sesuai dengan arahan Ale.”
“ Gimana metode nya?
“ Jadi ale sendiri engga tahu caranya?
Saya menggeleng.
“Hebat, main perintah ubah cara, sementara sendiri engga tahu caranya.” Risa tertawa kecil.
“ Makanya saya bayar kalian karena kalian lebih pintar dari saya.”
“ Saya jelaskan ya caranya dengan sederhana. “ kata Risa. “ Sebelum pelatihan, team HRD mempetakan penalaran numerik, komunikasi, kemampuan konseptual, pemecahan masalah, kepemimpinan, serta literasi keuangan setiap peserta.
Hasil tes digunakan untuk menyusun kelas fondasi yang berbeda. Peserta yang lemah dalam bahasa bisnis diperkuat kemampuan menulis dan presentasinya. Mereka yang belum memahami keuangan dilatih membaca anggaran, biaya, serta arus kas. Karyawan yang kuat secara teknis dibantu mengubah pengalaman lapangan menjadi konsep manajemen.
Setelah fondasinya terbentuk, barulah semua peserta masuk kelas inti dan menghadapi standar kompetensi yang sama.” Jawab risa dan saya tersenyum puas.
“ Prinsipnya sederhana, standar akhir tetap sama, tetapi diagnosis, metode belajar, dan tahap persiapannya disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Keseragaman bukan selalu keadilan. “ sambung Risa.
“ Gimana hasil kelulusan setelah metode pendidkkan diubah?
“ Banyak karyawan lulusan SMA berhasil menyelesaikan program dan berkembang cepat dalam karier. Pengalaman mereka ternyata bukan kekurangan pengetahuan, melainkan pengetahuan yang belum memiliki struktur akademis.
" Terimakasih sa.." kata saya berlinang airmata.
"Ale, saya enga perlu dimotivasi gimana hati kamu, saya kenal betul siapa kamu.Makanya saya berjuang keras membuat perubahan program diklat. Ale sebenarnya ingin memerangi feodalisme. Tapi memberantas feodalisme perusahaan juga tidak mudah, sebab diskriminasi sering bersembunyi di balik kata “standar” dan gelar akademis diperlakukan sebagai penanda kelas. Pendidikan seharusnya menemukan kemampuan, bukan sekadar menyaring ijazah."
Saya mengangguk dan risa peluk saya.Pelukan seorang wanita yang tahu pria yang dicintainya mantiko. Keras dan namun hati selembut salju