deposit on call

Arsip Terupdate
Pintu kamar kerja Awi tertutup rapat. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya sore Jakarta jatuh miring ke meja. Saya duduk di kursi tamu, menautkan jari. “Wi,” saya bertanya pelan, seolah pertanyaan itu tidak ingin didengar tembok, “ berapa deposit on call di Singapura yang masih binding dengan Jakarta?” Awi tidak langsung menjawab. Ia menatap layar computer beberapa detik, seakan memastikan angka itu tidak berubah hanya karena saya menanyakannya. “Tinggal USD 30 juta,” jawabnya akhirnya. Saya mengangguk singkat. “Minggu depan tarik semua,” kata saya tenang. “ Kita keluar.” Awi menoleh cepat. Matanya menyipit, bukan karena kaget, melainkan karena ia sepenuhnya paham implikasinya. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada debat. “Baik,” katanya singkat. Saat itulah suara muncul dari arah pintu. “Sebentar.” Pintu terbuka. Aling masuk. Tatapannya berpindah dari saya ke Awi. Baru saya sadar, ia sudah berdiri di balik pintu sejak awal. “Wi,” katanya tajam, “ apaan itu deposit on call? Kenapa Singapura bisa ngiket Jakarta?” Awi terdiam. “Kenapa diem?” bentak Aling. “ Takut lu sama si Padang jelek?” Mata aling kesaya. Saya mengangguk ke arah Awi. Isyarat singkat, jelaskan saja. Awi menarik napas. “Deposit on call itu dana likuid yang ditempatkan di bank luar negeri, biasanya Singapura,” kata Awi datar. “ Secara teknis, itu cuma bukti dana. Duitnya nggak pindah ke Jakarta. Nggak masuk BEI. Cuma dibinding.” Awi melirik Aling. “Tenang aja,” tambahnya singkat, “ kita nggak pakai buat elus telur politisi.” “Terus buat apaan?” potong Aling. “Buat liquidity buffer,” jawab Awi. “Buffer buat apa?” “Buat pemain di pasar modal,” Jawab Awi “ Untuk apaan itu. Kan hanya bukti dana. “ Kejar Aling. “ Deposit on call itu dijadikan underlying untuk dapatkan likuiditas dalam negeri, Ya dari bank, Dapen. Nggak tercatat di BEI, tapi dipakai sebagai comfort buat broker, market maker, sama clearing member.” Awi berhenti. Aling menatap tajam. “Terus?” Awi menggaruk kepala. “Dengan adanya deposit on call itu,” kata Awi melanjutkan, “ broker bisa ambil posisi lebih gede. Repo lebih longgar. Margin call bisa ditunda. Market maker berani jaga bid-offer lebih dalam.” “Artinya,” sela Aling pelan, “ likuiditas kelihatan tebal.” “Betul,” jawab Awi. “ Pasar kelihatan cair, seolah duit domestik banyak. Padahal itu psikologis. Duit benerannya tetap dari bank dalam negeri.” Awi menatap saya sekilas. “Bank berani kasih kredit ke pemain bursa karena ada deposit on call dari Singapura. Ada cover story.” “Artinya karena on call,” sambung aling, “ orang merasa aman. Merasa ada dana yang bisa turun kapan saja.” Awi mengangguk “ Selama deposit itu ada, tekanan bisa ditahan. Kredit bank lancar. Begitu ditarik, depth langsung hilang. Spread melebar. Volatilitas naik.” Aling menyeringai sinis. “Dan lu kenain bunga di atas bunga bank?” “Ya jelas,” jawab Awi santai. “ Namanya bisnis. Kalau bisa dijual, ya jual setinggi-tingginya.” Aling terdiam. Lalu wajahnya berubah seketika. “Gila lue pada ,” katanya keras. “ Lu orang nggak pernah ilang mantikonya.” Aling menatap saya tajam. “Udah tua masih aja hobi ngerusak. Itu tipu namanya. Yang lu tipu negara. Orang kecil.” Saya diam. “Ling,” kata Awi tenang,” lu tenang. Kita bisa jelasin. Kita nggak nipu. Orang datang ke kita buat dapat posisi. Mereka yang minta deposit on call. Kita kasih. Kita sendiri nggak main di bursa.” “Ah, itu sama saja. Engga maling tapi bantu orang maling. Dasar otak mantiko” sembur Aling. “ Udah kayak pemerintah lu. Banyak ngelesnya. Sekali mantiko, tetap mantiko.” Saya pura-pura batuk. “Permisi,” kata saya. Saya keluar menuju toilet. Di dalam, saya kirim pesan ke Awi,” Kita cabut aja. Temenin gue makan di Borobudur. Ada pejabat bank sama otoritas.” Saya keluar. Langsung melangkah pergi. “Kemana lu?” teriak Aling. “Ada janji makan malam,” jawab saya tanpa menoleh. Awi mengikuti di belakang. Begitu masuk lift, Awi tertawa keras. “Gila,” katanya. “ Kalau liat muka lu disemprot Aling, lucu banget. Persis kaya liat lu lagi dimarahin bini.” Saya cuma tersenyum. Pasar, politik, dan manusia, pada akhirnya selalu digerakkan oleh hal yang sama, yaitu rasa aman yang dibeli mahal dan kebenaran yang datang belakangan.