ekosistem

Arsip Terupdate
Kami duduk berhadapan di sebuah ruang kecil yang sengaja tidak diberi nama. Tempat semacam ini biasanya dipilih oleh orang-orang yang ingin bicara jujur—atau setidaknya ingin didengar tanpa gangguan. Ia seorang pejabat, tapi sore itu datang tanpa pengawalan. Dari caranya memilih tempat, saya tahu: ia tidak datang untuk pidato, melainkan untuk mendengar. Ia meletakkan ponselnya di meja. Layarnya masih menyala, menampilkan headline yang belum sempat ia tutup. “Danantara,” katanya singkat. “Akan bangun BUMN tekstil. Rencana investasinya seratus triliun.” Saya menyesap kopi. Tidak langsung menjawab. “Dulu kita punya Aneka Sandang,” saya berkata pelan. “ Lalu dibubarkan.” Ia menghela napas, seperti seseorang yang sudah menyiapkan jawaban sejak jauh hari. “Zaman sudah berubah.” “Betul,” jawab saya. “ zaman betul berubah . Sampai hari ini kita tidak kemana mana. Ya kapas kita masih impor. Pewarna masih impor. Mesin masih impor. Energi mahal. Logistik panjang.” Saya menatapnya. “ kita stuck !! Ia terdiam. Saya tahu diamnya bukan penolakan. Itu jeda khas orang yang mulai menghitung, bukan dengan perasaan, tapi dengan neraca. “Saya tidak menolak tekstil,” lanjut saya. “Saya menolak ilusi. Industri ini bukan soal pabrik. Ini soal ekosistem.” Ia mengangguk kecil. “Maksudmu hulu.” “Bukan cuma hulu,” saya menyela. “Seluruh rantai. Kapas atau serat alternatif. Kimia tekstil. Air. Energi. Desain. Pasar. Kalau satu saja rapuh, seluruh bangunan goyah.” Ia menyandarkan punggung ke kursi. “Tapi ini soal lapangan kerja.” “Justru itu,” saya menatapnya lurus. “Lapangan kerja tidak lahir dari mesin. Ia lahir dari kepastian rantai nilai. Kalau kita bikin BUMN tekstil sekarang, yang kita bangun itu ketergantungan impor, yang disubsidi negara. Kan boncos lagi APBN” Ia mengernyit. “Keras amat kamu “‘ “Realistis,” jawab saya. “‘Aneka Sandang runtuh bukan karena niat buruk. Ia runtuh karena bersaing di segmen paling rapuh: komoditas murah. Dan sekarang kita mau mengulangnya—dengan nol ditambah dua?” Ia tertawa kecil. Tertawa orang yang tahu kebenaran sering kali pahit. “Seratus triliun memang terdengar besar.” “Besar itu relatif,” saya mengangkat bahu. “Kalau strukturnya salah, Rp 1 Miliar juga kegedean. Tapi kalau struktur benar Rp 100 triliun itu kecil.” Kami terdiam. Di luar, hujan mulai turun, seperti jeda yang disengaja oleh alam. “ Jadi apa usul kamu ? tanyanya akhirnya. “Orkestrator,” jawab saya tanpa ragu. “Bukan operator. Negara kunci upstream—kimia tekstil, serat alternatif. Bangun supply chain financing untuk UMKM garmen yang sudah punya pasar. Amankan offtake. Tarik teknologi lewat R&D. Jangan bangun mesin dulu.” Ia mengangguk. Kali ini lebih yakin. “Ekosistem dulu.” “Selalu,” saya berkata. “ BUMN main di provider hulu. Downstream biarkan swasta yang bertarung.” Ia menatap ponselnya lagi. Layarnya kini gelap. “Kalau saran kamu dijalankan,” katanya pelan, “banyak yang tidak sabar.” “Saya tahu,” saya tersenyum tipis. “Industri butuh waktu. Politik tidak.” Lanjut saya. Kemudian saya ceritakan bagaimana India mampu menghasilkan pengganti kapas dengan serat pohon pisang dan bambu. Bagaimana India bisa membuat substitusi pewarna yang ramah lingkungan. Bagaimana china membuat pabrik tekstil AI dan robotik. Semua itu lahir dari R&D. Itu yang membuat mereka mampu bersaing di pasar domestik maupun ekspor. Sementara kita hanya mau bangun pabrik. Teknologi dan supply chain tergantung impor. Kan sangat terbelakang cara berpikirnya Ia berdiri dan menyodorkan tangan. “Terima kasih.” Saya menjabatnya. Saat ia melangkah pergi, saya tahu percakapan itu tidak akan pernah masuk notulen, tidak akan muncul di siaran pers mana pun. Namun jika suatu hari kebijakan benar-benar berubah arah, saya akan mengingat sore itu— saat seratus triliun diletakkan di atas meja kopi, dan untuk sekali ini, kami memilih bertanya sebelum membangun.