Negeri yang Tumbuh dengan Kartu Kredit

Arsip Terupdate
Ekonomi tumbuh. Pejabat tersenyum, grafik diberi warna hijau, lalu rakyat diminta bertepuk tangan. Tidak perlu bertanya dari mana pertumbuhan datang. Dalam ekonomi modern, pertanyaan kadang lebih berbahaya daripada defisit. Ketika dunia usaha ragu berinvestasi, pemerintah berbelanja. Ketika daya beli melemah, stimulus dibagikan. Ketika penerimaan tidak mencukupi, surat utang diterbitkan. Uang beredar, konsumsi bergerak, dan statistik kembali tersenyum. Utang tentu bukan dosa jika digunakan untuk membangun kegiatan produktif. Namun ia menjadi masalah ketika sekadar mempertahankan penampilan pertumbuhan, sementara swasta menghadapi aturan yang berubah, biaya tinggi, impor murah, dan kepastian hukum yang sulit dihitung. Modal tidak selalu takut pada biaya mahal. Modal paling takut pada biaya yang tidak dapat diperkirakan. Pabrik pun tidak selalu hengkang dengan upacara perpisahan. Pesanan perlahan dialihkan, investasi dibatalkan, mesin tidak diperbarui, pekerja dikurangi, lalu suatu pagi gerbangnya tidak lagi dibuka. Pemerintah kemudian membentuk satuan tugas untuk mencari penyebabnya. Mereka rapat di hotel, menyewa ruangan, memesan makanan, dan meningkatkan konsumsi pemerintah. Ekonomi kembali tumbuh. Negara berutang untuk mendorong pertumbuhan. Pertumbuhan dijadikan bukti bahwa utang masih aman. Pajak dipungut untuk membayar kewajiban. Ketika swasta semakin lemah, pemerintah kembali berbelanja agar angka pertumbuhan tidak ikut jatuh. Ekonomi tampak berlari, padahal berada di atas treadmill fiskal: kakinya bergerak cepat, keringatnya nyata, tetapi jaraknya tidak banyak berubah. Pajak seharusnya menjadi buah dari ekonomi yang subur, bukan diperas dari dunia usaha yang sedang kehilangan kepastian. Utang seharusnya menjadi jembatan menuju produktivitas, bukan karpet untuk menutupi retakan. Jika pertumbuhan hanya dapat dipertahankan dengan utang baru, kita bukan sedang menciptakan kemakmuran. Kita hanya meminjam suasana makmur dari masa depan. Seraya mengubur masa depan itu sendiri.