Data bias
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, meyakini masyarakat semakin optimisis dengan kondisi ekonomi saat ini dan masa depan. Hal itu ia ungkap menyusul Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan November yang tercatat sebesar 125,9. Adapun angka tersebut lebih tinggi dibandingkan IKK di bulan sebelumnya sebesar 121,1.Selain itu, tutur Airlangga, survei yang dilakukan Nielsen IQ juga menunjukkan optimisme yang tinggi terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Saya ingin mengkritisi tutur kata dari Menko Airlangga. Ini penting agar publik bisa paham dan tidak menimbulkan bias. Data Menko tidak salah. Yang salah itu persepsi dia atas data. IKK dibentuk dari dua komponen utama, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Angka IEK selalu berada di atas IKE. Ya karena yang di survey mereka yang punya penghasilan diatas Rp 5 juta/bulan (0,08% populasi). Ya jelas aja optimis kerena engga bokek. Sementara lebih 50% rakyat punya penghasilan dibawah Rp 5 juta
Kalau sekarang banyak mall dan pasar modern di kota besar sepi itu bisa dimaklumi, Karena terjadinya pergeseran cara belanja ke online. Maklum konsumen mall rata rata mereka yang punya pendapatan diatas Rp. 4 juta perbulan/keluarga dan pasti punya akun ecommerce. Berbeda dengan Pasar regional dan pasar tradisional yang dikunjungi oleh konsumen dengan penghasilan rata rata dibawah Rp.4 juta/sebulan. Saat sekarang menurut Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, pasar sepi pembeli.
Survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya tren penurunan belanja. Terutama untuk kelompok masyarakat dengan pengeluaran sampai Rp4 juta per bulan. Cenderung tertahan. Sementara kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp 1-2 juta mengurangi konsumsi. Itu kerana PHK terus terjadi.
Nah mengacu kepada standar pengeluaran dari Bank Dunia, jumlah mereka yang punya pengeluaran dibawah 4 juta dibagi tiga kelompok. Kelompok pertama, pengeluaran Rp532.000 - Rp1.200.000 per orang sebulan., Jumlahnya ada 114,7 juta. Kelompok kedua, pengeluaran Rp 354.000 - Rp532.000 per orang sebulan. Jumlahnya ada 61,6 juta. Ketiga, pengeluaran di bawah Rp 354.000 per orang sebulan, Jumlahnya ada 28 juta. Jadi total populasi dengan pengeluaran Rp. 4 juta / bulan/ keluarga ada 204,3 juta atau 75% dari populasi Indonesia.
Dampak dari melemahnya kemampuan belanja 75% penduduk Indonesia itu dirasakan langsung oleh Bank Perkreditan Rakyat. Menurut LPS, rata-rata sebanyak 6-7 BPR yang gulung tikar setiap tahun. Kredit macet pinjol terus meningkat. 1/4 perusahaan pinjol terjebak kredit macet.
Survey politik silahkan rekayasa dan buat persepsi sesukanya. Tapi ini soal ekonomi. Jangan main main. Karena ini urusan perut mayoritas rakyat. Fakta dan data mudah diketahui dan dirasakan. Sudahilah membodohi rakyat terus..fokus kerja bagaimana memperbaiki ekonomi mayoritas rakyat yang nyungsep.