Memimpin dengan perasaan, delusi
Saya ditanya teman, “Indonesia akan baik-baik saja?” Saya hampir menjawab. Tapi urung. Bukan karena tidak tahu. Tapi karena terlalu banyak jawaban… yang saling bertabrakan. Bayangkan saja, Menteri Keuangan kita seperti Schrödinger’s economist—dalam satu waktu bisa bilang uang banyak, utang tidak perlu. Besoknya, dengan keyakinan yang sama, bilang tanpa utang kita bisa krisis. Engga paham dia denga napa yang dia kerjakan dan omongkan.
Presiden pun tidak mau kalah. Hari ini BBM aman. Di saat yang sama, kita diminta siap menghadapi dampak kenaikan BBM. Sepertinya kita hidup di dua timeline berbeda—yang satu stabil, yang satu waspada.
Soal energi, ini lebih menarik lagi. Kita bicara ketahanan energi sambil menghentikan panel surya. Lalu menggantinya dengan membeli shale gas dari Amerika. Logikanya sederhana, daripada mandiri, lebih baik bergantung kepada AS. Menteri ESDM juga punya pendekatan unik terhadap geopolitik energi.
Lalu muncul solusi brilian, WFH untuk hemat BBM. Ide yang menarik. Dengan asumsi orang bekerja di rumah… tanpa pernah keluar rumah. Tanpa belanja. Tanpa antar anak sekolah. Tanpa hidup. Barangkali kita tidak butuh energi, kalau kita juga tidak hidup.
Di sisi lain, realitas tetap keras kepala. Daya beli melemah. PHK terjadi di mana-mana. Penerimaan pajak turun. Tapi tenang, kita tetap optimis. Karena kita punya satu strategi ampuh: utang untuk membayar utang. Ini bukan siklus. Ini… seni bertahan.
Yang lebih menarik, di tengah semua itu, kita tetap melanjutkan program populis ( MBG dan KMP) dengan percaya diri tinggi. Dengan kontribusi pertumbuhan sekitar 0,4% PDB, tapi menyerap sekitar 10% APBN. Efisiensi mungkin overrated.
Akhirnya saya menemukan jawaban untuk teman saya. Indonesia tidak seharusnya jatuh. Negeri ini terlalu besar, terlalu kaya, terlalu berpengalaman untuk runtuh begitu saja. Tapi ia bisa rusak— pelan-pelan, rapi, dan sistematis. Bukan karena kekurangan sumber daya. Bukan karena tekanan eksternal. Tapi karena satu hal sederhana yaitu kebijakan yang lebih banyak lahir dari perasaan… daripada dari sains.