Saya sedang duduk di ruang terminal komputer safehouse ketika Aling masuk bersama Awi. Cahaya monitor memantul di kaca ruangan yang setengah gelap. Saya hanya melirik sebentar lalu kembali menatap layar Bloomberg yang terus bergerak seperti detak jantung pasar.
“Ale, gua udah print out rekening gua di Sing. Kita udah closed.” Kata Awi sambil menyerahkan map tipis ke meja.
Saya memang melarang semua file sensitif disimpan dalam bentuk digital. Saya buka sebentar laporan rekening itu. Mata saya cepat menyapu angka-angka besar yang memenuhi halaman. Setelah itu tanpa banyak bicara saya langsung berjalan ke mesin penghancur dokumen.
Namun belum sempat kertas itu masuk seluruhnya, Aling cepat menarik salah satu lembar dari tangan saya.
“Ini rekening apa?” tanyanya sambil mengerutkan kening.
“Rekening OFC buat trading NDF di market Singapore.” jawab saya singkat sambil merebut kembali kertas itu dan memasukkannya ke mesin penghancur.
Suara mesin menggerus dokumen memenuhi ruangan.
Aling masih memperhatikan saya tanpa bicara.
“Daripada bengong liatin gua, mending buatin kopi.” kata saya datar.
Dia melirik kesal lalu hendak memanggil manager safehouse.
“Gua engga mau buatan manager.” kata saya ketus.
“Ya udah, gua buat.” gerutunya.
Tak lama kemudian dia kembali membawa secangkir kopi hitam. Saya menyeruput pelan sambil menyalakan rokok.
“Cerita dong… dari mana uang sebanyak itu?” tanyanya akhirnya.
Saya menoleh ke Awi. “Jelasin, Wi.”
Awi mengangguk pelan.
“Itu profit kontrak NDF sejak tahun lalu. Awalnya modal cuma jutaan USD. Tapi karena market terus bergerak sesuai arah yang kita baca, profitnya berkembang sampai ratusan juta USD.” katanya tenang.
Aling terlihat makin bingung. “NDF itu apa sih sebenarnya?”
Awi menarik napas sebentar. “NDF itu Non Deliverable Forward. Jadi engga ada pengiriman USD fisik. Kita engga perlu beli dolar sekarang. Yang diselesaikan cuma selisih kurs saat jatuh tempo. Kita pakai underlying transaction dari trade financing buat buka posisi.” jelasnya.
“Jadi cuma main selisih kurs?” tanya Aling.
Saya mengangguk pelan. “Bedanya sama forward biasa, kalau forward normal ada penyerahan mata uang beneran waktu jatuh tempo. Kalau NDF engga. Pure settlement.” Kata saya.
Aling terdiam beberapa detik.
“Tapi kok bisa menang terus?”
Saya tidak langsung jawab. Saya bangkit lalu menyalakan layar besar di dinding safehouse. Puluhan chart, yield curve, heat map mata uang, arus modal, CDS spread, sampai order flow global langsung memenuhi ruangan.
“Itu terminal gua.” kata saya tenang.
Lalu saya memberi perintah singkat pada sistem AI yang terhubung ke terminal. “Projection USD/Asia three months forward. Combine technical, macro flow, sovereign risk and funding stress.”
Beberapa detik kemudian layar berubah. Grafik prediksi kurs tiga bulan ke depan muncul lengkap dengan support-resistance, probabilitas volatilitas, capital flow projection, hingga tekanan yield US Treasury. “Error rate model ini cuma sekitar 0,02%.” kata saya sambil menyeruput kopi.
Aling sampai geleng-geleng kepala. “Kok bisa…”
Saya hanya tersenyum kecil. Dalam dunia market modern, perang bukan lagi soal siapa paling kuat. Tetapi siapa yang lebih cepat membaca arus likuiditas sebelum orang lain sadar arus itu berubah arah.
“Terus kenapa lu berhenti main NDF?” tanya Aling lagi.
“Udah engga menarik.” jawab saya sekenanya.
“Maksudnya?”
“Marketnya udah dikerubutin hyena. Tinggal tulang doang. Lawan udah terlalu banyak. Engga tega gua” Kata saya sekenanya.
Saya menatap layar yield SBN Indonesia yang terus naik. “Setelah kurs melemah, permainan berikutnya pindah ke pasar SBN. Negara lagi butuh uang. Yield naik. Di situlah pemain besar biasanya mulai masuk. Nah ini medan gua” kata saya sambil tersenyum tipis.
“ Dasar mantiko lue Ale..lue anggap negara seperti mainan” kata aling jewer kuping saya. Saya diam saja dan tersenyum seraya seruput kopi. Lawan main saya bukan pamain receh. Tapi pemain besar. Laki laki hanya bertarung dengan lawan setimpal. Beda dengan pria gadang sarawa, menangnya lawan orang kecil.