KEMBALI
Dashboard.
Skema canggih dan culas
Arsip Terupdate
Mengapa orang kaya semakin kaya dan mengapa orang culas hidup mudah jadi kaya? Saya akan cerita skema sederhana bagaimana mereka menggarong uang publik dan bank.. Si Amin mengakuisisi PT. Madun yang terdaftar di bursa efek. Dia beli lewat bursa dan juga lewat pasar negosiasi. Dia beli engga semua. Tetapi cukup untuk kendalikan harga lewat *free float* yang kecil. Karena itu dia dapat jabatan sebagai komisaris pada Pt. Madun. Kemudian dia buat perusahaan tertutup. PT. Madas. Komisari dia sendiri. Nah saham yang dia beli lewat bursa itu atas nama PT. Madas. Kemudian dia goreng saham itu setinggi mungkin. Katakanlah dari harga Rp. 1 jadi Rp. 150. Itu artinya 150 kali kenaikan *value*. Kok bisa? ya bisalah Karena *free float* rendah. Engga perlu likuiditas gede untuk naikan saham. Setelah saham tinggi. Si Amin datangi bank untuk repo sahamnya dengan nilai Rp 100 dan dengan janji akan dibeli lagi seharga Rp. 150. Bank tertarik. Harga Repo dibawah harga pasar dan pembelian kembali dengan harga Rp. 150. Artinya kalau harga jatuh, bank tetap dapat bayaran Rp. 150. Tapi ingat, repo ini tidak ada kaitannya dengan Pt. Madun. Ini murni kerjaan PT. Madas atas saham PT. Madun yang dimiliki. Setelah dapat cuan dari Bank sebesar Rp. 100. Dia sisihkan sedikit untuk likuiditas menjaga agar sahamnya engga jatuh di bursa. Kok mudah banget? ya jelaslah mudah. Walau keduanya entity berbeda, namun keduanya dia sendiri yang punya. Secara tidak langsung terafiliasi. Jadi apa sulitnya atur harga. Kalau sampai akhirnya pasar modal crash, yang tekor bank. Dia tinggal topup saham ke bank sebagai **collateral**. Kalau engga cukup ya sudah. Tinggal tunggu pemerintah *bailout* bank itu lewat kebijakan Bank Indonesia. Sementara dia tetap kaya, bisa bayarin makan elite politik, dan manjain selir. Mudah kan. --- # Bandit bursa Di Indonesia, merampok uang orang bisa berurusan dengan polisi. Tetapi mengambil keuntungan dari investor ritel melalui rekayasa struktur modal perusahaan bisa tampil dengan nama yang jauh lebih terhormat: **corporate action.** Pelakunya tidak perlu memakai topeng. Cukup mengenakan jas, membawa prospektus, menyewa konsultan hukum, akuntan publik, dan penasihat keuangan. Semuanya dibungkus dengan istilah profesional yang sulit dipahami investor kecil. Mari kita lihat cara kerjanya. Sebuah perusahaan melakukan IPO dengan melepas 20% saham kepada publik. Investor ritel membeli saham berdasarkan valuasi pasar. Uang masuk ke perusahaan. Pemegang saham pengendali tetap menguasai 80%. Tahap berikutnya , perusahaan menerbitkan surat utang. Menariknya, pembeli surat utang itu adalah pihak terafiliasi. Bisa perusahaan saudara, perusahaan dalam kelompok usaha yang sama, atau entitas yang pemilik manfaat akhirnya masih berhubungan dengan pengendali. Tentu alasannya sangat mulia: memperkuat struktur permodalan, mendukung ekspansi, dan meningkatkan nilai perusahaan. Kalimat-kalimat yang indah. Hampir semua aksi korporasi selalu mengatasnamakan kepentingan perusahaan. Selanjutnya , datanglah babak yang lebih menarik. Perusahaan mengumumkan private placement. Utang kepada pihak terafiliasi dikonversi menjadi saham baru. Investor publik yang semula menguasai 20% kini tinggal 10%. Jumlah saham mereka tidak berkurang, tetapi hak kepemilikannya terdilusi separuh. Sementara pemegang saham pengendali dan kreditur terafiliasi, apabila berada dalam satu kelompok ekonomi, tetap dapat menguasai 90% perusahaan. Hebat sekali. Investor publik masuk membawa uang tunai, sementara kelompok pengendali dapat memperoleh tambahan saham melalui utang yang mereka ciptakan sendiri. Tentu, konversi utang yang nyata dan dilakukan pada harga wajar tidak otomatis merugikan investor. Tetapi bagaimana kalau utangnya tidak memiliki substansi ekonomi yang memadai? Bagaimana kalau harga konversinya terlalu murah? Bagaimana kalau sejak awal utang itu memang disiapkan sebagai jalan belakang untuk menerbitkan saham kepada kelompok sendiri? Itu sering terjadi di BEI dan selalu yang korban investor retail dan OJK pura pura bego. BEI itu wahana merampok orang tolol yang tinggi nafsu mau kaya mudah. Dan tempat terbaik bagi bandit pasar modal yang berdasi dan rahi lebar